PASKAH ADALAH POLITIK PEMBERDAYAAN ALLAH

(Telah dimuat di  Harian Fajar Makassar, hlm. 1& 12, tanggal 27 Maret 2005

 dan

 Pedoman Rakyat Makassar, hlm. 1 &6, tanggal 27 Maret 2005)

 

Julianus Mojau

 

 

 

I

 

Salah satu tradisi iman dalam Kekristenan adalah Tradisi Iman Paskah. Tradisi ini bukanlah tradisi khas Kekristenan. Agama Kristen perdana atau biasanya disebut juga jemaat mula-mula mengambil  tradisi ini dari tradisi agama Yahudi. Dalam  tradisi agama Yuhudi paskah merupakan perayaan keagamaan yang mempunyai makna penting berhubungan dengan sejarah bangsa ini sebagaimana dicatat dalam tradisi Kitab Suci Perjanjian Lama. Para ahli Kitab Suci Perjanjian Lama, Ch. Barth dalam bukunya Theologia Perjanjian Lama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1984) misalnya, mencatat bahwa Tradisi Iman Paskah merupakan tradisi iman Isarel yang paling  tua yang berkaitan langsung dengan pembentukan identitas mereka sebagai umat Allah, baik secara teologis maupun politis melalui Peristiwa Keluaran dari Mesir, tanah perbudakan!(Ch. Barth: 130-147). Jadi, Tradisi Iman Paskah dalam tradisi Kitab Suci Perjanjian Lama adalah tradisi iman yang bersifat teologis dan sekaligus politis. Apa yang dialami oleh Israel melalui Peristiwa Keluaran ialah tindakan politis pemberdayaan Allah sehingga mereka boleh menemukan diri mereka sebagai orang-orang yang memiliki matrabat (dignity).

 

Dalam  tradisi Kitab Suci Perjanjian Baru--- terutama sekali dalam tradisi Kitab-Kitab Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) dicatat bahwa Tradisi Iman Paskah itu dikaitkan dengan masa-masa sengsara Yesus. Tradisi Kitab Injil Markus,misalnya, mencatat bahwa Yesus memperingati Tradisi Iman Paskah atau Hari Raya Roti Tidak Beragi itu dalam kaitannya dengan semakin dekatnya masa penyaliban-Nya(lihat Markus 14:12-21//Matius 26:17-25//Lukas 22:7-14//Yohanes 13:21-30). Sedangkan Kekristenan Perdana memperingati Tradisi Iman Paskah itu dikaitkan dengan Peristiwa Kebangkitan Yesus. Seperti dicatat oleh Henk ten Napel dalam bukunya Jalan Yang Lebih Utama Lagi: Etika Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988), bahwa Paskah dalam arti Kebangkitan Yesus Kristus adalah titik permulaan Kerajaan Allah yang eskatologis atau, suatu titik permulaan hidup baru yang terantisipasi dalam realisme hidup kekiniaanMaka dari itu, Kebangkitan Yesus Kristus sangatlah menentukah oreintasi sikap-etis Kekristenan Perdana dalam kehidupan sehari-hari.Yaitu: mereka selalu  kritis terhadap kekuasaan hegemonis Kekaisaran Romawi (ten Napel: 65-67).

 

II

 

Uraian di atas memperlihatkan kepada kita bahwa Paskah dan Kebangkitan Yesus Kristus adalah suatu peristiwa yang bersifat teologis sekaligus politis. Karena itu Paskah dan Kebangkitan Yesus Kristus berarti tindakan politis Allah dalam sejarah umat manusia. Melalui Paskah/Peristiwa Kebangkitan Yesus Kristus itulah Allah menerobos belenggu-belenggu perbudakan dan kematian sosial seperti nyata dalam sistem dan struktur ekonomi, politik budaya dan agama  yang tidak adil sehingga meng-dehumanisasi-kan manusia. Dalam proses dehumanisasi itulah manusia kehilangan harkat dan martabatnya sebagai manusia gambar Allah. Padahal sebagaimana diteruskan kepada kita dalam tradisi Kitab Suci Perjanjian Lama bahwa manusia itu adalah gambar Allah (imago Dei; bdk. Kej. 1:26-27). Itu berarti bahwa tidak seorang pun manusia dapat diperlakukan hanya sebagai alat untuk kepentingan ekonomi, politik budaya dan agama. Allah yang menciptakan manusia sebagai gambar-Nya itu tidak membiarkan manusia mengalami proses dehumanisasi sebagai pilihan jalan hidupnya. Karena itu, Allah lantas mengambil insiatif dengan menerobos masuk ke dalam sejarah manusia yang sedang dikendalikan oleh kuasa-kuasa dehumanisasi seperti sistem ekonomi, politik budaya dan agama yang tidak adil dan eksploitatif. Sistem ekonomi, politik, budaya dan agama yang hanya memperdaya manusia inilah yang dibongkar oleh Allah melalui Paskah atau Kebangkitan Yesus Kristus. Melalui Paskah atau Kebangkitan Yesus Kristus itulah Allah membongkar  kedok kekuasaan ekonomi, politik dan budaya serta agama yang hanya memperdaya rakyat  dan  membuka perspektif baru untuk menghayati kekuasaan ekonomi, politik, budaya dan agama, yaitu kekuatan ekonomi, politik, budaya dan agama  sebagai kekuatan pemberdayaan rakyat!  Berita Paskah atau Kebangkitan Yesus Kristus adalah berita politik pemberdayaan Allah sebagai antisipasi terhadap Kerajaan-Nya yang akan digenapkan pada akhir zaman.

 

 

III

 

Di sini Berita Paskah menjadi berita yang membangkitkan kesadaran-kritis dan harga diri mereka yang miskin dan dimarginalisasai oleh kekuatan ekonomi, politik, budaya dan agama yang bersifat menindas dan eksploitatif. Berita Paskah atau Kebangkitan Yesus Kristus adalah berita yang memberdayakan dengan jalan menumbuhkan kesadaran kritis untuk menyadari sistem ekonomi dan politik yang menindas  dan eksploitatif yang menyembunyikan diri dalam bentuk kesalehan iman ritualistik dan kesopanan-kultural-formalistik dan bantuan-bantuan karitatif seperti pembagian beras murah dan subsidi BBM! Paskah atau Kebangkitan Yesus Kristus adalah tindakan politis pemberdayaan Allah, yaitu Allah mengorientasikan siapapun yang menghayati tindakan politis pemberdayaan-Nya itu  ke masa depan, ke Kerajaan-Nya yang akan digenapkan pada akhir zaman dengan jalan mulai menikmati secara antisipatif tanda-tanda Kerajaan-Nya yang eskatologis itu dalam kehidupan sehari-hari, di dunia ini. Maka dari itu, seharusnya keyakinan teologis-politis ini dapat menjadi inspirasi pemberdayaan bagi rakyat miskin  dan kaum tertindas di Indonesia, terutama sekali golongan masyarakat pada laipisan akar-rumput (grass-root). Sayang sekali, umat Kristen di Indonesia--- yang dipengaruhi oleh teologi kesalehan-vertikalistik pietisme--- telah mempersempit makna Tradisi Iman Paskah atau Kebangkitan Yesus Kristus itu ke dalam pengertian yang sangat rohaniah saja. Itulah sebabnya, peringatan Tradisi Iman ini juga lebih difokuskan kepada upaya memperkuat kesalehan-iman-ritualistik  daripada kesalehan-iman kritis dan transformatif yang diwujudkan melalui praksis pemberdayaan warga masyarakat yang miskin dan tertindas! Saya kira tafsiran atas Tradisi Iman Paskah atau Kebangkitan Yesus Kristus secara a-politis ini sudah perlu dipertanyakan signifikansinya. Sebab Allah dalam Yesus Kristus adalah Allah politis, Allah yang berurusan dengan politik pemberdayaan umat manusia!! Dan Paskah  atau Kebangkitan Yesus Kristus adalah manifestasi politik pemberdayaan Allah! Yaitu: politik yang memberdayakan dan bukan politik yang memperdaya supaya bisa mengeksploitasi manusia!

 

 

IV

 

Saya kira signifikansi Paskah atau Kebangkitan Yesus Kristus yang sedang diperingati oleh umat Kristen di Indonesia terletak di sini. Sebab,  seperti kita sama-sama saksikan dan alami dalam kehidupan sehari-hari, bahwa banyak orang dari antara kita, rakyat Indonesia tidak lagi berdaya dihimpit  oleh kekuatan ekonomi kapitalisme yang eksploitatif sebagaimana nyata dalam kenaikan harga BMM yang berimbas kepada kenaikan harga listrik dan sembilan bahan pokok. Situasi ini semakin dipersulit oleh kekekuasaan politik dan agama serta budaya yang tidak memberdayakan  warga masyarakat. Sebaliknya, justru hanya memperdaya warga masyarakat! Saya kira situasi memperdaya rakyat atau warga masyakarat miskin dan tertindas akan semakin serius saat-saat menyelang Pilkada. Seperti kita ketahui bersama bahwa saat-saat perebutan kekuasaan politik selalu akan ada muncul sejumlah janji-janji politik, bahkan janji-janji politik itu tidak jarang dikemasi  dalam bungkusan kesalehan-religius-ritualistik dan kesopanan-kultural-formalistik untuk memanipulasi kesadaran-kritis kita sehingga dapat diperdaya demi kepentingan politik machiavelian para petualang politik! Politik Allah adalah politik politik hati nurani yang menjunjujung tinggi harkat dan martabat manusia. Politik Allah adalah kritik terhadap politik para petualang politik yang machiavelis, yaitu politik yang memperdaya orang miskin dan tertindas sebagai komoditas politik  pada setiap kali pemilihan umum, baik pemilihan anggota  legislatif maupun eksekutif. 

 

V

 

Kiranya tindakan politis pemberdayaan Allah sebagaimana dipelihara dalam Tradisi Iman Paskah/Kebangkitan Yesus Kristus yang diuraikan di atas dapat memberi kepada kita inspirasi dan pencerahan iman sehingga kesalehan religius kita akan menjadi kesalehan religius-kritis dan transformatif! Dan dengan kesalehan religius kritis dan transformatif itulah kita tidak akan mudah diperdaya oleh berbagai kekuatan ekonomi dan politik yang memakain “baju-jas” kesalehan religius-retualistik dan kesopanan-kulturalk-formalistik! Selamat memperingati Paskah sebagai Politik Pemberdayaan Allah dalam sejarah peradaban manusia!!

 

 

 

 

Makassar, 25 Maret 2005

Dr. Julianus Mojau

(Direktur OASE INTIM—Lembaga Pemberdayaan Praksis Pelayanan dan Kajian Teologi Kontekstual Indonesia Timur  & Dosen Teologi Sosial di STT INTIM Makassar)

e-mail:jmojau@yahoo.com atau oaseintim@yahoo.com

HP:08157943476