Kebaktian STT Intim 28 Agustus 2000

Mazmur 119:105 "FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku"

Khotbah tentang simbol-simbol logo STT Intim

 

 

Saudara-saudari yang kekasih dalam Yesus Kristus,

 

kita telah memasuki semester baru, dan minggu ini kebanyakan kuliah akan dimulai. Jadwal semester sudah jelas, tetapi bagaimana hasil dan sukses semester ini tergantung pada banyak faktor dan memang belum bisa diprediksikan. Sebagai mahasiswa, tetapi juga sebagai staff dan dosen atau anggota Yayasan yang memasuki periode baru, kita mau siap menghadapi tantangan-tantangan yang mungkin belum tampak sekarang, baik dalam kehidupan kampus maupun di keluarga masing-masing.

 

Beberapa di antara kita bukan hanya memasuki semester baru, tetapi fase yang baru dalam hidup mereka. Saudara-saudari angkatan 2000 telah meninggalkan keluarga, teman-teman sekolah, jemaat dan kampung mereka. Kalian mulai studi disini pasti dengan penuh semangat dan harapan-harapan, tetapi juga tidak bebas dari kekuatiran: Bisakah saya memenuhi tuntutan akademis di sini dan harapan dari orang tua dan gereja saya? Apakah pilihan untuk studi teologi ternyata akan terbukti sebagai benar-benar panggilan untuk saya? Apakah dana akan cukup untuk kuliah saya sampai selesai? Bagaimana keadaan keluarga saya dalam krisis sekarang ini sementara saya kuliah disini? Bagaimana saya bisa menyesuaikan diri dan merasa kerasan di lingkungan yang baru? Apakah saya akan akrab dengan teman-teman baru disini?

 

Jalan di depan kita belum kelihatan dengan jelas, seperti dalam lorong yang gelap  atau paling tidak dalam kabut. Apa yang akan menjadi orientasi saya dalam perjalanan ini? Di mana saya bisa memperoleh kemantapan, kalau menjadi ragu-ragu? Kepada siapa saya bisa percaya kalau kaki saya menjadi lemah atau saya terancam jatuh?

 

Ayat mazmur yang tadi memberi jawaban yang jelas: "FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku". Tetapi sepertinya jawaban itu masih sangat abstrak - khas jawaban seorang teolog.

Apa artinya, dan bagaimana Firman Allah bisa menjadi terang dan orientasi dalam perjalanan kita ke depan?

 

Untuk memahami itu secara lebih konkrit, saya mau mengambil ketiga simbol yang ada dalam logo atau lambang STT Intim ini: salib, alkitab dan lilin. Dan saya yakin kalau ketiga simbol ini menjada perlengkapan dan perbekalan untuk perjalanan kita, tidak perlu kita kuatir akan jalan ke depan.

 

Pertama, simbol salib. Ada banyak buku dan bahkan skripsi yang menulis panjang-lebar tentang makna simbol salib itu, tetapi saya tidak mau mengulangi semua yang saya belajar dari sana, hanya beberapa asosiasi yang penting saja. Simbol salib sering disalahgunakan sebagai alat yang magis, obyek penyembahan, sebagai simbol identitas yang eksklusif atau kemenangan bahkan dalam perang. Padahal, salib adalah simbol kerendahan, simbol cinta kasih yang lebih kuat dari pada kebencian, simbol kehidupan yang telah mengatasi semua kekuasaan kematian. Misalnya salib ini, yang berasal dari El Salvador di Amerika Latin, diwarnai dengan simbol-simbol kehidupan.

 

Kematian Yesus di salib dan KebangkitanNya memperlihatkan pertama-tama solidaritas Allah dengan manusia yang menderita, dan anugerah Allah untuk mendamaikan dunia dan manusia (yang berada dalam dosa dan kegelapan) dengan diri sendiri dan dengan sesamanya.

 

Jadi ada dua aspek yang memberi orientasi kepada kita, kalau Firman tentang salib menjadi terang bagi jalan kita: 1) rekonsiliasi vertikal antara kita dan Allah - hubungan dalam doa dan kebaktian spiritualitas hidup sehari-hari; dan 2) rekonsiliasi vertikal antara kita dengan sesama mahasiswa, dosen, tetapi juga saudara-saudara di luar kampus yang berpendapat atau beragama lain. Mari kita mencoba setiap hari mendekati makna kedua aspek itu: karunia perdamaian antara kita dan Allah (½) dan antara sesama manusia dan ciptaan (¾). Hubungan ini (½) dengan ini (¾) saling berkait dan tidak dapat dipisahkan tanpa merobek-robek salib Kristus. Dan mungkin kedua aspek ini - kehidupan spiritual dan kehidupan persekutuan - tidak akan dilupakan lagi kalau melihat simbol salib dalam logo STT Intim.

 

Simbol kedua adalah suatu buku. Tidak jelas apakah buku itu merupakan Alkitab atau salah satu buku lain dari pepustakaan STT. Saya teringat pada seorang dosen saya di German yang pernah bilang: untuk seorang Kristen ada dua bacaan harian yang wajib: Alkitab dengan Surat Kabar. Jelas bahwa untuk seorang mahasiswa teologia, orientasi pertama adalah Firman Allah seperti disaksikan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tetapi sudah tentu bahwa dia tidak akan lulus kalau dia hanya mau membuka satu buku itu saja. Banyak buku dan majalah yang menunggu kalian di pepustakaan di atas, apa lagi sumber-sumber Internet yang dapat diakses lewat Komputer.

Alkitab dalam gambar Logo STT adalah buku yang terbuka. Yang bukan hanya mau dibaca, tetapi juga dihubungkan dengan realitas kehidupan. Yang mau dibaca adalah teks dan konteks, alkitab dan surat kabar, adalah pemahaman manusia yang dulu dan kebutuhan manusia yang kita jumpa sehari-hari. Dengan sikap yang terbuka inilah maka kita akan mengalami bahwa Firman Allah menjadi terang bagi jalan kita.

 

Akhirnya simbol yang ketiga adalah sebuah lilin. Dalam lilin juga dikandung dua aspek. Yang pertama sudah di jelaskan dengan motto STT Intim yang ditulis di sana: IN CHRISTUS LUX MUNDI CRESCIT (pasti semua tahu arti kalimat latin itu... dalam Kristus terang dunia bersinar/bercahaya). Dengan kata alkitab: Kristus adalah terang dunia (Yoh 8:12). Ialah Firman yang hidup yang dapat memberi terang pada jalan kita yang masih dalam kabut. Jangan kita takut harus berjuang dan menyelamatkan diri sendiri - atau bahkan menjadi sombong sebagai seorang teolog seolah-olah kita yang memiliki terang itu. Kalau hanya percaya pada diri sendiri, kita cepat akan kehilangan harapan kalau tiba-tiba tersesat dalam "lembah kekelaman" (Mazmur 23:4).

 

Di sisi lain, kita juga diundang untuk membagi terang itu dengan dunia di sekitar kita. Tidak bisa disimpan untuk kita sendiri. "Kamu adalah terang dunia" (Mat 5:14). Ini misi yang tidak memaksa orang, tetapi hadir untuk membagi berkat Allah dengan orang lain, secara spiritual dan secara material. Dan misi ini bukan bagi kepentingan kita sendiri atau gereja saja, tetapi kita harus siap untuk melayani - seperti lilin yang mengorbankan diri dalam proses menyala.

Mungkin dalam hal ini kita juga di dalam Kampus masih sering "mati lampu". Tetapi marilah kita coba bercahaya sedikit ke luar, dan memberi contoh bahwa memang adalah mungkin untuk hidup bersama dengan damai dalam persekutuan yang majemuk dan terbuka, dan adalah mungkin untuk memecahkan ketegangan atau konflik yang wajar dengan cara yang konstruktif.

 

Jadi, saya kira ketiga simbol ini sangat cocok untuk menjadi perlengkapan dan perbekalan untuk kita semua dalam semester ini. Dan mungkin sudah waktunya kita ganti motto bahasa latin ini dengan ayat yang lebih kontekstual itu:

 

"FirmanMu itu pelita bagi kakiku

dan terang bagi jalanku".

 

Amin.