MENEMPA PEDANG-PEDANG MENJADI MATA BAJAK:
Misi Rekonsiliasi dalam Alkitab
oleh: Markus Hildebrandt Rambe, Dosen Misiologi STT Intim Makassar
(Bagian dari Bahan Kuliah "Misi Rekonsiliasi", Bahan lengkap dapat diakses lewat
http://www.geocities.com/misirekonsiliasi)

A. Rekonsiliasi dalam Perjanjian Lama

1. Hubungan yang universal antara Allah dan manusia

Bukan tidak sengaja semua pernyataan alkitabiah dirangkaikan dengan refleksi tentang hubungan Allah dengan semua manusia dan seluruh ciptaan. Pengakuan bahwa "Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya" (Kej 1:27) dalam kisah penciptaan melampaui semua batasan manusiawi seperti seks, ras, etnis, bangsa atau agama. Tanpa kecuali manusia diciptakan untuk hidup dalam relasi yang utuh dengan Allah. Dari-Nya ia mendapat martabat, kebebasan, tanggung jawab dan berkat. Bukan jasa atau kwalitas moral, tetapi relasi inilah yang membuat setiap ciptaan dinyatakan "baik", karena "dunia hidup sepenuhnya dalam kehadiran Allah dan di bahwa kekuasaan Allah"1. Hubungan dan perjanjian penciptaan inilah yang mejadi titik tolak untuk kerukunan dan perdamaian antara Allah dan manusia dan antara manusia dengan sesamanya. Allah yang memberi martabat kepada manusia dan mengakisi kehidupannya (baik dalam aspek rohani maupun jasmani,bekan secara dualistis), dan ini menjadi dasar bahwa manusia harus mengasihi dan menghormati kehidupan yang suci itu.

Akan tetapi, Alkitab tidak punya ilusi tentang watak manusia. Dalam kisah tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa, penyebab keterpisahan manusia dari Allah, permusuhan antarmanusia dan ketidakselarasan antara manusia dengan alam semesta terletak pada keinginan manusia untuk "menjadi seperti Allah" (Kej 3:5)2. Dosa asal dalam pemahaman Alkitab ini tidak terfokus kepada kecenderungan manusia untuk melanggar hukum-hukum moral, tetapi pertama-tama adalah "kerusakan relasional (hubungan)": Karena manusia mau menjadi pencipta dirinya sendiri yang tidak membutuhkan Allah lagi, ia hidup dalam hubungan yang hancur dengan Allah, sesama manusia dan ciptaan dan bahkan dengan dirinya sendiri. Dosa asal manusia adalah ketidakmampuannya untuk mendamaikan hubungan-hubungan tersebut melalui usaha sendiri.3

Dengan demikian, rekonsiliasi menjadi kebutuhan dasar manusia yang mencakup seluruh aspek kemanusiaan, baik dalam arti rohani maupun dalam sifatnya sebagai makhluk sosial. Karena manusia telah kehilangan sifatnya sebagai ciptaan - yaitu kesatuan dengan penciptanya - ia kehilangan identitas dirinya. Krisis identitas ini mengakibatkan rasa malu (Kej 3:10) dan kecemburuan yang berakhir dengan penyangkalan dan pembunuhan saudaranya (seperti Kain dan Habel Kej. 4). Ia mencari identitas melalui supremasi ras, politik, ekologi, agama dsb. Keseberagaman dan pluralitas ciptaan selaku kekayaan dan karunia baik dari pencipta dijadikan dasar untuk kehancuran kesatuan dan komunikasi antarmanusia, karena "mencari nama", seperti dalam kisah tentang menara Babel (Kej 11:1-9). Yang terjadi adalah dehumanisasi, yaitu keterasingan manusia dari dasar keberadaannya, dari diri sendiri (terlepas kesatuan antara tubuh dan roh) dan dari sesamanya4.

Hanya karena inisiatif dan anugerah Allah maka kejahatan manusia (Kej 3; 4; 6; 8:21) tidak berakhir dengan pembinasaan manusia. Manusia dibebaskan dari ancaman maut dan penghukuman yang seharusnya ia terima. Allah sendiri menjembatani jarak relasi dengan membangun kembali hubungan perjanjian dengan manusia dan terus-menerus hadir dan terlibat dalam sejarah manusia. "Pendamaian adalah manifestasi daripada kepedulian Allah terhadap ciptaan-Nya."5

Perjanjian (tyrb) Allah dengan Nuh (Kej 8:21 - 9:17) adalah perjanjian pertama yang memperbaruhi "perjanjian penciptaan": "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam." (Kej 8:21-22). Dengan berkat Allah (Kej 9:1) Nuh sebagai nenek moyang seluruh umat manusia, dengan semua keturunannya, diterima kembali ke dalam hubungan dengan Allah.

Perjanjian ini menjadi dasar untuk semua perjanjian yang berikutnya dan bermaksud untuk memulihkan dan mempertahankan hubungan antara Allah dan manusia dan antarmanusia (karena menang sering sekali manusia/Israel menolak dan melanggar perjanjiannya dengan Allah dan implikasinya): Perjanjian dengan Abraham (Kej 15), Yosua (Yos 24), Musa (Kel 19; 24; 34; Ul 26), Daud (2 Sam 7), Yosia (2 Raj 23), sampai janji bahwa Allah akan mengadakan perjanjian baru, di mana Taurat Allah akan ditaruh dalam batin dan ditulis dalam hati mereka (Yer 31:31-34) dan yang akan menjadi "perjanjian bagi umat manusia dan terang untuk bangsa-bangsa" (Yes 42:6). Hubungan antara Israel dan Allah6 akan pulih kembali seperti hubungan antara ayah dan anaknya (2 Sam 7:14; Maz 89:27 dll.) atau antara suami dan isteri (Hos 2). Pengharapan atas "Perjanjian damai" (Hes 27:26) untuk bangsa Israel itu bermuara ke dalam pengharapan dan janji dalam perspektif yang universal, yaitu penciptaan "langit yang baru dan bumi yang baru", di mana "tidak akan kedengaran lagi bunyi tangisan dan bunyi erang" (Yes 65:17+19). Perdamaian taman Eden dan kerukunan alam semesta dan keadilan untuk mereka yang tertindas akan diadakan kembali (bdk. Yes 11:1-9 dll.): "Serigala akan tinggal bersama domba, dan mancan tutul akan berbaring di samping kambing" (Yes 11:6)7.

Dari situ jelas, bahwa pemulihan kembali dan pemeliharaan hubungan manusia dengan Allah hanya dimungkinkan oleh kesabaran dan pengampunan Allah. Hanya perjanjian Allah memungkinkan rekonsiliasi yang membebaskan manusia baik dari dosa sendiri maupun dari penderitaan karena dosa-dosa orang lain.

Namun, di sisi lain rekonsiliasi dan perjanjian ini selalu dikaitkan dengan kewajiban manusia terhadap Allah dan sesama manusia/ciptaan dan tidak bebas dari pengadilan Allah dan tuntutan untuk bertobat. Perjanjian berhubungan baik dengan tuntutan kultis-religius (dasarnya: "jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku", Ul 5:7; Kel 20:3; "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu", Ul 6:4), maupun tuntutan sosial (perintah-perintah Allah; mewujudkan keadilan, membebaskan dari utang; tidak membalas berlebihan: "...mata ganti mata, gigi ganti gigi..." (Kel 21:24)8; "janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam ... melainkan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri" Im 19). Dari situ tampak bahwa rekonsiliasi antara Allah dan manusia dan rekonsiliasi antarmanusia saling terkait- dan tidak ada yang satu tanpa yang lain.

Dalam Perjanjian Lama9 ditemukan banyak contoh yang konkrit bagaimana, atas dasar tersebut, rekonsiliasi antarmanusia atau antarbangsa bisa berhasil: misalnya rekonsiliasi Esau dengan Yakub Kej 33,Yusuf dengan saudara-saudaranya Kej 45 atau Daud dengan Saul 1 Sam 27. Yang menarik adalah bahwa yang berinisiatif untuk pengampunan dan rekonsiliasi dan membuka jalan untuk pertobatan sering adalah pihak yang diperlakukan tidak adil. Sekali lagi, rekonsiliasi antarmanusia mencerminkan rekonsiliasi yang telah diberi Allah.
 

2. Hubungan yang khusus antara Allah dan bangsa Israel
 

Dalam Perjanjian Lama ditemukan suatu ketegangan yang konstruktif antara universalisme dan partikularisme. Yang sering dijadikan pusat perhatian adalah bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah dan sejarah Allah dengan bangsa-Nya. Tetapi pilihan khusus dan partikuler oleh Allah itu hanya punya makna dalam kerangka hubungan universal antara Allah dan dunia.

Mulai dengan pemilihan Abraham - bapak leluhur bersama orang Yahudi, Kristen dan Islam - perjanjian Allah mencakup hubungan khusus, tetapi tidak eksklusif antara Allah dan keturunan-keturunan Abraham. Tujuan perjanjian khusus ini menjadi jelas dalam Kej 12:3 kepada Abraham: "Aku... memberkati engkau ... dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Abraham harus menjadi berkat untuk orang yang tidak sebangsa dan seagama dengan dia, dan dia pun akan diberkati oleh orang-orang beragama lain (misalnya oleh Melchisedek, Kej 14:19; bdk Bileam dalam Bilangan 22 atau Korsey dalamYes 44:28 yang menjadi saluran berkat Allah untuk bangsa Israel).

Israel hanyalah salah satu bangsa yang punya hubungan langsung dengan Allah (bdk. Ul 32:8-9) dan menerima penghakiman dan belas kasihan dari Allah (bdk. Yes 19; 40-55; Yeh; Yun dll.). Meskipun sering kita temukan eksklusivisme dan etnosentrisme Israel dalam Perjanjian Lama, sikap itu selalu dan langsung dikritik misalnya oleh para nabi seperti Amos: "Bukankah kamu sama seperti orang Etiopia bagi-Ku, hai orang Israel? ... Bukankah Aku telah menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir, orang Filistin dari Kaftor, dan orang Aram dari Kir?" (Am 9:7)

Di satu pihak bangsa lain adalah "lawan-lawan politik atau paling tidak saingan Israel; pada pihak lain Allah sendiri telah membawa mereka ke lingkungan visi Israel."10 Di satu sisi, bangsa Israel memisahkan diri dari agama-agama sekeliling dan menolak secara tegas pemujaan berhala. Namun Israel bisa juga melihat dan mengakui bahwa Allah telah bekerja di tengah-tengah bangsa dan agama lain. Ia bahkan dapat menerima pengaruh dan belajar dari agama lain11.

Pemilihan dan pengistimewaan bangsa Israel bukan karena jasanya atau karena ia lebih layak dari pada bangsa lain. Partikularisme adalah partikularisme fungsional, partikularisme untuk universalisme. Ia harus menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain (Yes 49:6), dan kalau berada di tengah-tengah bangsa dan orang beragama lain, seperti dalam pembuangan di Babel, ia harus mengusahakan "kesejahteraan kota" itu dan berdoa untuk mereka (Yer 29:7 - syalom untuk bangsa yang berkuasa atas mereka!). Ia tidak punya panggilan untuk "mengyahudikan" bangsa-bangsa lain, namun ia punya misi - atau lebih tepat: peranan dalam misi rekonsiliasi Allah - terhadap bangsa lain (yaitu menjadi berkat, dan menjadi saksi yang setia tentang keesaan Allah, perintah-Nya, keadilan-Nya dan tindakan-tindakan pembebasan-Nya).

Tidak ada hak istimewa bangsa ini di hadapan Allah. Sebaliknya, ia punya kewajiban khusus dalam hubungannya dengan Allah dan membutuhkan rekonsiliasi lebih dari bangsa-bangsa lain karena ketidaktaatannya kepada Tuhannya. Kebutuhan rekonsiliasi mencakup baik aspek individual maupun aspek kolektif (yang tidak dapat dipisahkan), dan berhubungan dengan kesalahan atau pelanggaran kultis, religius, yuridis dan moralis. Bangsa Allah dipanggil terus-menerus untuk bertobat kepada Allah.

Rekonsiliasi punya peranan yang sangat besar dalam kultus12. Salah satunya adalah ritus penebusan melalui korban. Dengan menjalankan aturan-aturan ritual hubungan antara seorang secara individual atau sekolompok secara kolektif dengan Allah bisa dipulihkan kembali. Beban dosa ditebus (di samping syafaat, doa, puasa dll.)misalnya lewat korban bakaran (binatang) atau seekor kambing jantang yang secara simbolis dibebankan dengan dosa-dosa manusia dan diusir ke padang gurun (bdk Paskah Im 16; Bil 29 - "kambing jantang dosa" atau "kambing hitam"). Korban tersebut menjadi wakil untuk menerima murkah dan hukuman yang terkait dengan dosa atau pelanggaran yang telah dilakukan.13 Korban memberikan penggantian. Darah yang ditumpuhkan berarti pendamaian untuk kehidupan bagi yang mempersembahkan korban itu14.

Ritus rekonsiliasi tersebut tidak akan meniadakan kesalahan atau tanggung jawab si pedosa, melainkan menghalangi akibat atau efek yang membawa murka untuk si individual atau kolektif. Persyaratannya adalah penyesalan yang jujur dan pengakuan kesalahan yang terbuka serta kesediaan untuk bertobat dan hidup kembali sesuai dengan kehendak Allah. Namun pelaksanaan ritus tidaklah otomatis menjamin rekonsiliasi dan penghapusan dosa, melainkan ini merupakan tindakan Allah yang bebas (bdk Im 4; Kel 34:6-7).15

Berhubungan dengan hari raya orang Yahudi yang besar, Yom Kippur (Yom hak-Kippurim) atau "Hari Rekonsiliasi" (bdk "liturgi rekonsiliasi Im 16), juga ditekankan bahwa pengampunan baru berlaku, kalau - dalam hal pelanggaran dalam hubungan antarmanusia - kerugian digantidan rekonsiliasi dengan orang yang dirugikan telah dicapai (bdk Bil 5,7)16. Para nabi dengan tegas mengritik praktek kultus yang hanya bersifat munafik dan tidak berhubungan dengan keadilan dan perdamaian antarmanusia: "Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka ... Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir." (Amos 5:21-24; bdk. Hos 6:6; Yes 1:10-17; Yes 58:6-8; Mi 6:6-8). Keadilan dan kebenaran (bdk Mzm 98:9) menjadi ukuran untuk keabsahan rekonsiliasi.17 Aspek rekonsiliasi ini juga nampak dalam aturan-aturan sabat, tahun sabat dan tahun yobel (Im 25; bdk. Kel 23:10-11; Ul 15:1-18; Bil 36:4; Im 27:16-25) yang dihubungkan dengan aspek pembebasan untuk semua ciptaan (membiarkan tanah dan binatang-binatang, membebaskan hamba-hamba, menghapuskan utang-utang...).

Misi rekonsiliasi Allah juga menuntut sikap kerendahan hati dari bangsa Israel. Melayani untuk rekonsiliasi bahkan bisa berarti bersedia untuk menderita. Itu dicerminkan dalam Deuteroyesaya dan Tritoyesaya tentang "hamba Tuhan yang menderita". Hamba Tuhan menjadi gambaran bukan hanya untuk misi seorang nabi atau untuk mesias yang akan datang, tetapi model untuk misi rekonsiliasi Israel. Hamba Tuhan dalam kidung pertama digambarkan sebagai orang pilihan yang dipanggil untuk menjadi model perjanjian Allah dengan dunia, sehingga ia dapat menjadi "perjanjian bagi umat manusia dan terang bagi bangsa-bangsa" (Yes 42:6)18, dan - dalam kidung kedua - "agar keselamatan Allah sampai ke ujung bumi." (Yes 49:6). Ia hidup dan mati bahkan bagi mereka di luar lingkup batasan ras dan bangsanya sendiri. Dalam Yes 50 dan Yes 52/53 hamba itu digambarkan sebagai murid atau tokoh yang menderita karena kesetiaannya dan bahkan "mati bagi kepentingan orang banyak": "...dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan (perdamaian) bagi kita, ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita akan sembuh" (Yes 53:5)19. Misi Israel dalam Yes 52:13 -53:12 terutama dipahami dalam rangka solidaritas dengan penderitaan dunia di sekelilingnya, dan melalui itu menjadi "penyembuh yang terluka". Israel (disini dalam konteks pembuangan di Babel, di mana Israel sendiri mengharapkan pembebasan dan menjadi penerima "ganti rugi" melalui "korban penebus salah (asham)"20) menjadi berkat untuk bangsa lain bukan dari posisi yang kuat, superior, eksklusif dan triumfalistik, dan juga bukan sebagai "korban yang tidak bersalah" dalam arti wacana korban21, melainkan dalam "solidaritas sesama korban".

Tujuan dan visi rekonsiliasi adalah "perjanjian abadi" (Yes 55:3): "...biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku (berit syalom -~wlv tyrb) tidak akan bergoyang" (Yes 54:10; bdk Yeh 34:25; 37:26).

Konsep Perjanjian Lama tentang ~wlvsyalom adalah konsep perdamaian yang sangat holistik. Di satu sisi, syalom adalah kata ucapan selamat sehari-hari, di sisi lain punya arti religius yang sangat mendalam. Syalom tidak memisahkan perdamaian dengan Allah (tidak ada "individualisasi" dan spiritualisasi") dari perdamaian dengan manusia, tidak memisahkan perdamaian rohani dengan perdamaian jasmani dan sosial.22 Syalom adalah anugerah Allah dan sekaligus tanggung jawab manusia. Syalom sebagai pengalaman iman, panggilan etis dan harapan untuk masa depan melampaui tradisi-tradisi kaku dan permusuhan terhadap bangsa lain dalam Perjanjian Lama23.

Memang tidak dapat disangkal bahwa perhatian masih dipusatkan kepada peranan sentral bangsa Israel dalam sejarah keselamatan Allah. Tetapi simbol-simbol identitas yang eksklusiv telah dibuka seperti dalam visi tentang ziarah bangsa-bangsa ke bukit Sion: "Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah Tuhan akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari kita naik ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman Tuhan dari Yerusalem." Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedang menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang Tuhan!" (Yes 2:1-5). Kalimat terakhir itu - "...mari kita berjalan dalam terang Tuhan" - membuat visi syalom yang universal itu menjadi misi rekonsiliasi untuk damai sejahtera untuk seluruh dunia dan alam semesta.24

Saya mau menyimpulkan "misi rekonsiliasi dalam Perjanjian Lama" dengan sebuah simbol untuk perjanjian (tyrb berit) Allah sebai dasar rekonsiliasi dan syalom (~wlv) Allah sebagai visi dan misi rekonsiliasi, yaitu pelangi dan burung merpati yang membawa sehelai daun zaitun (dari kisah tentang air bah dan perjanjian dengan Nuh Kej 5-9): Pelangi sebagai tanda rekonsiliasi antara Allah dan manusia, dan antara manusia yang begitu beranekaragam. Merpati sebagai duta perdamaian yang membuka kemungkinan untuk kehidupan baru di tengah keadaan yang tanpa harapan.


B. Rekonsiliasi dalam Perjanjian Baru


Catatan kaki:

1 Dietrich Bonhoeffer, dikutip oleh Widi Artanto, Menjadi Gereja Misioner, hlm. 125

2 bdk A.A. Yewangoe, Pendamaian, hlm 86: "Manusia menempatkan dirinya di dalam perlawanan terhadap panggilannya sebagai manusia."

3 jadi, "dosa asal" manusia merupakan peristiwa histrois dan bukan suatu takdit yang fatalistis ("apa boleh buat..."). Manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas dosanya, dan bukan "kekuasan yang magis dari luar", "struktur-struktur" dll yang dapat dipersalahkan.

4 bdk Widi Artanto, op.cit., hlm. 151-152; Choan-Seng Song: Christian Mission in Reconstruction, hlm.205-212

5 Yewangoe, op.cit., hlm 85

6 bdk rumus perjanjian "Tuhan akan menjadi Allahmu...dan engkau akan menjadi umat-Nya" Ul 26:17-18 dll.

7 Inilah sebuah "utopia eskatologis" (Martin Buber, bdk Yewangoe, op.cit. hlm 91) yang berada dalam ketegangan yang kreatif antara "sudah" dan "belum": suatu visi yang belum nyata (Bahasa Yunani: u-topos - tidak atau belum punya tempat), tetapi sudah punya implikasi-implikasi real sebagai sumber pengaharapan dan motivasi untuk tingkah laku.

8 Ayat ini sering disalahpahami seolah-olah mau membenarkan logika balas dendam. Padahal, yang dimaksud disini adalah anti-eskalasi kekerasan dan membatasi logika balas dendam: Jangan "mata" di ganti dengan langsung membunuh orang (seperti sering menjadi pengalaman dalam spiral kekerasan), tetapi "hanya" dengan mata.

9 Seharusnya Kitab Suci orang Yahudi itu tidak disebut "Perjanjian Lama" oleh orang Kristen solah-olah tidak berlaku lagi, tetapi "Perjanjian Pertama" atau bisa juga disebut "Rekonsiliasi Pertama Allah dengan manusia".

10 David Bosch, Tranformasi Misi Kristen, hlm. 26

11 seperti dari kepercayaan orang Kanaan kepada EL (sementara di sisi lain kebanyakan elemen dari kultus BAAL ditolak dengan tegas). Ini adalah kesaksian tentang suatu interaksi yang dinamis antara mendefinisikan batasan yang jelas untuk agamanya sambil mampu membuka diri untuk suatu sinkretisme yang kreativ, tetapi yang ditentukan oleh kriteria pernyataan Yahwe dalam sejarah Israel.

12 Th.C. Vriezen, dikutib oleh A.A. Yewangoe, op.cit., hlm 108: "...di Israel kultus dimaksudkan untuk memeliharakan persekutuan antara Allah dan manusia, untuk tetap memurnikan ... kultus adalah dimaksudkan untuk tiba pada pendamaian."

13 bdk Johann Meier, Schuld und Versöhnung im Judentum, dalam: Bernhard Mensen (ed): Schuld und Versöhnung in Verschiedenen Religionen, Nettal: Steyler Verlag 1986, hlm 21-37

14 Yewangoe, op.cit., hlm 109

15 Dengan kata lain: pemulihan itu berasal dari Allah, dan bukan merupakan hasil perbuatan atau jasa manusia, tetapi perbuatan Allah yang bebas dan berdaulat (Kel 33:19; Mzm 86:5; 103:8; Yes 33:8; Mi 7:18,19; bdk Yewangoe, op.cit., hlm 107). Yewangoe, hlm. 107/108: "Pengampunan itu terjadi demi kemuliaan Nama-Nya (Mzm 25:11; 79:9; Daniel 9:19). Kurban dilaksanakan, tetapi tidak memaksudkan sebagai upaia untuk memperoleh pengampunan. Kurban dilaksanakan karena (...) ada Perjanjian (...) Hanyalah Allah adalah Allah perjanjian dan Israel adalah bangsa perjanjian, maka pengampunan itu mungkin dan senantiasa menjadi kenyataan (...) Pengampunan dianugerahkan dalam hubungan dengan syafaat di dalam doa dan kurban (...) Jadi pengampunan mendahului kurban yang dipersembahlan."

16 Yewangoe, op.cit., hlm 110: "Kurban pada dirinya tidak mempunyai arti apa-apa apabila tidak ada ketaatan kepada Allah. Kurban pada dirinya tidak mempunyai kekuatan untuk mendamaikan."

17 bdk David Bosch, Transformasi Misi Kristen, hlm 26: "Setiap kali umat Israel memperbarui perjanian mereka dengan Yahweh, mereka akan mengakui bahwa mereka memperbarui kewajiban-kewajiban mereka kepada korban di dalam masyarakat."

18 Widi Artanto, hlm 146 menyimpulkan: "Misi kehambaan dalam Yes 42 ini menekankan presensia (kehadiran dan hidup) yang dinamis di tengah-tengah mereka yang lain. Presensia dengan demikian tidak bisa dikatakan pasif sama sekali karena si hamba harus hidup "berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah". Ini adalah suatu "universalisme dari bawah" (E.G. Singgih)."

19 E.G. Singgih menekankan bahwa "bukan hanya tafsiran Kristologis saja yang kita dekonstruksikan tetapi juga kaitannya, yaitu bahwa penderitaan Hamba Tuhan terjadi sebagai ganti penderitaan orang lain. Israel menderita demi untuk bangsa-bangsa lain (yang juga menderita), tetapi tidak menggantikan tempat bangsa-bangsa." (E.G.Singgih, Penyembuh yang terluka. Komunitas Kristiani dan perjuangan mematahkan lingkaran kekerasan di Indonesia, Bahan PA Seminar Agama-Agama tentang "Agama dan Rekonsiliasi, Balitbang PGI, Salatiga 19 September 2000, hlm 5).

20 bdk E.G. Singgih, hlm 6-7

21 E.G.Singgih dengan sangat jelas menuntut, bahwa "bahasa dan wacana korban" itu harus ditinggalkan. Israel (dan dalam konteks kita: gereja) harus keluar dari wacana bahwa dia sendiri selalu menjadi korban (yang secara moralis tidak bersalah), ditindas dan sebagainya, dan dia yang selalu memikul kejahatan orang lain dan penderitaan yang disebabkan dari luar, melainkan memahami kembali identitas dan misinya dalam "identifikasi antara pergumulan bangsa-bansa dengan Israel, dan pergumulan orang yang disembuhkan dengan orang yang menyembuhkan" (hlm 7). "Kalau komunitas Kristiani selalu hanya ingin melihat diri sendiri sebagai korban, ia secara ideologis dan psikologis terhalang untuk melihat bahwa ada komunitas lain juga yang telah jadi korban atau sedang dikorbankan" (hlm 8).

22 Oleh karena itu, kata syalom tidak dapat diterjemahkan dengan satu kata saja, melainkan mencakup beberapa aspek rohani dan jasmani, seperti: keamanan, kemakmuran, kepuasan, kesehatan, pengenapan, kebahagiaan, damai yang fisik, damai jiwa, keselamatan, penyembuhan secara holistik...

23 Memang harus diakui bahwa dalam Perjanjian Lama dan sejarah Israel terdapat juga tradis-tradisi "teologi perang" yang cukup kuat, yang mencoba membenarkan perang dengan misi atau kehendak Allah. Pemahaman ini akan ditolak sama sekali dalam Perjanjian baru, tetapi sudah dalam Perjanjian Lama sendiri sikap tersebut sering dikritik secara tegas dan dilampaui oleh visi syalom.

24 Bdk juga: Mzm 85:9-12: "Aku mau mendengar apa yang hendak Allah, Tuhan. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasih-Nya, supaya jangan mereka kempali kepada masa kebodohan? (...) Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit." Yer 29:11-14a: "Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah friman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."