Website page
Theological Seminary of Eastern Indonesia Makassar

SUARA PEMBARUAN, 24 Des 2002

Yesus Kristus dan Pembaruan Keberagamaan

oleh Zakaria J. Ngelow


Setiap bulan Desember orang di seluruh dunia menyambut perayaan Natal, yang makin tidak terbatas sebagai perayaan keagamaan umat Kristen. Dunia bisnis malahan mengeksploitasi habis-habisan simbol-simbol perayaan Natal menjadi produk-produk yang yang dipasarkan, mungkin tanpa pernah mempertanyakan apa makna keagamaannya. Perayaan Natal, yang asal-usulnya adalah perayaan-perayaan di luar gereja dengan tanggal dan simbol-simbol dari dunia pra-Kristen, rupanya kini kembali lepas dari genggaman gereja sehingga makin marak pada manifestasi sosialnya tetapi makin dangkal dalam substansi keagamaannya. Yesus Kristus, yang dirayakan kelahiran-Nya melalui perayaan Natal, mungkin telah makin tersisih dari fokus perayaan Natal dewasa ini.

Salah satu perspektif untuk menemukan kembali esensi perayaan Natal adalah dengan memahami ajaran dan pelayanan Yesus Kristus sebagaimana diungkapkan dalam ke-empat Injil dan kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya. Yang jarang mendapat perhatian adalah bahwa Dia melakukan pembaruan-pembaruan mendasar terhadap keberagamaan masyarakat zaman-Nya, yang sebenarnya merupakan intisari seluruh pelayanan dan ajaran-Nya. Mungkin karena Ia melakukannya tanpa gerakan terorganisir dengan mengerahkan massa atau dengan menempelkan dalil-dalil atau berkampanye menyerukan slogan-slogan anti kemapanan. Ia melakukan pembaharuan agama dengan menjalaninya sendiri sambil mengajak sekelompok kecil murid mengikuti teladan-Nya dan mempraktekkan ajaran-Nya, untuk selanjutnya menjadi inti pembaharuan yang pada waktunya berhasil mewujudkan suatu keberagamaan baru yang dilembagakan sebagai agama Kristen.

Pertama-tama, Yesus menolak keberagamaan yang berpusat pada diri sendiri. Kisah pencobaan Iblis menampilkan godaan untuk secara pribadi memiliki kuasa, kekuatan dan kemuliaan. Dengan konsisten Yesus menempatkan Tuhan Allah selaku pusat kehidupan-Nya. Sikap dasar itu pula yang menjadi titik tolak memperkenalkan citra Ilahi yang radikal berbeda dengan citra yang dibakukan, yakni sebagai Sang Bapa yang maha kasih yang mempedulikan dan sungguh menghargai hidup setiap orang, bahkan juga memelihara burung pipit dan mendandani rumput di padang. Pokok pemberitaan Yesus adalah Sang Bapa dan kedatangan segera Kerajaan Allah, yang ditandai dengan terwujudnya kehidupan yang adil, damai dan sejahtera bagi semua orang.

Yesus hidup dalam zaman di mana keberagamaan dilembagakan dalam hukum-hukum yang disakralkan sedemikian rupa sehingga hubungan pribadi dengan Yang Ilahi digantikan tuntutan ketaatan kepada aturan-aturan agama yang ditentukan oleh para pemuka agama. Intisari pembebasan di dalam hubungan itu digantikan ikatan-ikatan moral hitam-putih yang memberatkan orang. Penafsiran-Nya atas hukum-hukum agama (lihat Mt 5: 17 dst) diletakkan dalam bingkai kehidupan beragama yang utuh mencakupi semua aspek kehidupan, dalam arti substansi keberagamaan dijabarkan dalam hubungan harmonis dengan sesama manusia, dan dengan demikian melampaui kehidupan keberagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (para pemimpin agama yang menekankan kecermatan menjalankan hukum-hukum agama), yang hanya terfokus pada formalisme. Prinsip Yesus dalam hubungan antara manusia adalah bertindak positif dan proaktif untuk kebaikan orang lain: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mt 7:12). Pokok-pokok pengajaran Yesus, seperti dalam Khotbah di Bukit (Mt 5-7, Lk 6) merangkum prinsip-prinsip utama etika keagamaan yang juga ditemukan dalam agama-agama lain. Ia menyimpulkan intisari seluruh ajaran agama dan pemberitaan para nabi dalam hukum kasih: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Mt 22:37-40).

Dalam kerangka itu pula Yesus menolak kekerasan dan mengajarkan jalan perdamaian dalam menghadapi konflik, antara lain dengan menekankan rekonsiliasi sebagai prasyarat peribadahan (Mt 5:23-25). Kerelaan-Nya menempuh jalan salib bukan memilih menjadi korban kekerasan daripada melakukan perlawanan, melainkan –seperti yang diajarkan-Nya mengenai sikap pasifisme– Yesus menaruh harapan-Nya pada kekuatan jalan damai dan penderitaan yang kelak dimenangkan Allah sendiri. Karena itu, jalan salib Yesus Kristus bermakna penyerahan (iman), pengharapan kepada kuasa Allah, dan kasih (pelayanan) kepada sesama.

Kecaman Yesus kepada para pemimpin agama (lihat Mt 23: 23-36) mengungkapkan bahwa yang terutama dalam beragama adalah substansi keadilan yang membebaskan bukan aturan dan ritual formal yang memberatkan. Konflik Yesus dengan para pemimpin agama zaman-Nya berkisar pada pemberitaan-Nya yang menyimpang dari ajaran-ajaran yang baku, kecaman-Nya terhadap kemunafikan hidup para pemimpin agama yang korup, dan akhirnya Yesus mereka korbankan untuk kepentingan politik dan atas dasar pelanggaran kebenaran formal agama (lihat Yo 11:45 dst).

Aspek penting lainnya dari keberagamaan Yesus adalah komitment-Nya terhadap rakyat kecil (=orang banyak) yang tersisih secara ekonomi, tidak mempunyai hak-hak sosial-politik dan dianggap tidak layak dalam takaran keagamaannya. Mereka yang dipandangnya  “lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” (Mt 9:36). Yesus mengarahkan mereka untuk menjalani kehidupan dalam pengharapan dan penyerahan kepada Sang Bapa sambil hidup saling melayani. Ia memaklumkan kegenapan nubuat messianis dalam khotbahnya di Nazaret menyangkut kedatangan tahun rahmat Tuhan (Lk 4: 18 dst). Yesus mengajar dan meneladankan ajaran-Nya melalui berbagai mujizat seperti menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati. Citra Yesus yang diungkapkan dalam Injil-injil adalah seorang guru agama yang berkeliling mengajar atau berkhotbah di desa-desa pedalaman Galilea dan Yudea bersama para murid-Nya (termasuk sejumlah perempuan), sambil mengobati orang-orang sakit. Mungkin khotbah-khotbah-Nya yang demikian menarik, mungkin pula kehebatan-Nya sebagai dukun kadang-kadang menghimpun ribuan orang. Tetapi jelas dia sangat populer. Sesekali dia ke Ibukota Yerusalem dan sempat berkenalan dengan petinggi agama, seperti Nikodemus. Dia tidak membatasi pelayanannya “untuk kalangan sendiri” melainkan menerobos batas-batas pengelompokan atas umat Tuhan dan orang asing , dan malahan secara mencolok menyambut anak-anak dan kaum perempuan, baik perempuan sebangsa-Nya maupun perempuan Samaria dan perempuan asing. Pada dasar itulah Rasul Paulus mencanangkan kesetaraan semua manusia di dalam Kristus: “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” (Gal 3:28,29). Dalam pelayanan-Nya kepada dua orang perempuan yang berbeda, perempuan asing (=kafir?) Yunani Siro-Fenisia (Mk 7:26 dst) dan perempuan Samaria (Yo 4) Yesus secara demonstratif memperlihatkan bahwa pelayanan seharusnya meretas batas-batas ras, etnis, gender, agama, sekte, dan kelas sosial.

Dalam bidang politik, Yesus tidak meneladankan suatu sikap ekslusif. Di antara para murid-Nya terdapat penganut gerakan nasionalis revolusioner. Tetapi Ia menolak penggunaan kekerasan, bahkan untuk melindungi diri pun. Ia mengajukan prinsip pelayanan sebagai alternatif bagi kekuasaan pemerintahan dengan tangan besi (Mk 10:42-45). Dalam hal ketaatan kepada penguasa Yesus menempatkan hak kaisar dalam batas-batasnya sambil menegaskan hak Allah atas diri dan hidup manusia (Lk 20:20-26).

Warisan Rasuli dan Sejarah Gereja

Rasul Paulus mengikuti para rasul lainnya –yaitu para saksi langsung kehidupan dan ajaran Yesus– menafsirkan secara radikal kehidupan dan ajaran Yesus dengan meletakkannya dalam kerangka pengharapan messianis Yahudi. Dalam hal ini salib dan kebangkitan Yesus membuka perspektif baru dalam memperluas cakupan mesianisme dari batas-batas pengharapan sosial, politik dan keagamaan bangsa Israel ke penyelamatan seluruh umat manusia dan ciptaan. Mereka sama yakin bahwa Yesus Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan itu adalah kegenapan kerinduan umat Allah, sebagaimana dinubuatkan para nabi sebelumnya. Sesuai dengan tingkat pendidikannya yang menguasai baik tradisi keagamaan dan kebudayaan Yahudi maupun tradisi filsafat Helenisme zamannya, Rasul Paulus mengungkapkan dalam kedua tradisi besar itu bahwa Yesus Kristus adalah penggenapan pengharapan mesianis Yahudi sekaligus dasar dan arah seluruh perjalanan sejarah umat manusia dan ciptaan (Kol 1:13-20). Rasul Paulus mengembangkan teologinya mendialog tradisi Yahudi, sambil memperkenalkan ke dalam pola berfikir intelektual dunia Helenis yang jaya masa itu. Intisari pemberitaan para rasul adalah panggilan Injili untuk menjalani kehidupan baru dalam persaudaraan kasih dan pelayanan kepada semua orang sambil berpegang pada pengharapan akan suatu dunia baru yang dirancang Allah bagi seluruh ciptaan.

Tetapi sejarah gereja sejak periode Konstantinus Agung membakukan dan menutup dinamika persaudaraan dan pengharapan Injili itu dalam pelembagaan Kekristenan yang menyatu sambil bertarung dengan kekuasaan politik duniawi. Kekristenan diperkembangkan dalam kecanggihan ritual dan kerumitan dogma dengan dukungan hierarki jabatan, sementara umat dijejali tuntutan-tuntutan moral yang hampa spiritualitas. Sempalan-sempalan yang muncul di dalam dan di luar gereja sebagai sekte-sekte, aliran-aliran mistik dan fenomena pembaruan keagamaan lainnya merupakan protes terselubung baik terhadap kebekuan gereja maupun terhadap keasyikannya dengan kekuasaan politik duniawi. Reformasi Protestantisme pada abad ke-16 di Eropa lebih bermakna mempercepat keruntuhan dunia Barat Kristen dan menunjang nasionalisme bangsa-bangsa Eropa yang kemudian berlomba-lomba menjajah bangsa-bangsa di luar Eropa untuk memengeksploitasi sumber daya alam dan manusianya. Secara internal Reformasi menemukan kembali hakekat keberagamaan sebagai hubungan pribadi dengan Yang Ilahi, namun mengulangi pembakuan agama dalam dogmatisme yang kaku terhadap dinamika spiritual, sehingga menimbulkan kegelisahan rohani yang terwujud dalam gferakan Pietisme dan Revivalisme.

Sejarah misi tidak kebetulan berbarengan dengan ekspansi kolonialisme Barat, melainkan memang merupakan bagian integral dari karakter kekuasaan yang melekat di dalam pelembagaan agama Kristen (sebagaimana dalam pelembagaan agama-agama besar lainnya). Tendensi kepentingan kelembagaannya, yang dibungkus dengan alasan dan pembenaran teologis, menjiwai ekspansi Kekristenan ke seluruh dunia dengan meninggalkan beban-beban sejarah bagi peradaban umat manusia. Ekspansi Kekristenan Eropa ke Asia, Afrika dan Amerika menyisakan luka-luka konflik antar umat beragama yang dewasa ini makin diperparah oleh faktor-faktor di luar agama, seperti politik dan ekonomi.


Tiga Roda Pembaruan
Kenyataan sejarah dunia abad ke-20 dengan dua perang dunia dan demikian banyak perang kemerdekaan, perang dingin dan kebangkitan dunia ke-3, konflik-konflik sosial, perkembangan teknologi moderen mendukung kekuatan ekonomi, politik dan militer, yang secara keseluruhan menelan demikian banyak korban jiwa dan menepikan mayoritas umat manusia ke dalam lembah kemelaratan dan penderitaan, serta merusak bumi sebagai pendukung utama sistem kehidupan. Pada dataran kebudayaan, abad ke-20 melahirkan deklarasi HAM dan promosi mengunggulkan pemerintahan yang demokratis, sementara hubungan internasional makin timpang oleh ketidak adilan yang melahirkan kekerasan dan terror yang mencampakkan umat manusia ke dalam pusaran lingkaran setan.

Menghadapi kenyataan-kenyataan itu, gereja sedunia pada abad ke-20 Masehi secara mencolok melahirkan tiga roda pembaruan penting yang terus bergulir meggedor pintu-pintu kelembagaan gereja. Yang pertama adalah kesadaran ekumenis yang menjadi gerakan sedunia umat Kristen dalam upaya mewujudkan visi dan komitmen bersama gereja-gereja terhadap kehidupan umat manusia yang adil, damai dan sejhatera. Yeng kedua, keputusan-keputusan Konsili Vatikan II yang membuka pintu-pintu gereja Roma Katolik bagi pembaruan dan dialog dengan kebudayaan-kebudayaan dan agama-agama dunia. Yang ketiga adalah munculnya teologi-teologi kontektual, khususnya Teologi Pembebasan dengan tema dasarnya preferential option for the poor.

Ketiga hal ini sungguh bermakna karena masing-masing dengan cara dan penekanannya saling melengkapi dalam menghidupkan kembali hakekat ajaran dan pelayanan Yesus Kristus mengenai keberagamaan yang otentik. Gerakan ekumene menangkap esensi ajaran Yesus mengenai fungsi persekutuan iman di dalam dunia, yakni pelayanan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. Dalam kerangka itu gerakan ekumene dewasa ini gencar menggumuli dan menyebarluaskan gagasan teologi kehidupan. Konsili Vatikan II menggalang persaudaraan antar umat manusia, sedangkan Teologi Pembebasan “mengembalikan Yesus ke Galilea”, ke tengah-tengah kenyataan pahit kehidupan mayoritas umat manusia dewasa ini. Citra Yesus Galilea penting menjadi acuan penghayatan gereja terhadap Yesus Kristus (Kristologi) memasuki abad ke-21 kini, yang diprediksi akan menjadi abad yang lebih runyam daripada sebelumnya. Berbeda dengan abad lalu di mana Kritologi gereja terfokus pada the Glorified Christ sehingga gereja sibuk dengan pemujaan (ritus) dalam mentalitas triumfalistik terhadap kebudayaan dan agama-agama lain, maka Kristologi “sobat dari Galilea” menempatkan gereja dalam upaya-upaya meperjuangkan kehidupan yang lebih manusiawi bagi semua orang. Dengan kata lain, gagasan, wawasan dan gerakan-gerakan utama dalam gereja dari abad lalu –termasuk substansi dari gerakan kharismatik yang memprotes kebekuan emosi rohani – dapat menjadi modal penting gereja dalam menjalankan panggilan di abad baru ini.

Maka untuk itu umat Kristen perlu mempertimbangkan untuk melakukan sedikitnya 3 hal mendasar. Pertama, para pemimpin gereja melakukan pembaharuan struktural yang dapat memberi keseimbangan antara citra “gereja yang berdoa” dengan “gereja yang melayani”, suatu upaya yang hampir musjkil mengingat kemapanan gereja dan lemahnya integritas kebanyakan pemimpin gereja dewasa ini. Dalam hubungan itu, kedua, melakukan pembaruan pemikiran dan pendidikan teologi yang berorientasi pada pendidikan kader baru kepemimpinan gereja yang berwawasan aktivis sosial-kemanusiaan. Dan ketiga, melengkapinya dengan pendidikan umat yang lebih menekankan panggilan sosial daripada doktrin, ritual dan kelembagaan gereja.

Makassar, Desember 2002
Zakaria Ngelow dosen STT INTIM MAKASSAR

 

design & layout: Zakaria J. Ngelow
1 1