Ke-Mesias-an Yesus dalam Tradisi Iman Kristen (1)





01. Catatan Pengantar.



Kami, pertama-tama, menyatakan salut dan ucapan terima kasih kepada adik-adik Mahasiswa Universitas Negeri Makassar, khususnya yang terhimpun di dalam wadah ilmiah LKIMB ini, yang sungguh dengan besar hati memfasilitasi diskusi kita hari ini. Apalagi tema yang diangkat dalam diskusi ini adalah sebuah tema sentral di dalam tradisi iman Kristen, tetapi sekaligus memiliki segi-segi kontroversial, baik itu sepanjang sejarah Kekristenan itu sendiri maupun dalam perjumpaan dengan agama-agama lain.



Dalam diskusi ini, kami diminta untuk membaca secara kritis buku (pamlet?) karangan Dr. H.Sanihu Munir yang berjudul: Benarkah Yesus, Kristus atau Al-Masih? (judul: lengkap lihat catatan kaki 1 berikut ini). Sebelum kami melanjutkan catatan-catatan kami terhadap buku tersebut, isinkanlah kami mengemukakan dua catatan awal ini. Pertama, kami membaca buku tersebut sebagai seorang Kristen, yang secara sungguh-sungguh mengimani bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup sebagaimana tradisi iman Kristen (bdk. Matius 16:16 dan kejejajarannya). Catatan ini, tentu saja, akan memberi implikasi bias perspektif tertentu. Yaitu: keyakinan atau iman atau sudut pandangan Kristiani. Yang kedua, kami sependapat dengan kaum pluralis bahwa setiap tradisi keagamaan atau tradisi iman di dalam setiap agama manapun memiliki kekhasan masing-masing. Dan karena itu pula mustahillah suatu komunitas iman tertentu dapat mengklaim bahwa tradisi iman atau agama merekalah yang memiliki kebenaran yang sempurna. Apalagi ingin menyatakan klaim sebagai yang paling dapat mengetahui secara sempurna Sang Kebenaran itu sendiri. Maka dari itu kami berpendapat bahwa sikap menghormati dan menghargai tradisi iman penganut agama lain sebagaimana dianjurkan oleh para penganjur sikap pluralis patutlah diperhatikan dalam diskusi kita ini. (2) Dengan catatan kedua ini, kami ingin mengatakan, bahwa kiranya diskusi kita ini dapat menjadi sebuah wacana ilmiah yang bersifat dialogis dan bukan sebuah wacana yang bersifat apologetis, apalagi bersifat polemis!Sebagai sebuah wacana ilmiah yang bersifat dialogis, maka kiranya apa yang kami kemukakan dalam catatan perbandingan atas buku/pamlet karangan Dr. Munir berikut ini janganlah dipandang sebagai sebuah apologetik seorang Kristen, melainkan sebuah sharing tradisi iman dari seorang Kristen, yang memiliki tradisi iman tertentu di antara sekian banyak tradisi keagamaan di Indonesia dan dunia pada umumnya.





02. Ke-mesias-an Yesus dan Tradisi Alkitab Perjanjian Baru.

Bagaimanapun juga, apabila kita menelusuri gelar Yesus sebagai Mesias atau Kristus, khususnya dalam tradisi iman Kristen, maka sumber rujukan satu-satunya ialah Alkitab, khusus Perjanjian Baru selain sumber-sumber tradisi lainnya. Dan kalau kita berbicara tentang Alkitab Perjanjian Baru, maka tulisan-tulisan rasul Paulus memiliki otoritas yang sama dengan tulisan-tulisan di dalam kitab-kitab lainnya dari Perjanjian Baru. Dengan demikian mustahillah kita membicarakan ke-mesias-an Yesus dengan menolak kesaksian Alkitab Perjanjian Baru, apalagi tulisan-tulisan rasul Paulus sebagaimana dilakukan oleh Dr. Munir yang menganggap bahwa tulisan-tulisan rasul Paulus sebagai kobohongan! Padahal para ahli Kitab Suci Perjanjian Baru membuktikan bahwa Kekristenan sepenuhnya lahir dari tangan rasul Paulus. Sebab dialah orang yang pertama yang meneruskan tradisi iman Kristen bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, yang diutus untuk penebusan dosa manusia (baca: memanusiawikan hidup pribadi dan sosial umat manusia)! Jika Paulus adalah pembohong, maka seluruh tradisi iman Kristen pun dibangun atas dasar kebohongan juga. Kami kira hal ini melampaui tradisi iman umat Kristiani! Mustahillah, demikian keyakinan umat Kristiani, kita memahami arti sosiologis dan teologis ke-mesias-an Yesus ataupun gelar Anak Allah yang dikenakan kepada-Nya tanpa karangan-karangan para penulis Perjanjian Baru!! Seperti halnya, jika kita membicarakan ke-nabi-an dan/ atau ke-mesias-an Nabi Muhammad SWA maka kita tidak bisa tidak kita haruslah menjadikan al-Quran sebagai sumber refrensi satu-satunya. Ataupun jika kita berbicara tentang ke-budha-an Sidarta Gautama pastilah sumber kita haruslah Bava Gita!



Kami juga perlu mengemukakan di sini bahwa gelar mesias hanyalah salah satu gelar dari sejumlah gelar yang diberikan kepada Yesus oleh para penulis Alkitab Perjanjian Baru. Ada sejumlah gelar yang diberikan oleh para penulis PB kepada Yesus. St. Darmawijaya mencatat paling kurang ada tiga puluh lima gelar yang diberikan oleh para penulis PB kepada Yesus. (3) Semua gelar itu, memang, tidaklah langsung dari mulut Yesus sendiri. Semua gelar itu adalah ciptaan para penulis Perjanjian Baru dan komunitas Kristen Perdana yang mengalami pengalam bersama Yesus, baik semasa hidup-Nya, jalan kesengsaraan-Nya maupun sesudah kebangkitan-Nya! Dengan gelar-gelar itu para penulis PB dan komunitas Kristen Perdana ingin mengabadikan visi dan misi kemanusiaan Yesus di tengah-tengah problem kehidupan dan kemanusiaan seperti ketidakadilan sosial-ekonomi, ketidakadilan politik dan ketidakadilan kultural! Sebagaimana disepakati oleh para ahli Perjanjian Baru bahwa visi dan misi kemanusiaan Yesus itu berhubungan dengan inti pewartaan-Nya semasa hidup-Nya, yaitu: Kerajaan Allah (bdk. Mrk. 1:15). Atas dasar itulah Yesus tidak segan-segan mengklaim diri-Nya, seperti nabi-nabi lain di dalam Perjanjian Lama, sebagai yang diurapi oleh Allah untuk mewartakan berita pembebasan bagi dunia ini ( bdk. Lukas 4:18-20).

Juga Alkitab PB tidak mempunyai kristologi yang tunggal! Ada banyak ragam Kristologi di dalam PB. Antara Paulus dan para penulis PB lainnya mempunyai perbedaan dalam memberi aksentuasi makna visi dan misi kemanusiaan Yesus di dunia ini. (4) Sekalipun demikian di antara mereka terdapat persamaan pemakaian bahasa dalam mengartikulasikan visi dan misi kemanusiaan Yesus itu. Yaitu: mereka sama-sama memakai bahasa kategoris yang bersifat teologis-politis (lihat uraian 03 berikut ini). Maka Rasul Paulus kemudian (sesudah kematian dan kebangkitan Yesus Kristus) berusaha mengabadikan visi dan misi kemanusiaan Yesus itu dengan memakai bentuk bahasa kategoris teologis, yaitu: konsep tentang dosa dan penebusan--atau secara metaforis manusia lama dan manusia baru! (bdk. Efesus 4:17-32) tidak bisa dimengerti terlepas dari implikasi sosial politisnya! Sayang sekali banyak orang Kristen sendiri tidak begitu memberi perhatian pada implikasi sosial-politis dari cara Rasul Paulus mengabadikan visi dan misi kemanusiaan Yesus itu.



Jika kami menekankan kebenaran atau keabsahan ke-mesias-an Yesus sebagaimana karangan-karangan penulis Perjanjian Baru, yang seringkali menunjuk secara langsung hubungannya dengan PL ataupun tidak langsung, maka hal itu tidaklah berarti kami menafikan ke-mesias-an tokoh-tokoh agama lain sebagaimana tradisi keaagamaan dan keimanan mereka! Kami senang bahwa Dr. Munir bisa memperlihatkan kepada kita dalam bukunya (pamlet?) (hlm. 125) bahwa Nabi Muhammad SWA memenuhi kriteria mesias sebagaimana diharapkan oleh umat Yahudi. Kesimpulan seperti ini sangat membanggakan sekali, sebab kesimpulan ini memperlihatkan keseriusan penulis untuk mencari titik-temu antara tradisi keagamaan Yahudi dan Islam. Sayang sekali penulis --dengan menggunakan tradisi agama Yahudi---menolak ke-mesias-an Yesus sebagaimana diimani oleh umat Kristen, yang sesuai dengan tradisi Alkitab Perjanjian Baru! Penolakan penulis tersebut dapat dimengerti. Sebab ternyata penulis menggunakan kriteria ke-mesias-an itu semata-mata mengacu pada tradisi Yahudi semata, dan tidak mempertimbangkan perkembangan baru kriteria ke-mesias-an yang dianut oleh komunitas kristen perdana sebagaimana terdapat dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru. Kami harus mengemukakan di sini bahwa komunitas Kristen perdana, memang, pada satu pihak memiliki kontinuitas dengan tradisi agama Yahudi, tetapi sekaligus menyatakan diskontinuitas di pihak lain! (5) Kontinutas itu terletak dalam keyakinan yang sama bahwa Allah adalah Allah sejarah yang membebaskan, Allah yang memihak kemanusiaan dan keadilan di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan diskontinuitasnya terletak pada tafsiran tentang kehendak Allah yang berdasarkan ideologi bersifat etno-sentrisme! Dalam hal tafsiran atas kehendak Allah yang bersifat ideologis-etno-sentrisme inilah Yesus menolak memenuhi harapan umat Yahudi tentang Sang Mesias yang diharapkannya. Dalam hal ini pulalah Rasul Paulus membedakan diri dengan interpretasi kebanyakan tokoh agama Yahudi tentang Mesias, dengan mewartakan tentang Yesus Kristus atau Yesus sebagai Mesias disalibkan itu atau Mesias yang gagal secara politis revolusioner fisik penuh kekerasan (lihat uraian 03, point 3 berikut ini).



03. Cara Membaca Alkitab dan Keragaman Kristologi Masa Kini.



Kami kira di kalangan orang Kristen sendiri masih sering salah membaca Alkitab. Mereka berpendapat bahwa Alkitab adalah sebuah Kitab Sejarah atau Ilmu Pengetahuan! Alkitab bukanlah Kitab Sejarah Murni, sekalipun ia mengandung beberapa segi historis. Juga Alkitab bukanlah data-data informatif tentang ilmu pengetahuan.Cara pembacaan Alkitab seperti ini disebut dengan cara pembacaan Alkitab yang bersifat konservatif! Alkitab adalah sebuah kesaksian iman baik atas dasar pengalaman hidup bersama Yesus maupun pengalaman iman dengan Allah secara langsung melalui kuasa Roh Kudus! Maka dengan demikian Alkitab juga bukan keterangan obyektif tentang Yesus yang historis, melainkan sebuah kesaksian iman dan cerita-cerita iman yang berhubungan dengan hidup bersama Yesus di dalam menggumuli hidup ini. Itu tidak lalu berarti Alkitab tidak mempunyai kebenaran historis. Sebab pengalaman hidup bersama Allah bukankanlah sebuah pengalaman iman yang a-historis! Pengalaman bersama Allah, yang tradisi iman Kristen, hal itu dialami oleh kaum beriman berdasarkan pewahyuan Allah melalui hidup dan karya Yesus Kristus adalah sebuah pengalaman iman yang terjadi di dalam sejarah manusia dengan berbagai persoalan kemanusiaannya: ekonomi dan politik, dsbnya!

Juga umat Kristen memahami siapa Yesus, tidak berhenti dengan kesaksian Alkitab saja. Memang kesaksian Alkitab adalah sumber inspirasi utama, tetapi bukanlah yang bersifat kaku dan tertutup! Alkitab adalah kitab yang interpretable, bukan uninterpretable! Kewibawaan Alkitab sebagai Firman Allah, karena bersifat interpretable! Maka dari itu pemahaman tentang Yesus dan gelar-gelar tentang Yesus pun selalu bersifat kontekstual! Itulah sebabnya dewasa ini di dalam perkembangan teologi Kristen, khususnaya Kristologi, telah banyak corak Kristologi yang kontekstual! (6) (lihat daftar kepustakaan). Dalam Kristologi kontemporer, yang sebenarnya sesuai dengan Kristologi jemaat perdana dan para penulis PB, tidaklah bersifat otologis-statis, melainkan lebih fungsional-dialogis-kritis!! Usaha-usaha Kristologi kontemporer itu adalah untuk mereaktualisasi visi dan misi dasar ke-mesias-an Yesus, yaitu: untuk memulihkan harkat dan martabat manusia, yang dalam bahasa kategoris politis disebut pembebasan dan dalam bahasa kategoris rohani disebuat penebusan dosa! Kedua bahasa kategoris ini sesungguhnya merupakan satu kesatuan kesaksian Alkitab! Hanya saja di dalam sejarah Kekristenan segi bahasa kategoris pertama lebih menonjol atau lebih baik dibaca ditonjolkan oleh Kekristenan yang bebrcorak kesalehan individualisti a'la gerakan pietisme abad ke-19. Baru akhir-akhir ini ( mulai pertengahan abad ke-20) kesatuan kesaksian Alkitab itu ditonjolkan, terutama sekali dengan adanya sumbangan dari teologi pembebasan Amerika Latin! Dalam kerangka Kristologi kontekstual itulah hermeneutik terhadap Alkitab sangat penting. Ada macam-macam corak hermeneutik terhadap Alkitab: historis-kritis, kritik-bentuk/sastra, naratif. Juga ada macam-macam perspektif: kaum miskin. perempuan/feminis, dsbnya. (7)





04. Beberapa Catatan Detail terhadap Buku Dr. Munir.



Dari catatan-catatan di atas sebenarnya sudah cukup jelas pendekatan dan penilaian kami atas buku Dr. Munir yang kita diskusikan sekarang ini. Sekalipun demikian, menurut hemat kami, perlu juga beberapa catatan detail yang perlu dikemukakan di sini. Yaitu:



(1) Dalam hlm.20 Dr. Munir menulis bahwa "Orang Yahudi tidak mengenal Mesias Anak Allah sebagaimana yang dianut umat Kristen." Kami kira, sejauh berhubungan dengan tradisi Perjanjian Lama, raja-raja Israel sering juga disebut anak Allah (bdk. Maz.2:7). (8) Bahkan bangsa Israel pun disebut sebagai anak Allah (bdk. Kel. 4:22). Jadi, sebutan anak Allah adalah sebuah sebuatan yang bersifat korelasional--fungsional. Yaitu: sebuah sebutan yang secara khsusus berkaiatan dengan hubungan-hubungan fungsional yang sangat istimewa sebagai seorang yang diurapi oleh Allah untuk misi khusus! Yesus pun disebut Anak Allah, karena relasi Yesus dengan Allah yang intens dan istimewa. Bahkan siapun yang mempunyai relasi yang intim, intensi dan istimewa dengan Allah dapat disebut: Anak Allah! Jelas di sini bahwa bahasa Alkitab tentang sebuatan Anak Allah tidaklah menunujuk kepada relasi geneologi secara biologis! Sebuatan itu bersifat korelasional-fungsional!!



(2) Dalam hlm. 84 Dr. Munir menyebut tentang pengaruh agama-agama lokal di sekitar Mesir, Babilonia dan Romawi. Kami kira pengaruh itu tidaklah keliru. Hanya saja, menurut kami, pengaruh itu tidak usaha dilihat secara pejoratif! Tentu saja yang perlu dikritisi ialah apakah bentuk-bentuk penyembahan itu merusak kemanusiaan atau tidak? Kami kira pertanyaan ini penting, sebab Allah menurunkan agama manapun (termasuk agama suku sekalipun) adalah untuk menuntun manusia hidup lebih manusiawi baik secara pribadi maupun dalam relasi sosial dengan sesamanya!



(3) Dalam hlm. 33-35 Dr. Munir sambil menunjuk kepada Lukas 24:46 mengatakan bahwa tradisi Yahudi tidak dikenal konsep Mesias yang menderita. Mesias yang menderita tidak terdapat dalam Perjanjian Lama (bdk. juga hlm. 24-25, 75-76) . Dr. Munir menolak hal itu, dengan dua alasan ini: (a) karena tidak ada catatan kaki yang memberi keterangan dalam teks mana kita bisa membaca bahwa dalam PL pun ada mesias yang menderita, mati dan bangkit! ; (b) ia mengacu pada pandangan seorang ahli PB (Paula Fredriksen) yang mengatakan bahwa dalam tradisi Yahudi tidak mengenal konsep Mesias yang menderita. Berdasarkan alasan-alasan itulah Dr. Munir tiba pada kesimpulan bahwa Yesus tidak memenuhi kriteria Mesias sebagaimana diharapkan oleh umat Yahudi (hlm. 125-126; bdk. hlm. 35-36). Terhadap kedua alasan dan kesimpulan Dr. Munir ini kami, tanpa bermaksud menjawab secara memuaskan, ingin mmeberi dua catatan sebagai berrikut. Pertama, kalau kita memperhatikan naskah Alkitab Indonesia-Yunani (terutama sekali dalam naskah Yunani) maka kita akan membaca catatan kaki ayat 46 dari Lukas 24 itu, di mana ayat itu dihubungkan dengan konsep ebed Yahweh (hamba Tuhan) yang menderita dalam Yesaya 53 dan gagasan kebangkitan (baca: pertobatan) di dalam Hosea 6:2 ( kami kira penulis Injil Lukas cukup menyadari gagasan kebangkitan atau pertobatan dalam Hosea ini). Kedua, pandangan Paula Fredriksen bahwa mesias yang menderita, yang lemah bukankalah tema yang disenangi oleh umat Yahudi adalah pandangan pada umumnya ahli Alkitab PB. Memang Yesus gagal memenuhi harapan mesias umat Yahudi yang bersifat politis-ideologis-etno-sentrisme! Para penulis Alkitab PB tidak menyembunyikan kegagalan tipe mesias politis-revolusioner penuh dengan kekerasan itu! Namun, demikian keyakinan para penulis Alkitab PB, bahwa kegagalan Yesus sebagai mesias politis dengan jalan revolusi fisik penuh kekarasan tidaklah berarti visi dan misi kemanusiaan yang bersifat revolusioner-transformatif-rekonsiliatif sebagai dasar etika kehidupan sosial-kemasyarakatan itu gagal!! Ajaran-ajaran-Nya sebagaimana diabadikan dalam tardisi Alkitab telah banayak memberi inspirasi bagi visi dan misi kemanusiaan yang bersifat revolusioner-transformatif non-violence yang dilakukan oleh para pejuang kemanusiaan di dunia ini, seperti Gandhi, Martin Luther King, Mother Theresia, dll! Juga hal itu dapat dilihat dalam berbagai karangan Kristologi kontemporer! [lihat daftar kepustakaan] Maka menurut hemat kami apa yang dikemukakan oleh Dr. Munir dalam hlm. 36-37, yang menulis bahwa: "Tetapi.....Yesus adalah Mesias Baru, dengan kriteria baru ciptaan Paulus. Yesus yang menurut umat Yahudi adalah Mesias palsu karena ditangkap dan dihukum salib oleh tentara Romawi...... oleh Paulus dianggap Mesias (Kristus) yang mati untuk menerbus dosa)" sebagai sebuah kebohongan Paulus semata-mata adalah kiranya melampaui otoritas tradisi iman Kristen, untuk tidak mau dikatakan berlebihan! Sebab sebagaimana kami jelaskan pada point 02 di atas bahwa dalam tradisi iman Kristen Yesus adalah Mesias atau Kristus, Anak Allah yang hidup yang mengemban sebuah visi dan misi kemanusiaan bagi kemaslahatan umat manausia sebagaimana diabadikan dalam tradisi iman Alkitab PB, di dalamnya termasuk tulisan-tulusan Rasul Paulus, adalah inti tradisi iman Kristen! Bagaimana mungkin dikatakan bahwa tradisi itu tidak sah? Bukankan hal itu merupakan langkah berani menilai tradisi iman lain secara berlebihan? Kami kira jika buku atau pamlet Dr. Munir ini direvisi dengan memakai studi perbandingan agama yang lebih dialogal-fungsional-kritis, maka kami yakin buku atau pamlet Dr. Munir tersebut akan memberi sumbangan yang sangat berharga bagi usaha kita bersama untuk membangun kehidupan dan masa depan umat manusia yang lebih manusiawi, sebab semangat dan jiwa kemanusian yang dikandung di dalam masing-masing agama kita akan memberi pencerahan baik secara intelektual, emosional maupun spiritual!!



(4) Penghargaan kepada Yesus yang historis sebagaimana dikesankan oleh karangan Dr. Munir patut dihargai. Sayang sekali segi ini tidak diperdalam sesuai dengan tradisi iman Kristen dan cara memahami Yesus sejarah dalam Kristologi kontemporer, yang membaca fenomena Yesus dengan menggunakan analisis sosial kritis, seperti neo-Marxian a'la mashab Frankfurt dengan teori kritisnya!! Jika hal ini dilakukan, maka kami kira Dr. Munir dapat memberi sebuah sumbangan yang sangat berharga bagi perkembangan pemikiran Kristologi di dalam Kekristenan.





05. Catatan Penutup.



Dari catatan-catatan perbandingan itu menjadi jelas bahwa kami dengan Dr. Munir mempunyai perbedaan dalam memandang ke-mesias-an Yesus! Hal ini wajar, karena tentu saja kami mempunyai rujukan sumber pendukung dalam membaca Alkitab berbeda. Seperti kami telah kemukakan pada catatan tambahan keempat di atas, bahwa sayang sekali nuasa pendekatan historis-kritis dalam pembacaan Alkitab yang dilakukan oleh Dr. Munir tidak diartikulasi dengan pendekatan dialogal-fungsional-kritis dalam studinya terhadap tradisi iman agama lain, yang menurut hemat kami, dapat memperkaya usaha kita bersama membangun peradaban dunia kita ini ke arah yang lebih manusiawi! Apalagi di tengah-tengah dunia kita dewasa ini di mana kamanusiaan dinista di mana-mana, tanpa kecuali atas nama agama sekalipun! Sayang sekali Dr. Munir, demikian kesan kami, masih memakai pendekatan perbandingan agama yang bersifat apologetis dan polemis. Kami kira pendekatan ini dalam membaca tradisi iman yang berbeda mulai ditinggalkan oleh studi perbandingan agama akhir-akahir ini, apalagi dengan adanya teologi agama-agama (theologiae religionum). Pendekatan studi terhadap agama-agama lain dewasa ini lebih bersifat dialogal-fungsional-kritis!!

Kami kira keberanian Dr. Munir menulis tradisi iman Kristen adalah sebuah keberanian yang tidak dapat kami lakukan terhadap tradisi iman agama lain, sebab kami sebagai orang Kristen, apapun dalih kami untuk bersikap obyektif tidak mungkin bebas dari sebuah penilaian Kristen, apalagi dalam setiap agama ada juga keragaman tradisi iman! Kita hanya akan menulis tradisi iman agama lain sejauh kita telah mengalami apa yang disebut oleh kaum pluralis pengalaman "passing over" atas tradisi iman kita sehingga mampu menyelami makna spirilutalitas yang dikandung oleh tradisi agama lain, tanpa harus kehilangan identitas kita. Namun pengalaman "passing-over" (dan kemudian "coming back") itu hanyalah mungkin apabila kita memiliki sikap menghargai tradisi iman agama lain!



Sekalipun demikian kami patut menyatakan salut juga kepada Dr. Munir yang telah memberanikan diri membuka wacana ini. Sebab wacana ini telah memancing dialog di antara kita yanag pada akhirnya akan membawa kita pada saling pengertian satu terhadap yang lain untuk bersama-sama membangun perabadan kita ini!



Akhirnya, lebih dan kurang, kiranya mohon dimaafkan! Semoga Allah Maha Pemurah dan Maha Penyang yang telah mewahyukukan diri-Nya sebagaimana kita imani dalam tradisi iman kita masing-masing akan menumbuhkan semangat saling pengertian di antara kita, sesama umat-Nya dalam membangun perabadan dunia ini, untuk lebih berwajah ramah dan manusiawi!! Amin!!





Pdt. Julianus Mojau, M.Th

Dosen STT INTIM Makassar





Beberapa Bacaan Anjuran



Berikut ini beberapa bacaan anjuran bagi Anda yang ingin memperdalam tradisi iman Kristen dan juga pendekatan kami dalam diskusi kita ini.



1. T.W. Manson, The Saying of Jesus, (London: SCM Press, Ltd, 1971)

2. L.E. Keck and J.L. Martyn, Studies in Luke-Acts, (London: S.P.C.K, 1978)

3. O.C. Edwards, Jr., Injil Lukas sebagai Cerita, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999)

4. C.Groenen, Yesus Dibangkitkan Karena Pembenaran Kita, (Flores: Nusa-Indah, 1973)

5.-------------, Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus: Kisahnya dan Pengertiannya, (Flores: Nusa-Indah, 1983)

7.------------, Peristiwa Yesus, ( Yogyakarta: Kanisius, 1979)

8. Joachim Rohde, Rediscovering the Teaching of Evangelists, ( London: SCM Press, 1968)

9. Herman Ridderbos, Paul: An Outline of His Theology, (London: S.P.C.K, 1979)

10. Gunter Bornkamm, Paul---Paulus, (New York: Harper and Row, 1971)

11.T. Jacobs, SJ., Paulus: Hidup, Karya dan Teologinya, (Jakarta-Yogyakarta: BPK GM-Kanisius, 1990)

12. George A.F. Knight, Deutro-Isaiah: A Theological Comentary on Isaiah, 40-55 (New York: Abindon Press, 1965)

13. Gerald von Rad, Old Testament Theology (Edinburgh: Oliver and Boyd, Ltd., 1967)

14. C. Barth, Theologia Perjanjian Lama I, (Jakarta: BPK GM, 1984)

15.----------, Theologia Perjanjian Lama II (Jakarta:BOK GM, 1985)

16.---------, Theologia Perjanjian Lama III (Jakarta: BPK GM, 1986)

17.---------, Theologi Perjanjian Lama IV (Jakarta: BPK GM, 1990)

18.B.F.Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar, (Jakarta: BPK GM, 1998)

19. John Barton, Umat Beralkitab? Wibawa Alkitab dalam Kekristenan, (Jakarta: BPK GM, 1993)

20. John H. Hays dan Carl R. Holladay, Pedoman Penafsiran Alkitab, (Jakarta: BPK GM, 1999)

21. A.A. Sitompul dan Utrich Beyer, Metode Penafsiran Alkitab, (Jakarta: BPK GMU, 1981)

22. Walter Kasper, Jesus the Christ, (England: Burns and Oates Limited, 1976)

23. Leonardo Boff, Jesus Christ Liberator: A Critical Christology of Our Time, (England: S.P.C.K, 1985)

24. John Sobrino, SJ., Christology at Crossroads, (London: SCM Press, Ltd., 1978)

25. Marinus de Jonge, Christology in Context: The Earliest Christian Respons to Jesus, ( Philadelphia: The Westminister Press, 1988)

26. E.P. Sanders, Jesus and Judaism, (London: SCM Press, Ltd., 1985)

27. R.S.Sugiartharajah, Wajah Yesus di Asia, (Jakarta: BPK GM, 1993)

28. Juan Luis Segundo, The Historical Jesus of the Synoptics (New York: Orbis Books, 1985)



29. Paula Fredriksen, From Jesus to Christ: The Origins of the New Testament Images of Jesus, (New Haven: Yale University Press, 1988)

30. Hans Schwarz, Christology, (Michigen: Grand Rapids, 1988)

31. Wilfred Cantwell Smith, Toward A World Theology: Faith and the Comparative History of Religions, (London: Macmillan Press, Ltd., 1989)

32. Paul K. Knitter, One Earth Many Religions: Multifath Dialogue and Global Responsibility, (New York: Orbis Books,1995)

33. St. Darmawijaya, Gelar-Gelar Yesus (Yogyakarta: Kanisius, 1991)

34. Th. Sumartana, dkk., Dialog: Kritik dan Identitas Agama, (Yogyakarta: Interfidei, 1993)

35. M.Nasir Tamara dan Elza Peldi Tahir )eds), Agama dan Dialog Antar Peradaban, (Jakarta: Yayasan Paramadina, 1996

36. KIM Yong-Bock, Messiah and Minjung (Hong Kong: CCA, 1992)

37. R.S.Sugirtharajah, Voices from Margin: Interpreting the Bible in the Third World, (New Yorka: Orbis Books, 1991)

38. Budhy Munawar-Rachman, Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman (Jakarta: Yayasan Paramadina, 2001)





1. Materi pada Acara Bedah Buku: Benarkah Yesus, Kristus atau Al-Masih? Melacak Legalitas Gelar-Gelar Yesus serta Kontroversi yang Ditimbulkan Akibat Pemberian Gelar-Gelar Tersebut, karangan Dr. H.Sanihu Munir, SKM, MPH, (Kendari: Yayasan Mitra Center, tt), yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Ilmiah Mahasiswa Bertaqwa (LKIMB) Universitas Negeri Makassar, 18 April 2002.

2. Dewasa sikap ini mulai diperkembangkan baik oleh pihak Kristen maupun Muslim sebagai sebuah sikap menghormati perbedaan tradisi iman dan agama masing-masing tanpa harus menafikan identitas masing-masing pihak. Bandinlan, misalnya, (a) Jacques Dupuie, SJ., Toward a Christian Theology of Religious Pluralism, (New York: Orbis Books, 1997); (b) Wilfred Cantwell Smith, Toward A World Theology: Faith and the Comparative History of Religions, (London: Macmillan Press, Ltd., 1989);(c)Paul K. Knitter, One Earth Many Religions: Multifath Dialogue and Global Responsibility, (New York: Orbis Books,1995); (d) S. Mark Heim, Salvation: Truth and Difference in Religion, (New York: Orbis Books, 1997); (e) Budhy Munawar-Rachman, Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman (Jakarta: Yayasan Paramadina,2001)

3. Lihat St.Darmawijaya, Pr., Gelar-Gelar Yesus, (Yogyakarta: Kanisius, 1991)

4. Bdk. Marinus de Jonge, Christology in Context: The Earliest Christian Respons to Jesus, (Philadelphia: The Westminster Press, 1988). Juga perhatikan literatur di dalan daftar bacaan yang terlampir.

5. Perhatikan surat Paulus kepada Jemaat di Roma!

6. Lihat, misalnya, R.S.Sugiartharajah (Peny.), Wajah Yesus di Asia, (jakarta: BPK GM, 1993). Bagi Anda yang berminat mendalam lebih jauh tentang pokok ini perhatikanlah beberapa literatur standard di daftar bacaan anjuran.

7. Bdk. R.S.Sugirtharajah (ed.)., Voices from the Margin: Interpreting the Bible in the Third World, (London:SPCK, 1991). Bagi Anda yang ingin mendalami cara pembacaan Alkitab secara hermeneutis dapat membaca bacaan sebagaimana kami anjurkan dalam daftar bacaan anjuran.

8. Dr. Munir mengutip hal ini dalam hlm.21, sayang sekali di sana teks ini dipakai hanya untuk menyerang pandangan Paulus, yang ditunduhnya penyembah berhala! (hlm.22) Juga dihampir keseluruhan kutipan Dr. Munir tidak memperlihatkan konsistensinya!!! (bdk. dalam hlm. 36--Dr. Munir menulis bahwa Mesias dalam masyarakat Yahudi ada yang berhasil, tapi ada juga tidak berhasil; namun dalam hlm. 124-125, ia berbicara tentang Mesias yang gagal--yaitu: Yesus). Inkonsistensi ini mencerminkan bias tertentu dari penulis!! Teks-teks yang dikutip dan dirangkai begitu saja tanpa memperhatikan ciri khas dan latar belakang historis dan maksud teologis yang dikandungnya!