SUARA PEMBARUAN DAILY

Th Sumartana, Bentara di Jalan Dialog Iman

Oleh Zakaria Ngelow

Gereja, pendidikan teologi dan kalangan agama-agama di Indonesia kehilangan seorang tokoh pemikir dan aktivis garda depan dengan tiba-tiba wafatnya almarhum Dr Th Sumartana pada hari Jumat sore, 24 Januari lalu, di Bogor. Pemikir dan aktivis dialog antar-umat beragama kelahiran Banjarnegara, 1944 ini studi teologi di STT Jakarta dan kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Amsterdam, Negeri Belanda dengan di- sertasi tentang hubungan zending dan Sarekat Islam pada zaman Pergerakan Nasional.

Sumartana sangat risau terhadap pola hubungan Kristen dan Islam di Indonesia yang tidak harmonis dan menggagas dialog menuju rekonsiliasi. Studinya memperlihatkan kuatnya pengaruh eksklusivisme Dr Hendrik Kraemer, ahli Islam dan kebudayaan Indonesia asal Belanda. Karena itu Sumartana sangat kritis terhadap tokoh pemikir strategis pekerjaan zending di Indonesia sejak tahun 1920-an itu.

Kraemer menekankan 4 hal bagi Kekristenan di Indonesia: (1) pentingnya studi Islam yang mendalam untuk mengerti Islam dan berdialog dengan umat Islam dengan baik; (2) perlunya berpartisipasi di dalam pergerakan nasional menuju kemerdekaan Indonesia; (3) mendesaknya pendidikan kader pemimpin gereja-gereja di Indonesia yang masa itu masih berada di tengah para misionaris Eropa; dan (4) perlunya mengorganisasikan jemaat-jemaat Kristen asuhan zending menjadi gereja-gereja Indonesia yang mandiri.

Kekecewaan Sumartana terhadap Kraemer terutama pada posisi eksklusif Kraemer dalam memandang agama Islam dan semua agama-agama lain, sebagaimana tercermin dalam papernya, A Christian Message in a Non-Christian World (yang dibukukan sekitar 800 halaman!) untuk Konferensi Misi Sedunia di Tambaram, India, tahun 1938. Salah satu pokok kritik Sumartana terhadap pemikiran Kraemer adalah mengenai Islam. Sumartana menolak pandangan Kraemer tentang Islam yang pada dasarnya menempatkan Islam dan Kristen dalam pertentangan.

Pilihan yang diperhadapkan Sumartana adalah membangun suatu wacana teologis yang disertai gerakan-gerakan konkret mempertemukan kedua agama secara rekonsiliatif. Untuk itu, gagasan-gagasan dasar teologi Kristen mengenai agama-agama lain (Theologia Religionum) harus digagas ulang dari eksklusivisme menuju inklusivisme dan pluralisme dengan a.l. mengapresiasi secara positif sinkretisme dalam agama dan memahami ulang Kristologi Perjanjian Baru dan perkembangannya dalam doktrin gereja. Demikian pula isu-isu empiris yang mempertikaikan umat kedua agama, seperti isu Kristenisasi dan isu negara Islam.

Dalam kerangka di atas itu Sumartana mengapresiasi secara kritis para pelanjut Kraemer, antara lain Dr T.B. Simaputang (akrab dipanggil Pak Sim), yang dinilainya mengambil jalan teologi yang tepat dengan penekanan pada peran gereja (agama) dalam masyarakat, sebagaimana dilembagakan dalam kegiatan berkala Konferensi Gereja dan Masyarakat (KGM), walaupun belum dapat membebaskan diri dari semacam Islamofobi.

Debat seru dengan para teolog lain sering berlangsung jika Sumartana berhadapan dengan pemikiran-pemikiran yang dalam pandangannya tidak menjawab dengan tepat masalah-masalah panggilan gereja dalam masyarakat di Indonesia. Salah satu alasan penolakan kalangan pimpinan gereja-gereja terhadap gagasan-gagasannya adalah kesenjangan wacana, karena Sumartana tidak bicara dalam idiom gereja yang lazim.




Dialog Antar-Iman

Perkembangan lanjut dari gerakan pemikirannya adalah "infiltrasi" terhadap dunia pendidikan teologi di Indonesia dengan kegiatan tahunan Seminar Agama-agama (SAA). Di Badan Litbang PGI Sumartana bersama para pemikir lain, seperti Dr Olaf Schumann dan Dr. J. Garang, dilaksanakan SAA sejak tahun 1980 untuk menyemaikan gagasan-gagasan pembaruan teologi menuju rekonsiliasi dengan Islam dan semua agama lainnya melalui pendekatan panggilan bersama agama-agama dalam kehidupan masyarakat.

Aktivitas penting ini, sayangnya, diabaikan pimpinan PGI sejak beberapa tahun terakhir.

Cakupan pemikiran dan aktivitas Sumartana tidak semata di dalam lingkaran gereja. Dalam periode studi di Negeri Belanda pada akhir tahun 1980-an sampai awal 1990-an almarhum menggagas suatu lembaga dialog antariman, yang kemudian diwujudkan dengan pembentukan Institut Dialog Antariman (DIAN) atau Interfaith Dialogue Institute (INTERFIDEI) di Yogyakarta dengan dukungan tokoh-tokoh intelektual lintas agama. Penekanannya pada dialog iman, yakni dialog keberagamaan yang hidup dalam penghayatan individu, bukan terutama pada lembaga keagamaan. Lem- baga dialog ini dikelolanya dengan lebih berkonsen- trasi setelah meninggalkan UKSW akibat kemelut kepemimpinan di kampus Salatiga itu.

Berbagai aktivitas INTERFIDEI seperti penyelenggaraan seminar, penerbitan buku-buku, penelitian di berbagai daerah menyangkut masalah-masalah antariman tidak saja membuka cakrawala baru hubungan antaragama, melainkan juga membangun jaringan persaudaraan antara pemikir, pimpinan dan para aktivis umat berbeda agama.

Mungkin tidak luas dikenal adanya Pertemuan Malino antara jaringan lembaga-lembaga interfaith se-Indonesia pada tahun 2001 lalu, di mana sekitar 200-an peserta dari seluruh Indonesia -kebanyakannya generasi muda- menggalang komitmen terhadap peran agama dalam gerakan rekonsiliasi dan demokratisasi di Indonesia.

Kelanjutan Pertemuan antar-agama Malino tersebut sudah siap dilaksanakan pada pertengahan Februari mendatang di Candi Dase, kediaman almarhumah Ibu Gedong Oka, salah seorang tokoh lain pejuang rekonsiliasi, yang belum lama ini wafat.

Keyakinan Sumartono terhadap pentingnya keterbukaan dan kebersamaan dalam memperjuangkan masa depan masyarakat dan bangsa Indonesia yang adil dan demokratis membawanya juga ke dalam wilayah politik praktis. Rupanya ia diyakinkan oleh perubahan pandangan Dr Amien Rais ke arah pluralisme dan demokrasi sehingga ia bersedia bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN), suatu kejutan bagi teman-teman dekatnya, dan pilihan yang kemudian dinilainya tidak seperti yang semula dibayangkannya berhubung dinamika politik berbeda dengan kejujuran jalan intelektual.

Di Persimpangan

Sekalipun memasuki wilayah yang lebih luas, komitmen Sumartana terhadap panggilan gereja di Indonesia tetap mendalam, bahkan sesungguhnya menjadi alasan dari semua gagasan dan aktivitasnya. Bersama sejumlah tokoh senior dan junior pada bulan November tahun lalu Sumartana menggagas pembentukan Kelompok Kerja Gereja dan Masyarakat (KKGM) untuk mencari jalan keluar dari jalan buntu gerakan ekumene di Indonesia.

KKGM sedang mempersiapkan suatu penyelenggaraan konsultasi di Yogyakarta pada awal Februari ini mengenai "Protestantisme Indonesia di Simpang Jalan". Almarhum sempat menyampaikan gagasan-gagasannya mengenai tema ini dalam suatu kuliah umum pembukaan semester pada STT INTIM Makassar pada 14 Januari lalu, ketika ia berada di kota Anging Mammiri' dalam rangka menjadi pembicara pada Temu Nasional Pemuka Umat Beragama.

Pada pertemuan yang dihadiri sekitar 300 utusan dari seluruh Indonesia itu Sumartana berbicara tentang peran dan wawasan yang harus dijalankan para tokoh agama dalam mewujudkan perdamaian. Ia mengutip pandangan Prof Kittrie, seorang pakar hukum dari New York yang dikenalnya dalam suatu pertemuan internasional, bahwa perdamaian di zaman yang penuh konflik ini tidak akan bisa diwujudkan, manakala semua pihak yang terlibat dalam konflik tidak memiliki kemampuan untuk merumuskan masalah bersama, dan mampu pula menyusun agenda kerja bersama untuk memecahkan problem bersama.

Sumartana juga mengimbau para pemuka umat beragama untuk secara serius melakukan dialog internal: "Dialog internal antara para elite atau pemuka dalam satu agama yang sama harus lebih diberi perhatian sungguh-sungguh. Terdapat banyak persepsi di kalangan warga serta elite masyarakat untuk menganggap persoalan konflik intern umat beragama sebagai sesuatu yang sekunder dan kurang signifikan. Padahal apabila dicermati dengan lebih teliti dan dari jarak dekat, besar kemungkinan bahwa tidak jarang bahwa potensi konflik antara para pemimpin agama dari agama yang sama justru lebih besar ketimbang potensi konflik antar umat beragama yang berbeda. Oleh karena itu, pada instansi pertama upaya untuk mencipta perdamaian harus lebih dulu tercipta di sana, dan jangan sampai 'meluap' keluar seperti 'banjir kiriman' yang tertumpah para semua bagian masyarakat."

Almarhum meninggal ketika bersama Asmara Nababan dan rekan-rekan lainnya memantapkan DEMOS, suatu wadah lain perjuangannya memperkuat civil society menuju Indonesia yang demokratis, adil dan menghormati martabat manusia. Salah seorang rekan muda, Dr Martin Sinaga menulis refleksi singkat melepas almarhum dengan mengutip kisah Injil mengenai penampakan Yesus kepada kedua murid di Emaus: "Kita mengenal Tono, dan malah saat ini semakin terbuka mata kita tentangnya. Namun ia lenyap...Tetapi hati kita berkobar-kobar, ketika Tono kita debat, ketika argumen pindah ke sana ke mari, ketika dialog diper- taruhkan, dan ketika rencana-rencana tak pernah tertuntaskan. Namun ia akan terus berada di tengah jalan kita..."

Selamat jalan Bung Tono, kami melanjutkan panggilan di jalanmu. Ecce ego mittam angelum meum et praeparabit viam ante faciem meam (Malachi 3:1).

Penulis adalah dosen STT INTIM Makassar.

Last modified: 31/1/2003


[Non-text portions of this message have been removed]


 

Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/