Seorang Guru Besar pada universitas Theologi di Kampen, Dr. C.J. Heyer, melihat ada gejala yang meragukan dalam kepustakaan eksegetis kitab Injil Sinoptik sekarang ini sebagai pemberitan yang dapat diandalkan. Secara khusus, Heyer melihat bahwa ada kecenderungan penafsiran penjelasan kata-kata Yesus yang ia ucapkan pada malam Perayaan Paskah dengan murid-muridnya, tidak didasarkan pada simbolisme Perayaan Paskah menurut tradisi Yahudi. Apa yang menyebabkan kecenderungan itu? menjadi persoalan utama studi Heyer. Secara lebih rinci Heyer menguraikan pada bab III dalam bukunya yang berjudul: Perjamuan Tuhan, studi mengenai Paskah dan Perjamuan Kudus bertolak dari penafsiran dan tehologia alkitabiah. Dalam studi ini, Heyer memakai pendekatan historis kritis dan bukan kritik naskah.
Persoalan utama yang menyebabkan kecenderungan penafsiran seperti itu,
menurut Heyer karena perbedaan kronologis penangkapan Yesus yang
disajikan oleh keempat penulis injil itu sendiri. Penulis Injil sinoptik
punya pendapat yang sama, bahwa persitiwa Getsemani serangkaian dengan
pesta perjamuan paskah yang diadakan di "ruang atas yang besar" itu terjadi
pada malam Jumat. Sementara Penulis Injil Yohanes melaporkan penangkapan
di Getsemani terjadi satu hari sebelum Jumat. Jadi perayaan perjamuan
paskah yang diadakan olehYesus dan murid-murid-nya bukanlah pada malam
jumat sebagaimana laporan Injil sinoptis tetapi malam sebelum jumat. Dengan
begitu kronologis peristiwa penangkapan Yesus di Getzemani tidak bertepatan
dengan malam Jumat sebagai malam pertama perayan paskah Yahudi, menurut
Injil Yohanes.
Kerja tafsir dan teologi sangat erat hubungannya dengan
kronologis penangkapan Yesus. Mengikuti kronologis sebagaimana yang disajikan
oleh Injil keempat berarti melihat Perjamuan Paskah itu terpisah
dengan tradisi Yahudi dan jikalau mengikuti kronologis sebagaimana yang
disajikan oleh injil sinoptik maka Perjamuan Kudus harus dijelaskan berdasarkan
latar belakang perayaan Paskah umat Yahudi yang setiap tahun diperingati
sebagai peristiwa pembebasan bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir.
Heyer melihat bahwa sudah berabad-abad lamanya penafsiran tentang
perayaan Paskah dan Perjamuan Kudus dipengaruhi oleh paham teologi
yang dibangun oleh murid yang sangat dekat dengan Yesus itu. Dalam pemberitaannya,
Penulis Injil Yohanes lebih menekankankan tentang "ucapan dan tindakan
Yesus" dari pada Sejarah hidup Yesus. Apa yang dikerjakan oleh penulis
Injil Yohanes sama dengan apa yang dilakukan oleh Rasul Paulus dan bahkan
banyak teolog sekarang. Dengan alasan-alasan ini, Heyer lebih cenderung
untuk mengembangkan kerja tafsir Perjamuan Paskah yang dihubungkan dengan
sejarah Israel kuno. Heyer mengikuti kronologis peristiwa Yesus sebagaimana
yang disajikan dengan begitu cermat oleh masing-masing penulis injil
Sinoptis. Kesamaan injil sinoptis terjadi secara wajar karena memakai sumber
yang sama.
Ada juga yang keberatan dengan penyajian Injil sinoptik. Menurut
para kritisi itu, Injil sinoptik tidak berceritra panjang lebar tentang
seluruh peristiwa perayaan paskah keluarga Yesus yang terjadi "ruang atas
yang besar" di Yerusalem. Tidak melaporkan adanya syarat-syarat Perjamuan
paskah tradisional, seperti domba paskah, roti yang tidak beragi, rempah
yang pahit yang tersedia di atas meja pesta perjamuan Paskah keluarga Yesus.
Namun bagi Heyer, justru penulis injil Markus, sangat cermat mengikuti
semua jalannya peristiwa sehingga persoalan yang sudah diketahui secara
umum pada waktu itu, tidak perlu menjadi perhatiannya. Perkataan dan tindakan
Yesus yang tidak sesuai dengan kebiasaan umum merayakan perjamuan paskah
yang perlu untuk diceritrakan. Dengan keberatan itu, memberi petunjuk bagi
Heyer pentingnya untuk menguraikan kembali secara ringkas dan padat isi,
tentang sejarah dan perkembangan makna tradisi paskah, sejak keluaran dari
mesir, selama di padang gurun, setelah tiba di tanah yang sudah dijanjikan
oleh Tuhan sampai pada peristiwa Eksodus kedua, ketika bangsa Israel kembali
dari tempat perbudakan di negri Babel. Paskah tidak berhenti sampai pada
pembebasan. Paskah berhubungan dengan exodus. Perjalanan antara Mesir dan
Tanah Perjanjian, justru menyadarkan mereka bahwa penderitaan yang dialami
di tanah mesir tidak seberapa dengan tantangan perjalanan antara Mesir
dan Tanah Perjanjian. Sekaligus melalui pengalaman perjalanan panjang itu,
Israel menghayati relitas Allah. Jadi Israel melihat kehadiran Allah
melalui pengalaman real.
Kekuatan pengalaman eksodus pertama terus-menerus menggema dalam
tradisi Israel untuk merayakan Paskah. Heyer melihat juga bahwa ekspresi
panghayatan iman akan berbeda dalam konteks yang berbeda. Reformasi Yosua
membawa perubahan perayaan paskah yang dirayakan dalam keluarga menjadi
perayaan yang terpusat di Bait Suci. Kekuatan makna tradisi perayaan paskah,
mengilhami penulis Deutro Yesaya, dengan tanpa ragu menyatakan imannya
kepada Allah atas dasar pengalam masa lalu dan memiliki sikap optimis sekalipun
dalam ketidakpastian masa depan bangsa yang baru kembali dari
tanah pengasingan di Babel. Masa lalu bangsanya justru menjadi kekuatan
gerak masa kini ke arah masa depan yang berpengharapan.
Bagi Heyer, Deutro Yesaya tidak hanya mewujudkan kembali pengalaman
masa lampau tentang exodus bangsa Israel dari Mesir tetapi sekaligus meletakan
dasar unsur yang baru dalam merayakan pesta paskah kemudian. Nabi belajar
dari sejarah dan kenyataan masa lampau. Keluaran dari Babel tidak luput
dengan kekecewaan. begitu juga yang dialami ketika kembali dari Babel.
Masalah penderitaan orang yang berbuat adil, terungkap dalam
rekaman penglihatannya sebagaimana yang dirumuskan dalam perikop
"Hamba Tuhan yang menderita". Dalam konteks inilah, pesta paskah akan memperoleh
dimensi makna ganda. Pada satu sisi, realitas penderitaan, kesengsaraan,
ketidakpastian atau istilah-istilah lain yang ada hubungannya dengan maksud
ini dihayati sebagai embrio yang melahirkan pengharapan keselamatan dan
pada sisi yang lain, penderitaan, kepedihan itu bukan sebagai penghalang
untuk melihat masa depan. Perkataan-perkataan Yesus yang diucapkan dalam
perjamuan Kudus dijelaskan dengan sangat hati-hati berdasarkan konteks
sejarah Israel. Saya tidak lagi menguraikan panjang lebar tentang hal itu.
Demikian upaya Heyer, untuk menolong gereja masa kini memperkaya
makna dimensi perayaan perjamuan paskah sehingga kita tidak terlalu
cepat jatuh pada makna paskah ke arah parusia, yang memungkinkan iman
menutup mata terhadap realatitas kehidupan. Selamat berpesta Paskah!
Kristus bangkit! Haleluyah!