Wacana Perempuan dalam Dialog Agama-agama

Yuberlian Padele

 

 

Ketika warna-warni kembang menyatu dalam taman,

mataku tak ingin beranjak, sebab aku menikmatinya

dan akupun berucap:

"keberagaman warna-warni memantulkan kesempurnaan keindahan,

kesamaan warna memantulkan sebagian dari keseluruhan keindahannya

sebagian tak dapat dikatakan utuh

sebab yang utuh jika sebagian-sebagian menempati tempat

menurut polanya masing-masing

dalam satu tataan keutuhan"

 

Lalu anak perempuan itupun

mempersembahkan tataan kembang berwarna-warni

yang dipetiknya dalam taman yang utuh

demi KEUTUHAN itu sendiri.

Lian Padele

 

I. Kotak-kotak Kehidupan: Warisan Patriarkhi

Sejarah agama-agama dunia telah mengakibatkan suatu keretakan persaudaraan sejati antar umat manusia. Tuntutan berdasarkan konsep agama (baca:gereja) yang eksklusiv pada sisi luarnya telah menimbulkan suatu konsep misi yang lebih memberi kesan terhadap penekanan kuantitas penganut agama daripada kualitas beragama. Agama-agama misioner, bagaikan partai-partai politik yang berkampanye kemana-mana dalam bingkai untuk menarik minat pengikutnya, dengan mempergunakan gagasan keselamatan serta kebenaran eksklusiv. Bukan hanya antar agama tetapi inter-agama pun pada akhirnya menimbulkan suatu kecurigaan dan ketegangan tersendiri. Kalangan agama kristen protestan misalnya, yang mempunyai lebih dari 20-an aliran, seringkali menimbulkan ketegangan di antara kalangannya sendiri akibat dari tuntutan yang lebih menekankan ekslusivitas. Di kalangan mereka telah saling mencurigai gagasan-gagasan kebenaran dogma, sehingga tidak segan-segan mereka saling menghujat kebenaran-kebenaran dogmatis. Apatah lagi jika memandang agama lain!

Ketika agama kristen memasuki wilayah nusantara ini sejak empat abad yang lalu sesungguhnya telah turut terbawa oleh gagasan bahwa wilayah yang belum kristen adalah wilayah yang gelap. Bahkan lebih keras lagi disebut sebagai wilayah kafir, yang perlu diterangi oleh Injil. Pekabaran Injil lalu berarti memberitakan kebenaran yang secara mutlak hanya bersumber pada Injil. Extra Ecclesia nulla salus sebagai keyakinan gereja yang terpelihara sudah berabad-abad itu, mengarahkan gereja pada agresifitas dan memandang agama-agama lainnya sebagai sasaran serta yang tidak memiliki kebenaran. Agama misioner pada akhirnya di bawah masuk ke wilayah eksklusivitas, yang tidak segan-segan memakai kekerasan.

Kebudayaan yang merupakan semangat kehidupan bersama dalam suatu komunitas yang dengannya individu mengintegrasikan dirinya, menyetujui pendapat Cliffort Geertz, yang sangat terkait dengan semua adat, kebiasaan dan tradisi-tradisinya masuk dalam kategori yang kafir, yang perlu ditinggalkan. Nama-nama Allah, yang sangat meresap di jantung kehidupannya, bahkan yang menjadikan penganutnya merasakan suatu "tremendum et fascinorum", meniru ungkapan Rudolf Otto, kemudian diganti dengan nama lain yang sangat asing bagi dia. Seorang kepala suku di daerah Sulawesi Tengah misalnya, ketika mendengar nama Isa pertama kali, ia lalu menghubungkan dengan orang asing, yang berkulit putih serta tinggi, yang berjanggut tebal memenuhi sebagian dari kedua belah pipinya, serta yang berpakaian setelan berwarna putih, sebagai Isa. Engkaukah Isa itu? Jikalau engkau Isa, yang menurut tuturmu sebagai yang berkuasa mengatur kehidupan alam dan manusia, cobalah engkau menurunkan hujan di daerah kami yang sudah begitu lama mengalami kemarau. Demikian pula pada salah satu percakapan di tempat yang lain, masih di daerah pedalaman Sulawesi Tengah, ketika nama Isa diganti lagi dengan nama Yesu’ (menurut logat daerah untuk menyebut Yesus). Sang kepala suku bertanya lagi, siapa pula Yesu’ itu. Apakah saya masih harus mempercayai pemberitaanmu jikalau engkau terus membingungkan saya dengan nama asing yang berbeda-beda? Untuk membuktikan kekuasaan Yesus seolah-olah dialah Allah Alkitab yang melampaui kekuatan ilahi sebagaimana yang sudah terlanjur dihayati oleh komunitas yang dihadapinya, Missionaris itu kemudian mengupayakan pengasingan masyarakat dari jantung kehidupannya dengan melakukan pencangkokan jantung kehidupan yang baru dengan ditunjang oleh sistem irigasi pertanian, sistem kesehatan modern, serta sistem pemukiman baru.

Pengalaman A. C. Kruyt dan Adriani dalam pemberitaan injil di Poso, secara tersirat memperhadapkan paling kurang dua hal: pertama, bagaimana gereja dalam pemberitaan yang sudah berabad-abad lamanya, lebih memberitakan tentang Yesus sementara Yesus sendiri memberitakan tentang Kerajaan Allah. Kedua, bagaimana suatu proses "pencangkokan" jantung yang baru sesudah membuang jantung asli yang menurut para missionaris tidak lagi dapat berfungsi secara maksimal, sebagai suatu proses pengasingan dari akar-akar kebudayaan. Untunglah A.C. Kruyt dan Adriani, sepakat untuk tidak cepat-cepat melakukan upacara inisiasi ala kristen. Mereka dengan begitu bersabar, menunggu lebih kurang 16 tahun untuk mensosialisasikan Injil sebagai suatu bentuk kebudayaan baru dengan mempertimbangkan bentuk-bentuk kebiasaan/adat yang dapat dan yang tidak dapat dipertahankan lagi. Inilah awal "peradaban baru" sekaligus permulaan proses pengasingan budaya di daerah tersebut. Tidaklah heran jikalau ajaran-ajaran kebudayaan baru hanya merupakan sebuah pembabatan pohon di atas permukaan saja tetapi akar-akar serabut tetap tertancap kuat di dalam sanubari sang insan, yang sesekali tunas-tunasnya lebih nampak tumbuh di atas permukaan. Perubahan kebudayaan Injil, menurut hemat saya akan tetap menawarkan keterasingan jikalau masih melihat dengan kaca mata hitam ke suatu wilayah yang belum kristen. Upaya untuk menghilangkan kesan tersebut dilakukan oleh Richard Neibuhr dalam bukunya yang sangat cemerlang "Christ and Culture". Apa yang dilakukan oleh Niebuhr nampaknya tidak didasarkan pada gagasan totalitas kehidupan. Ia masih sangat sulit memahaminya oleh karena ia sendiri sudah terbiasa dengan cara pandang yang melihat secara eksklusiv terhadap Injil. Niebuhr berupaya melawan konsep sub-ordinasi Injil terhadap kebudayaan namun pada akhirnya ia tidak berhasil keluar dari penjaranya sendiri, sebab Niebuhr masih melihat bahwa transformasi kebudayaan berarti keunggulan dari injil itu sendiri.

Gagasan totalitas kehidupan, sebagaimana yang dihayati dalam kebudayaan Timur, sangat menarik diuraikan oleh Rahmat Subagya dalam bukunya, "Agama Asli". Seluruh kegiatan keseharian manusia dihayati sebagai ritus itu sendiri. Kehidupan itulah ritus. Jikalau kebudayaan sebagai spirit kehidupan, maka kebudayaan sebagai sumber moralitas, nilai dan spirit. Kebudayaan itulah agama. Agama menjadi esensi masyarakat, demikian mengikuti Durkheim. Agama menjadi sumber nilai, spiritual dan moral.

Sayang sekali, sebagaimana yang saya sebutkan terlebih dahulu, bahwa penganut agama memahami agama sebatas suatu institusi belaka. Apalagi jika agama dipahami secara etimologis, tidak kacau (a gama), maka agama jatuh sama dengan hukum, aturan, undang-undang. Bapak-bapak sebagai pejabat yang sudah sejak awal menguasai intitusi agama, kemudian menyetir kehadiran institusi dari pengalaman dan tuntutan gambaran laki-laki yang memiliki kekuasaan, otoriter dan superior sama seperti ketika mereka memposisikan perempuan berdasarkan gambaran seksualitas konvensional yang membawa dampak pada ketidakadilan gender. Ketertutupan yang disertai dengan pandangan sub-ordinasi seperti ini, memungkinan bertumbuhnya interpretasi-interpretasi yang sangat eksklusiv serta berkembangnya fanatisme institusi agama secara berlebihan. Hal inilah yang menyebabkan penganut-penganut agama terlanjur hidup dalam kotak-kotak kesuciannya sendiri-sendiri berdasarkan kategori kebenarannya masing-masing. Mereka saling menganggap najis, tak suci dan tak layaklah manusia yang berada di luar komunitas agamanya. Penganut-penganut agama, tua-muda, laki-laki-perempuan sudah terhisab dalam kotak dan pandangan seperti ini, sehingga gagasan beragama seperti ini telah melahirkan ketegangan antar kotak-kotak yang di pagari oleh aliran-aliaran listrik yang setiap saat dapat terjadi ketersinggungan kabel yang menimbulkan sumber api. Kotak-kotak komunitas umat manusia menurut agama, suku, strata, kelompok mengarah ke saling mencurigai. Pada akhirnya mengaburkan pandangan jikalau bukan menurunkan nilai manusia lainnya yang berada di luar kotaknya sendiri. Kecurigaan-kecurigaan yang tertumpuk dan mengeras pada ujung-ujungnya akan mencuat ke permukaan, ketika di antara kotak-kotak kehidupannya, mereka tidak saling menyapa, tidak terbuka dan tidak lagi tulus dalam hidup berdampingan secara bersama-sama. Kehidupan beragama seperti inilah yang mudah sekali di pakai untuk melanjutkan kepentingan-kepentingan ekonomis, politis segelintir manusia yang hidup dibalik selubung agama, yang sudah terlanjur memiliki kekuasaan, otoritas serta wibawa. Memahami agama sama dengan hukum, peraturan atau sama dengan institusi sesungguhnya merupakan ungkapan yang mengurangi nilai agama. "Memiliki" agama tidak sama dengan "menjadi" beragama. "Menjadi " beragama lebih menekankan pada sikap hidup menurut Hans Kueng. Gagasan Hans Kueng tidak berbeda dengan gagasan totalitas. Kehidupan adalah ritus. Sikap hidup yang bersumber dari bagaimana berhadapan dengan Tuhan. Segala sesuatu, manusia dan lingkungan, harus dilihat sebagai emanasi ilahi, sehingga setiap insan manusia mengandung nilai keilahian. Inilah esensi sikap hidup yang mengagama.

 

II. Dialog sebagai Rekonsiliasi.

Atas dasar pemahaman terakhir di ataslah wacana pendamaian harus dibangun. Rekonsiliasi total bukan berarti perdamaian antar yang bertikai saja-sebagaimana menjadi wacana rekonsiliasi nasional sekarang ini. Sebuah rekonsiliasi yang kemudian hanya diwakili oleh tokoh-tokoh elit politik atau tokoh-tokoh adat saja, yang pada umumnya adalah suatu wacana rekonsiliasi dalam perspektif laki-laki, yang lebih sering menggunakan kekuasaan dan dominasi secara hirarkhis-patriarkhis. Rekonsiliasi secara keseluruhan tidak dapat diwakilkan, sebab luka akibat konflik tidak dirasakan oleh kelompok yang memiliki hak-hak yang lebih dalam banyak hal, namun justru yang menjadi korban adalah kelompok yang sangat lemah, termasuk perempuan dan anak-anak. Sekalipun demikian perlu dicermati tawaran rekonsiliasi yang hanya melibatkan perwakilan-perwakilan tertentu. Barangkali lebih cenderung dikatakan bukan rekonsiliasi tetapi pertemuan. Rekonsiliasi tidak sama dengan pertemuan.

 

Rekonsiliasi mengandaikan suatu keberanian auto kritik terhadap baik wacana maupun sikap hidup yang lama, sebagai keterlanjuran-keterlanjuran masa lalu di hadapan satu dengan yang lain dalam bimbingan hikmat. Rekonsiliasi mengandaikan suatu perubahan cara pandang, cara memahami realitas dan sesama manusia. Manusia yang terkotak-kotak di balik pagar kawat beraliran listrik tegangan tinggi dapat dilumpuhkan dengan mematikan sama sekali aliran listrik tegangan tinggi dan menggantikan dengan pagar kembang-kembang yang berwarna-warni. Kehadiran kembang akan merangsang tumbuhnya cinta, cinta melahirkan sapaan dari ketulusan nurani. Hanya ketulusan cinta yang mendorong untuk berani mengucapkan pengakuan. Pengakuan terhadap kesalahan, sekalipun sakit bagi yang mendengarkannya juga dipahami sebagai kategori ungkapan cinta. Ungkapan cinta berarti juga pengakuan terhadap kesalahan melihat dan memahami satu dengan yang lain dalam keterbatasan pengenalan - bukan sekedar mengetahui - akan satu dengan yang lain. Saling mengakui kesalahan menilai, memandang, memahami yang terlanjur dibatasi oleh penjara ekslusivitas. Dengan demikian, esensi rekonsiliasi yakni menemukan kembali vitalitas religiusitas. Penemuan hanya diperoleh melalui suatu pencarian makna totalitas atau keutuhan kehidupan dan keutuhan kehidupan didapatkan melalui keberanian berdialog. Jadi totalitas kehidupan adalah dialog itu sendiri.

 

Dialog yang intensif akan semakin meyakinkan bahwa esensi ketuhanan melekat pada diri Tuhan itu sendiri, yang kemudian dipahami secara berbeda-beda oleh setiap agama. Sapaan-sapaan ketuhanan sebagaimana yang dibahasakan oleh setiap agama merupakan bagian dari ungkapan manusia yang hanya menangkap percikan-percikan dari keseluruhan dari keutuhan pengertian Kebenaran (Tuhan). Tuhan tidak dapat disamakan dengan agama. Agama hanyalah semacam "tabung gas" yang hanya dapat menampung secara terbatas oksigen yang tidak terhingga sehingga sarana mengurung oksigen dalam jumlah terbatas tidak sama dengan ruang yang tidak terbatas yang menampung keseluruhan oksigen. Sebagian tidak dapat disamakan dengan keseluruhan. Oleh karena itu, pluralitas lebih bermakna bagi keutuhan pemahaman. Dialog dalam arti hadir, mendengar, mengalami, memahami dan mentransformasikan pengalaman dalam kerangka memperkaya spiritualitas dari bagian-bagian lain. Agama-agama lain, bagaikan sumber mata air yang daripadanya kitapun mendapat kesejukan dan bahkan menambah kesuburan tanaman di tanahmu. Dengan demikian dialog bukan sekedar metode namun dialog sebagai rekonsiliasi itu sendiri. Rekonsiliasi total berarti dialog secara total.

 

Dialog sebagai rekonsiliasi melibatkan totalitas kehidupan manusia. Dialog seperti ini mengisyaratkan kedewasaan sikap hidup. Kedewasaan sebagai produk kedirian yang selalu mencari makna. Pencarian makna berarti terbuka terhadap seluruh realitas, termasuk realitas yang menyakitkan sekalipun. Justru realitas yang berhadapan dengan tantangan-tantanganlah sebagai arena untuk mengasah ketajaman pencarian makna sekaligus pembentukan kedirian. Pencarian makna kemudian menjadi sikap hidup. Perempuan yang ditempah dengan realitas kehidupan yang menantang, baik dalam rumah, di luar rumah, keprihatinan anak-anak dan masa depan keluarganya bahkan masa depan bumi adalah bagian integral dirinya dari saat ke saat. Hikmat dan kreaktivitas, ketabahan dan harapan justru muncul dari kondisi yang ruwet namun yang tetap dituntun oleh pencarian makna hidup. Oleh karena itu, rekonsiliasi (pendamaian) sama dengan dialog sebagi sikap hidup yang menyentuh totalitas hidup.

 

III. Pengalaman-pengalaman Perempuan dalam Berdialog.

 

Naluri kepekaan yang ter-asah, menghantar kepekaan yang tak terdiamkan .

lian padele

 

Memulai kegiatan Forum dialog (FORLOG) di Makassar, dengan tanpa dukungan sumber dana tertentu sejak dua tahun lalu. Tiga puluh tujuh anggota forum kemudian menyisihkan uang transportasinya masing-masing sesudah mengikuti SEMILOKA yang dilakukan oleh Interfidei Yogyakarta di Makassar. Inilah awal terbentuknya kelompok yang anggotanya terdiri dari beragam suku, agama dan ketrampilan serta pendidikan, termasuk warna kulit, model mata, model rambut serta jenis kelamin. Perjumpaan awal dalam semiloka tersebut juga sempat menimbulkan ketegangan. Tentunya ini merupakan wujud dari ketidakbiasaan saling menyapa, saling bertemu dalam suatu komunitas yang berbeda latarbelakang. Hidup bersama selama lebih kurang empat hari secara intensif, kemudian melahirkan suatu kesadaran-kesadaran baru: berani terbuka, saling mendengar keyakinan yang berbeda-beda, yang di dasarkan pada pengenalan yang sangat dalam menjadi modal awal bagi kami untuk melanjutkan komunitas baru yang mempunyai komitmen pendamaian.

Konflik Maluku yang baru merebak pada waktu itu, menimbulkan ketegangan yang sangat tinggi di Makassar. Pembakaran salah satu kompleks tempat tinggal sekaligus rumah ibadah di Makassar menjadi tantangan khusus bagi Forum menyusul upaya pembakaran Mesjid Istiqal di Jakarta. Sementara itu para pengungsi dari Maluku semakin banyak yang tiba di Makassar yang menambah luapan-luapan emosional tertentu sehingga pada waktu itu, khusus yang bukan muslim sangat waspada menghadapi kondisi tersebut. Kompleks STT INTIM Makassar dan asramapun mendapat penjagaan pihak militer. Suasana kota Makassar pada waktu itu sungguh-sungguh dalam keadaan tegang. Di suatu siang seluruh penghuni asrama STT sedang makan siang, tiba-tiba suara gemuruh kendaraan yang sedang berkonvoi sambil meneriakan yel-yel anti kristen melewati jalan Cendrawasih. Sayapun sebagai "ibu" asrama pada waktu itu, menghampiri ruang makan dan menganjurkan agar mereka makan dengan tergesa-gesa dan segera ke tempat yang aman. Suasana dalam ruang makan yang menampung lebih kurang dua ratus mahasiswa, kocar-kacir dan hiruk pikuk. Ada yang membawa piring yang masih berisi makanan, ada yang segera meninggalkan meja makan sambil berlari menuju ke tempat yang dianggap aman, menurut kesepakatan kami. Sekarang saya menertawakan sikap saya dalam situasi pada waktu itu, namun sekaligus juga saya sadar bahwa inilah wujud sikap yang tak bijak pada saat terjadi ketegangan.

 

Dalam kondisi seperti itu, FORLOG yang masih belum berpengalaman mencoba menjaring beberapa kawan-kawan LSM dan memuat pernyataan-pernyataan bersama di media cetak maupun media elektronik: Radio dan TVRI lokal. FORLOG juga menyebarkan ke masyarakat luas, stiker-stiker yang mendorong ke arah perdamaian-perdamaian. Secara khusus, FORLOG membuat kontrak kerja dengan salah satu Radio Swasta, untuk membuka siaran interaktif dalam upaya-upaya perdamaian dari perspektif: agama-agama dan budaya. Pengalaman lain, suatu peristiwa, surat kabar lokal memuat berita arus pengungsi warga muslim yang cukup besar tiba dari Maluku dan di tampung di salah satu kompleks ABRI. Saya dan beberapa anggota FORLOG termasuk Pdt. Yulianus Mojau, MTh, berkunjung ke tempat penampungan pengungsi, mendata mereka dan melihat kebutuhan yang diperlukan. Abiddin Wakano, M.Ag., salah satu anggota FORLOG yang ikut berkunjung, dengan tulus memperkenalkan kami lengkap dengan seluruh identitas (menyebut Pendeta) ke beberapa pimpinan yang sedang mengatur para pengungsi. Saya merasakan juga suasana agak berubah ketika kawan saya menyebutkan identitas kami. Beberapa orang bergerak ke luar pintu asrama penampungan dan salah seorang mendekati saya dan meminta kami segera meninggalkan tempat tersebut sebab mereka mempunyai acara khusus. Kami lalu berpamitan ke luar. Salah seorang yang cukup di kenal masyarakat, berdomisili di Jakarta yang hadir pada waktu itu mengiringi kami sampai dipertengahan jalan sambil menceritrakan ketakutannya ketika kawan kami memperkenalkan identitas kami. Kamipun kembali dan mengandai-andai dengan pengalaman yang baru kami alami. Kami kemudian mengunjungi donatur-donatur dan menyalurkan bantuan-bantuan sosial.

 

Sementara benturan-benturan di Maluku masih berlanjut berdampak pada gerakan-gerakan anti Kristen di Makassar tetap berlanjut. Pada akhir tahun 1999 waktu perayaan Natal dan Bulan Ramadhan berlangsung, FORLOG membuat suatu acara khusus Buka Puasa bersama. Kawan saya, Pdt. Aty dan Markus Hildebrant-Rambe, dosen di STT INTIM bergabung dalam kegiatan-kegiatan FORLOG memberi ide untuk itu. Acara tersebut biasa-biasa saja. Acara yang biasa ini kemudian dimuat dalam surat kabar lokal dengan judul: Buka Puasa di Rumah Pendeta. Judul berita yang sangat kontrovisial dengan kondisi masyarakat pada waktu itu. Ada sekian banyak kegiatan yang dilakukan oleh FORLOG yang kebetulan dipercayakan pengkordinasiannya terhadap seorang perempuan. Keterlibatan perempuan dalam realitas konflik seperti ini, mempraktek totalitas hidup dan konsep dialog sebagai rekonsiliasi menjadi kekuatan sekaligus daya dorong dalam pengabdian bagi terciptanya keutuhan hidup.

Gagasan totalitas hidup diwujudkan dalam program-program yang bukan sekedar menyentuh tataran wacana tetapi diiringi dengan tindakan yang nyata yang menukik sampai kedasar-dasar kehidupan dan melebar menyentuh bagian yang kadang terlupakan dan terpinggirkan. Program-program untuk mencabut lalang-lalang liar di antara kembang-kembang taman yang tak terpelihara dengan baik agar kembang-kembang itu hidup leluasa tanpa gangguan sang ilalang. Program yang bukan hanya mengenyangkan kegersangan intelektual sebagaimana kebanggaan sekaligus keutamaan dalam sistem patriarkhi, tetapi juga harus diimbangi dengan mengasah kepekaan nurani sebagai wujud intelektual yang disemangati oleh spiritualitas yang peka terhadap realitas kehidupan. Program-program yang coba menanam kembang-kembang berwarnawarni diantara halaman kotak-kotak yang dahulunya dipasang aliran listrik bertegangan tinggi, sehingga kita saling tersenyum, bercanda dan bermain bersama tanpa kecurigaan di satu taman bunga yang penuh dengan keberagaman warna. Setiap warna memancarkan cahaya yang memiliki daya tariknya sendiri yang bukan berarti saling melebur warna. Ada keutuhan antara keyakinan dan tindakan, kognitif dan afektif. Keutuhan seperti ini mengisyarakan keberanian mendialogkan ketimpangan-ketimpangan yang terlanjur kita bangun dan hidupi selama ini. Inilah rekonsiliasi. Duduk bersama, mendengar, auto kritik sebagai ungkapan cinta, ungkapan pengakuan yang tulus terhadap keterlanjuran masa lalu sambil menatap bersama ke depan.

Tak ada kecurigaan yang didapati darimu, jika ketulusan cinta yang menyemangati sikap hati berdialog. Betapa tentramnya hati ini, manakala aku berada di antara kawan-kawanku yang sedang sujud berdoa di rumahku disaat jam-jam sholat, jika mereka sedang bertandang di rumah. Tak mungkin kami dapat menikmati keterbukaan seperti ini tanpa disemangati oleh sikap hidup. Sikap hati yang diwujudkan dalam kerelaan menerima tanpa pamrih sebab mimpi indah ingin dinyatakan dalam realitas damai:

 

Ketika anak-anak kandungan bumi yang berwarna-warni

tidak lagi saling mendendam, tidak saling berantam atau melukai

apalagi saling membunuh.

Sebab cukuplah bumi ini

dialiri darah hangat dari ibumu,

ketika ia melahirkan kamu.

 

Janganlah membuat saudaramu yang lain,

bumi ini,

menelan mayat yang mati sebelum waktunya

sebab,

mereka telah berjanji,

ketika ari-arimu di pindahkan ke perut bumi

dirimu menyatu dengan bumi

untuk memberi kedamaian

Bagi yang merintih dan menahan sakit

ketika engkau datang ke bumi.

 

Engkau hadir dan berpijak di bumi ini

karena cinta

engkau perlakukan segenap mahluk

demi cinta

dan

engkau wujud cinta.

 

Kepustakaan

 

Clifford Geertz, Tafsir Kebudayaan, Yogyakarta, Kanisius, 1991

Hans Kueng, Christianity and the World Religious, Fount, London, 1987

J. Kruyt, Kabar Keselamatan di Poso, Jakarta, BPK, 1977

Richard Neibuhr, Christ and Culture, New York, Harper & Brothers

Robert N. Bellah, Emile Durkheim: On Morality and Society, London, The University of Chicago Press, 1973.