Khotbah PASKAH Pdt. Y. Padele, M.Th.
Peringatan Hari KEBANGKITAN ISA ALMASIH
SEKOLAH TINGGI THEOLOGIA INTIM Makassar Tahun 1998
di Kapel “KEBANGKITAN” STT INTIM
Bacaan: Keluaran 12: 21-28; Markus: 14: 12-21

Seorang Guru Besar pada universitas Theologi di Kampen, Dr. C.J. Heyer, melihat ada gejala yang meragukan dalam kepustakaan eksegetis kitab Injil Sinoptik sekarang ini sebagai pemberitan yang dapat diandalkan. Secara khusus, Heyer melihat bahwa ada kecenderungan penafsiran penjelasan kata-kata Yesus yang ia ucapkan pada malam Perayaan Paskah dengan murid-muridnya,  tidak didasarkan pada simbolisme Perayaan Paskah menurut tradisi Yahudi. Apa yang menyebabkan kecenderungan itu? menjadi persoalan utama  studi  Heyer. Secara lebih rinci  Heyer menguraikan pada bab III dalam bukunya yang berjudul: Perjamuan Tuhan, studi mengenai Paskah dan Perjamuan Kudus bertolak dari penafsiran dan tehologia alkitabiah. Dalam studi ini, Heyer memakai pendekatan historis kritis dan bukan kritik naskah.

Persoalan utama yang menyebabkan kecenderungan penafsiran seperti itu, menurut Heyer karena perbedaan kronologis  penangkapan Yesus yang disajikan oleh keempat  penulis injil itu sendiri. Penulis Injil sinoptik punya pendapat yang sama, bahwa persitiwa Getsemani  serangkaian dengan pesta perjamuan paskah yang diadakan di "ruang atas yang besar" itu terjadi pada malam Jumat. Sementara Penulis Injil Yohanes melaporkan  penangkapan di Getsemani terjadi satu hari sebelum Jumat. Jadi perayaan  perjamuan paskah yang diadakan olehYesus dan murid-murid-nya bukanlah pada malam jumat sebagaimana laporan Injil sinoptis tetapi malam sebelum jumat. Dengan begitu kronologis peristiwa penangkapan Yesus di Getzemani tidak bertepatan dengan malam Jumat sebagai malam pertama perayan paskah Yahudi, menurut Injil Yohanes.
 Kerja tafsir dan  teologi sangat erat hubungannya dengan kronologis penangkapan Yesus. Mengikuti kronologis sebagaimana yang disajikan oleh Injil keempat berarti melihat Perjamuan Paskah  itu terpisah dengan tradisi Yahudi dan jikalau mengikuti kronologis sebagaimana yang disajikan oleh injil sinoptik maka Perjamuan Kudus harus dijelaskan berdasarkan latar belakang perayaan Paskah  umat Yahudi yang setiap tahun diperingati sebagai peristiwa pembebasan bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir.
 Heyer melihat bahwa sudah berabad-abad lamanya penafsiran tentang perayaan Paskah dan Perjamuan Kudus  dipengaruhi oleh paham teologi yang dibangun oleh murid yang sangat dekat dengan Yesus itu. Dalam pemberitaannya, Penulis Injil Yohanes lebih  menekankankan tentang "ucapan dan tindakan Yesus" dari pada  Sejarah hidup Yesus. Apa yang dikerjakan oleh penulis Injil Yohanes sama dengan apa yang dilakukan oleh Rasul Paulus dan bahkan banyak teolog sekarang. Dengan alasan-alasan ini, Heyer lebih cenderung untuk mengembangkan kerja tafsir Perjamuan Paskah yang dihubungkan dengan sejarah Israel kuno. Heyer mengikuti kronologis peristiwa Yesus sebagaimana yang disajikan dengan begitu cermat oleh masing-masing  penulis injil Sinoptis. Kesamaan injil sinoptis terjadi secara wajar karena memakai sumber yang sama.
 Ada juga yang keberatan dengan penyajian Injil sinoptik. Menurut para kritisi itu, Injil sinoptik tidak berceritra panjang lebar tentang seluruh peristiwa perayaan paskah keluarga Yesus yang terjadi "ruang atas yang besar" di Yerusalem. Tidak melaporkan adanya syarat-syarat Perjamuan paskah tradisional, seperti domba paskah, roti yang tidak beragi, rempah yang pahit yang tersedia di atas meja pesta perjamuan Paskah keluarga Yesus. Namun bagi Heyer, justru  penulis injil Markus, sangat cermat mengikuti semua jalannya peristiwa sehingga persoalan yang sudah diketahui secara umum pada waktu itu, tidak perlu menjadi perhatiannya. Perkataan dan tindakan Yesus yang tidak sesuai dengan kebiasaan umum merayakan perjamuan paskah yang perlu untuk diceritrakan. Dengan keberatan itu, memberi petunjuk bagi Heyer pentingnya untuk menguraikan kembali secara ringkas dan padat isi, tentang sejarah dan perkembangan makna tradisi paskah, sejak keluaran dari mesir, selama di padang gurun, setelah tiba di tanah yang sudah dijanjikan oleh Tuhan sampai pada peristiwa Eksodus kedua, ketika bangsa Israel kembali dari tempat perbudakan di negri Babel. Paskah tidak berhenti sampai pada pembebasan. Paskah berhubungan dengan exodus. Perjalanan antara Mesir dan Tanah Perjanjian, justru menyadarkan mereka bahwa penderitaan yang dialami di tanah mesir tidak seberapa dengan tantangan perjalanan antara Mesir dan Tanah Perjanjian. Sekaligus melalui pengalaman perjalanan panjang itu, Israel  menghayati relitas Allah. Jadi Israel melihat kehadiran Allah melalui pengalaman real.
 Kekuatan pengalaman eksodus pertama terus-menerus menggema dalam tradisi Israel untuk merayakan  Paskah. Heyer melihat juga bahwa ekspresi panghayatan iman akan berbeda dalam konteks yang berbeda. Reformasi Yosua membawa perubahan perayaan paskah yang dirayakan dalam keluarga menjadi perayaan yang terpusat di Bait Suci. Kekuatan makna tradisi perayaan paskah, mengilhami penulis Deutro Yesaya, dengan tanpa ragu menyatakan imannya kepada Allah atas dasar pengalam masa lalu dan memiliki sikap optimis sekalipun dalam ketidakpastian masa depan bangsa   yang baru kembali dari tanah pengasingan di Babel. Masa lalu bangsanya justru menjadi kekuatan gerak masa kini ke arah masa depan yang berpengharapan.
 Bagi Heyer, Deutro Yesaya tidak hanya mewujudkan kembali pengalaman masa lampau tentang exodus bangsa Israel dari Mesir tetapi sekaligus meletakan dasar unsur yang baru dalam merayakan pesta paskah kemudian. Nabi belajar dari sejarah dan kenyataan masa lampau. Keluaran dari Babel tidak luput dengan kekecewaan. begitu juga yang dialami ketika kembali dari Babel. Masalah  penderitaan orang yang  berbuat adil, terungkap dalam rekaman penglihatannya sebagaimana yang dirumuskan dalam perikop  "Hamba Tuhan yang menderita". Dalam konteks inilah, pesta paskah akan memperoleh dimensi makna ganda. Pada satu sisi,  realitas penderitaan, kesengsaraan, ketidakpastian atau istilah-istilah lain yang ada hubungannya dengan maksud ini dihayati sebagai embrio yang melahirkan pengharapan keselamatan dan pada sisi yang lain, penderitaan, kepedihan itu bukan sebagai penghalang untuk melihat masa depan. Perkataan-perkataan Yesus yang diucapkan dalam perjamuan Kudus dijelaskan dengan sangat hati-hati berdasarkan konteks sejarah Israel. Saya tidak lagi menguraikan panjang lebar tentang hal itu.
 Demikian upaya Heyer, untuk menolong gereja masa kini memperkaya makna dimensi perayaan perjamuan paskah  sehingga kita tidak terlalu cepat jatuh pada makna paskah ke arah parusia, yang memungkinkan iman  menutup mata terhadap realatitas kehidupan.  Selamat berpesta Paskah!   Kristus bangkit! Haleluyah!