Kriteria untuk persekutuan-persekutuan Toraja tradisional adalah pangala-tondok masing-masing serta aluk dan adatnya. Jelaslah bahwa persoalan yang menentukan harus dijawab di sini. Kelihatannya pemecahan masalah tidak terlalu sulit. Harus dipilih, antara Kristus dan pangala tondok; memilih antara Injil (Firman Allah) atau aluk dan adat. Kristus dan pangala tondok tidak dapat disatukan; keduanya tidak bisa menjadi kriteria secara bersamaan. Oleh sebab itu seorang Kristen harus selalu memilih. Ia mengaku percaya kepada Kristus atau kepada pangala tondok. Seorang pengikut Kristus yang sejati tidak bisa memilih selain dari pada Kristus, mengangkat salibnya lalu mengikut Dia. Pilihan ini harus radikal, karena orang tidak bisa mengabdi kepada dua tuan; orang Kristen harus memilih entah untuk Kristus atau untuk pangala tondok.
Pilihan ini (entweder-oder = ini atau itu) bisa membawa kepada penolakan, kepada meninggalkan segala sesuatu yang adalah kepunyaan pangala tondok, jadi meninggalkan aluk dan adat dan akhirnya meninggalkan tongkonannya, persekutuannya dan kebudayaannya. Tetapi penolakan radikal terhadap struktur dari pola hidup menurut pangala tondok bukanlah tujuan dari pilihan itu, karena itu akan berarti, bahwa inkarnasi tidak terjadi, atau inkarnasi itu bukanlah suatu peristiwa yang terjadi di dunia dan untuk dunia. Itu akan berarti bahwa Kristus tidak datang untuk dunia, tidak datang untuk manusia di dalam dunianya secara menyeluruh.
Tetapi inkarnasi berarti, bahwa Kristus datang menggantikan pangala tondok. Ia datang kepada kepuanyaan-Nya, termasuk pangla tondok, kepala dari persekutuan tongkonan. Ia solider dengan manusia di dalam kerangka struktur tongkonan, kerangka struktur yang mempersatukan seluruh persekutuan dan komunitas. Oleh karena yang menjadi sasaran yang berkepentingan adalah manusia, adalah persekutuan, jadi tongkonan, maka Kristus sebagai Pangala Tondok yang baru harus mengambilalih persekutuan lama itu sebagai milik-Nya dan memberikan makna baru pada persekutuan tersebut. Persekutuan itu kemudian harus menata hidupnya menurut aluk dan adat (jadi agama) dari Pangala Tondok yang baru itu; ia harus mentransformasi kehidupannya dan meningkatkannya ke tingkat pola hidup sesuai dengan kehendak Allah. Transformasi ini adalah pembaruan, kembali kepada makna hidup menurut kehendak Allah di dalam Yesus Kristus.
Membarui berarti mengambilalih dan menolak sekaligus Persekutuan tongkonan bisa diambilalih, tetapi kriteria barunya adalah Yesus Kristus, Pangala Tondok yang baru, yang membarui persekutuan tongkonan itu. Ia mengundang semua orang untuk bergabung ke dalam tongkonan-Nya, tetapi dengan syarat mutlak, bahwa aluk-Na dipoaluk, uain-Na ditimba, kayun-Na dire’tok, utan-Na dikalette’, padang-Na dikumba’; itu berarti bahwa seluruh bidang kehidupan dan dengan demikian seluruh kehidupan itu berada di bawah kedaulatan-Nya.