Pendidikan Teologi dalam Kemitraan

 

Disampaikan sebagai tanggapan terhadap materi-materi panel diskusi dalam rangka Dies Natalis ke-52 STT GKI “I.S.Kijne” Jayapura, tanggal 23 September 2006 di Kampus STT GKI

 

 

Bapak, Ibu,  Saudara-saudari yang saya hormati, selamat siang,

 

Sekarang ini jika kita perhatikan, hadir di STT GKI “I.S Kijne” Jayapura dosen-dosen dari manca negara, baik itu dari Negeri Belanda, dari Australia, Amerika Serikat atau dari Jerman. Pemandangan ini sudah berulang bertahun-tahun dan  menjadi biasa bahwa ada “orang-orang putih” yang menjadi staff dosen di STT GKI “I.S Kijne”. Tentu saja perlu dicatat bahwa belum ada dosen-dosen kita yang berasal dari Negara-negara di Asia dan Afrika.

 

Dari STT GKI sendiri ada dosen-dosen tetapnya yang bertugas ke daerah lain atau manca negara untuk melakukan studi lanjut (S2 atau S3) atau berbagai bentuk Pelatihan Ketrampilan. Kenyataan ini kita hanya bisa lihat dari ketidak-hadirannya di kampus ini dan kedatangan mereka kemudian dengan title dan pengetahuannya yang baru dan segar.

 

Kita ketahui kenyataan lain bahwa ada kelompok mahasiswa dari STT GKI yang belum lama ini mengadakan perjalanan ke Australia untuk memperdalam Bahasa Inggris mereka. Suatu kesadaran yang patut diperhitungkan, sebab pengetahuan berbahasa Inggris memiliki peranan yang penting dalam memperkaya wawasan dengan membaca buku-buku dari Amerika dan Inggris, atau Belanda dan Jerman misalnya yang biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris serta siap untuk bertemu dan berdiskusi dengan mitra kita dari bagian dunia yang lain. Mengingat ada banyak pengalaman bergereja yang dialami oleh saudara-saudara kita di Amerika Latin atau Afrika selatan yang sama dengan pengalaman Gereja-gereja di Papua, tetapi belum terjembatani sampai kini.

 

Sebaliknya saya belum sempat bertemu mahasiswa yang datang dari Negara lain untuk melakukan studi di sini walau untuk satu atau dua semester saja misalnya.

Pertukaran Dosen atau mahasiswa di Indonesia sendiri, di kalangan Sekolah-Sekolah Tinggi Teologi atau Fakultas Teologi itu telah terjadi.

Saya melihat suatu contoh pada Program Pasca Sarjana S2 di STT GKI bahwa ada Dosen-dosen tamu dari Salatiga misalnya yang menghadiri seminar dan memberi kuliah kepada Mahasiswa. Ada pula Karyawan atau dosen-dosen tamu dari STT lain di Indonesia yang hadir dalam rangka pelatihan ketrampilan tertentu di Papua. Sebaliknya ada pula Dosen dan Theolog Papua dalam kapasitasnya masing-masing diundang untuk memberikan pandangan dan ilmunya pada kesempatan-kesempatan seminar atau studi berbagai tema, ke Jakarta, Yogyakarta dan daerah-daerah lain di Indonesia.

 

Ada banyak Bentuk Kemitraan dalam Pendidikan Teologi.

 

Saya bertanya, apakah memang suatu Pendidikan Teologi itu mungkin terjadi atau berlangsung tanpa Kemitraan. Dalam Jemaat-jemaat pertama ada suatu diskusi yang hidup diantara pemimpin dan anggota jemaat bahkan perdebatan masalah-masalah teologi antar jemaat satu dengan lainnya. Dalam Kisah Para Rasul kita mendapati konfrensi gereja yang pertama yang membicarakan masalah-masalah teologi yang sangat penting dan kritis. Sedangkan Rasul Paulus berkomunikasi dengan jemaat-jemaat yang didirikannya melalui surat-suratnya.

 

“…. Seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebiasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.”

2 Petrus 3:15.16

 

Jadi ada kebutuhan tukar-menukar teologi dengan penuh hikmat dan saling menghargai, termasuk di dalamnya bahaya dari salah mengerti, tetapi selalu berada dalam pengharapan bahwa hanya dalam kebersamaan yang berbeda kita mampu untuk menangkap sinar-sinar terang Injil Yesus Kristus.

 

Setelah pendahuluan ini saya ingin menyoroti Latar Belakang dari

Pendidikan Theologi dalam Kemitraan.

 

I.                   Periode Misi yang lalu

II.                Periode Kemitraan  Masa kini

III.             Periode Oikumene Mendatang

 

 

I.                   Periode  Setelah Misi

 

Ketika Misionaris Ottow dan Geissler datang dari Jerman ke Papua pada tahun 1855, tidak ada pemikiran tentang apa yang kita istilahkan “Kemitraan”.

Mereka datang untuk memberitakan Injil Yesus Kristus. Mereka tidak melihat hasil dari usaha mereka. Tetapi mengerjakannya dalam pengharapan.

 

Kemudian, setelah orang Papua pertama dibabtiskan, tumbuhlah jemaat pertama dan jemaat-jemaat berkembang hingga di tahun 1956 berdirilah Gereja GKI –TP yang mandiri.  Selama 100 tahun (dari 1855 – 1956) sudah menjadi kebiasaan bahwa orang-orang Kristen Eropa datang dan mengatakan kepada orang-orang Papua apa yang harus dikerjakannya. Tidak ada arti kemitraan yang menonjol disana, karena lebih banyak yang terjadi adalah mengajar dan berkhotbah.

Sehingga bisa saja posisi manusia dalam misi saat itu dapat digambarkan sebagai subyek dan obyek. Orang-orang Eropa adalah Subyek dan orang-orang Papua adalah Obyek.  

 

Karena Pengertian Misi (Zending) dibatasi oleh latar belakang Orang Kristen Eropa yang datang ke Papua dengan latar belakang Kepercayaan Suku (pagan). Mereka tidak tertarik membicarakan agama, anthropologi atau budaya orang Papua waktu itu.

Para Misionaris Eropa pada umumnya hanya ingin mengajarkan ketrampilan yang mereka miliki dan memberitakan Injil Yesus Kristus menurut interpretasinya. Mereka belum melihat bahwa sejalan dengan masuknya Injil yang mereka bawa, masuk pula budaya dan kebiasaan-kebiasaan konteks Eropanya.

Selanjutnya, pokok ini menjadi menjadi masalah besar yang bertahan sampai saat ini. Yang sampai saat ini didiskusikan dalam tema: “Injil dan Kebudayaan”.

 

Situasi tahun 1855 dan sekitarnya itu masih dapat kita temukan sekarang ini di daerah terpencil Papua, dimana ada suku yang belum langsung menerima pemberitaan Injil Yesus Kristus. Dan sebagai Mahasiswa Theologi atau lulusan STT GKI yang kelak ditugaskan sebagai vikaris atau pendeta di sana bukan tidak mungkin mereka akan mengalami kesulitan-kesulitan seperti halnya Ottow dan Geissler.

Perbedaannya adalah: Mereka adalah orang-orang Indonesia dan Papua yang telah belajar Misiologi, Anthropologi, juga Teologi Kontekstual, juga mengenal pendekatan-pendekatan psikologis dan pastoral, sehingga dengan ilmu-ilmu ini diharapkan mereka lebih menjawan persoalan-persoalan yang muncul dalam Pemberitaan Injil, antara lain, masalah Injil dan Kebudayaan.

 

Yang terpenting adalah dengan bekal ilmu yang diterimanya, sangat diharapkan para tamatan sekolah Teologi dapat menemui orang-orang yang mau diinjili dengan penuh penghargaan sebagai Mitra dan penuh perhitungan terhadap adat-budaya, serta konteks dimana Injil diterjemahkan.

Seperti ada tertulis

 

“Bukan karena kami mau memerintahkan apa yang harus kamu percayai, ...

  sebaliknya kami mau turut bekerja untuk sukacitamu.”

  2 Korintus 1:24

 

 

II.                Periode Kemitraan Masakini

 

Setelah perang dunia II berakhir th.1945, Dewan Gereja Gereja se-Dunia didirikan di Amsterdam th.1948. Selama masa Peperangan banyak Misionaris menjadi tawanan atau harus meninggalkan karya penginjilan mereka. Banyak diantara mereka yang berpikir bahwa bakal-bakal jemat mereka itu pasti mati, karena  orang-orangnya kembali kepada kepercayaannya yang lama.

Namun yang terjadi adalah sebaliknya.

Sebetulnya setelah tahun kemerdekaannya, Indonesia dimata kekristenan bukan lagi negara yang seluruhnya terdiri dari masyarakat pagan (Agama Suku).

Karena sudah ada jemaat-jemaat, dan Gereja-gereja yang struktural organisatoris berdiri sendiri. Gereja-gereja di Indonesia bertumbuh dan orang-orang Indonesia sendiri mengambil alih karya penginjilan. Mereka mulai dengan Lembaga Alkitabnya, Dewan Gerejanya (sekarang PGI), Seminari dan Sekolah-sekolah Teologinya sendiri, serta membangun Teologinya yang mandiri dan kontekstual.

 

Ironis memang, kalau orang berpikir bahwa Penjajahan, Perang Dunia I dan II, yang dialami oleh Orang Percaya di dunia, bahkan Pagan Indonesia waktu itu, asalnya dari dunia Kristen Eropa. Juga tidak bisa disangkali bahwa meskipun telah ada kemandirian dalam berteologi dan bergereja, namun pengaruh nilai-nilai Barat dalam arti tertentu masih dirasakan dominan sampai kini.

Meskipun demikian telah berkembang kesadaran bahwa Kekristenan di Indonesia bukanlah Obyek, melainkan Subyek/Pelaku dari sejarah Gerejanya sendiri.

 

Dalam Konfrensi Misinya yang ke IV pada tahun 1947 di Whitby/Canada,

The International Missionary Council menyatakan, bahwa sebenarnya tidak boleh ada lagi sebutan “Gereja Tua dan Gereja Muda”, sebaliknya Gereja-gereja Tua di Eropa dan Gereja-gereja Muda di Asia harus menerima mereka masing-masing sebagai “Mitra Dalam Ketaatan”/ (“Partners in obedience”) dan bekerjasama dalam menyebarluaskan Injil Yesus Kristus ke seluruh dunia.

 

Tidak ada lagi Status Muda dan Tua diantara Gereja-gereja. Gereja yang muda adalah sungguh sungguh gereja dalam pengertiannya di dunia yang memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti juga gereja-gereja yang tua. Tidak ada lagi ruang lingkup Kafir dan tanah air buat Kekristenan. Seluruh dunia menjadi ruang lingkup/ Lahan Pekabaran Injil termasuk Eropa dan di seluruh dunia dapat kita temukan jemaat-jemaat termasuk di dalamnya apa yang disebut dunia ketiga.

 

Sekarang ini kita memiliki fenomena yang aneh, bahwa gereja-gereja yang “kaya” di Eropa dan Amerika tidak sadar akan konteksnya, tetapi sangat tertarik pada konteks Papua. Dipihak lain Gereja Papua yang “miskin” lebih sadar akan konteksnya, tetapi merindukan secepat mungkin menyesuaikan diri dengan standart Orang Barat. Oleh karenanya, mereka tidak lagi tertarik usaha-usaha teologi kontekstual dan budayanya, kecuali untuk tujuan adat dan keparawisataan.

 

Contohnya, Teolog-teolog muda berbakat yang berasal dari dunia ketiga diundang untuk memimpin Penelahan Alkitab dari dalam konteksnya pada suatu Konfrensi Oikumene, hasilnya sangat mengecewakan karena semua mereka telah menyelesaikan studi Pasca Sarjananya di Amerika atau di Eropa dan menggunakan  metode dan buku-buku yang sama dengan tidak lagi mengangkat referensi konteks negaranya.

 

 

Bagaimana orang bisa mengambil keuntungan dari standart Teologi barat dan sejalan dengan itu tidak menunjukkan referensi yang penuh penghargaan terhadap konteks gerejanya sendiri? Bagaimana mungkin Teologi kontekstual di Papua  dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi teologi kekristenan di dunia sekarang ini? Saya yakin bahwa setiap konteks memiliki keunikannya sendiri-sendiri dan cukup kaya dan berharga untuk dibagikan kepada gereja dan budaya yang lain di dunia ini.

 

Sejauh ini secara resmi Gereja kita hidup dan bekerja dalam Kemitraan, tetapi selalu muncul persoalan bahwa sebagai Mitra ada sikap “tidak menghargai satu terhadap yang lain” sebagaimana mestinya. Kita harus jujur bahwa masih ada Kesombongan-kesombongan di bidang Ekonomi, Budaya bahkan Theologi diantara Gereja-gereja Barat berhadapan dengan gereja-gereja di Indonesia. Di lain pihak saya melihat Korupsi Finansial maupun Akademik yang membudaya di Indonesia.

 

 

III.             Periode Oikumene Mendatang

 

Kami bergembira melihat bahwa tidak hanya ada kemitraan antara GKI-TP dengan Kerk en Aktie di Blanda, VEM di Jerman (keanggotaan), Basel Misi 21,

SIL atau gereja-gereja lain di Amerika Serikat, Australia dan Filipines, tetapi juga keanggotaan GKI-TP dan kedudukan resminya dalam Badan-badan oikumene seperti Dewan Gereja seDunia, Persekutuan Gereja-gereja di Asia dan di Indonesia, juga dalam suatu badan kerjasama oikumene yang belum lama dibentuk di Papua, Persekutuan Gereja-gereja di Wilayah Papua. GKI Papua juga memegang peranan kepemimpinan yang penting dalam program “Papua Tanah Damai” bersama pemimpin umat dan pemeluk agama-agama lain di Papua.

 

Demikianlah apa yang dapat saya gambarkan sebagai usaha/karya oikumene yang di tampilkan oleh pemimpin dan Teolog GKI-TP tetapi usaha-usaha oikumene di tingkat jemaat sangat miskin atau tidak ada. Ada banyak ketidak-pastian dalam diri GKI-TP dalam menentukan bagi dirinya apakah itu perbedaan Agama, Gereja lain atau sekte. Jika kita memiliki badan oikumene di tingkat lokal dan regional, maka pengetahuan berbagai gereja saudara akan dapat dibagikan dan bertumbuh dikalangan akar rumput serta menghasilkan benih-benih kerjasama yang konstruktif, yaitu lebih dari sekedar “mencuri domba”, dan menghakimi satu dengan yang lain, karena tidak berjalan dalam terang Firman Tuhan.

 

Mahasiswa STT GKI “I.S. Kijne” seluruhnya adalah mahasiswa yang berasal dari  jemaat-jemaat GKI-TP dan tidak ada kontak resmi dengan Sekolah-sekolah Teologi Gereja-gereja saudara yang bertetangga.  Sebenarnya adalah mungkin untuk menyelenggarakan secara rutin, kuliah-kuliah atau kursus-kursus umum bersama-sama.

 

 

 

Pada saat STT Jakarta didirikan (HTS “Hogere Theologische School” th. 1934) ia menjadi sentrum dari pertemuan para teolog muda dari hampir seluruh Indonesia yang memiliki berbagai macam latar belakang gereja. Pada saat mereka studi bersama, banyak dari mereka yang menjadi teman-teman seumur hidup, dan persahabatan mereka dengan penghargaan terhadap teologi masing-masing memainkan peran yang penting dalam gerakan oikumene di Indonesia.

 

Apakah sumbangan STT GKI terhadap pembelajaran Oikumene? Dalam tahap yang mana atau dalam hal apa jemaat-jemaat dan Klasis-klasis dapat melibatkan diri dalam pembelajaran oikumene? Peran apakah yang dapat di lakukan oleh jemaat-jemaat dan klasis-klasis yang berhubungan mitra di Papua dan di Luar Negeri bagi Pendidikan teologi di Papua?

 

Pendidikan Teologi dalam Kemitraan baru saja dimulai dan dibangun dalam menggumuli issue-issue Hak Asasi Manusia, HIV/AIDS, dan Pembangunan Masyarakat, tetapi juga dalam pertanyaan-pertanyaan dogmatis yang tradisional, seperti penelitian-penelitian yang dibuat dalam rangka “Persatuan Gereja-gereja/ Keesaan” (Una Sancta) dan kemungkinan untuk merayakan Perjamuan Kudus secara bersama-sama.

 

Pendidikan Teologi dalam Kemitraan bukanlah suatu pelengkap semata-mata dalam tetapi adalah dasar dan syarat mendalami secara baru keyakinan yang lama. Jika kita hanya tinggal di “Pulau Teologi“ kita, maka kita akan kelaparan. 

 

Kita perlu meninggalkan sejenak pandangan atau pikiran-pikiran teologi, ayat-ayat Alkitab favorit dan budaya kita untuk memenangkannya kembali dengan pengertian yang lebih dalam. Jika kita tidak berani berkaca pada cermin budaya yang berbeda maka pengenalan diri kita sendiri menjadi tidak lengkap.

 

Semoga Allah memberkati kita dengan semangat untuk selalu bertanya, kekuatan untuk mematikan prasangka negative dan hikmat untuk menyambut wawasan transformatif Injil Tuhan kita Yesus Kristus.

 

 

 

Sentani/ Jayapura

23rd of September 2006

Rev.Wolfgang Marquardt

UEM United Evangelical Mission Wuppertal/ Germany

 

 

 

 

 

 

Theological Education in Partnership

 

Panel discussion 52nd Dies Natalis STT GKI “I.S.Kijne” Jayapura

23rd of september 2006 Campus STT GKI 08.00 am – 17.00 pm

 

There are docents from the Netherlands, Australia, the US or Germany at the STT GKI “I.S.Kijne” at Jayapura. This has become quite familiar already for many years. Some white people belong to the staff at the STT. But so far we did not have yet any docents from other Asian countries or from Africa.

 

There are docents from the GKI-TP Gereja Kristen Injili di Tanah Papua abroad in other countries to do their S2 or S3 or for other further theological training. This we experience as absence at our STT and we only can see the result when they come back with their title and their knowledge.

 

We have student groups traveling from here to Australia for a language course to learn the English language. The knowledge of the English Language plays a decisive role if we want to use books from abroad and are ready to meet and discuss with other colleagues from churches all over the world. However I have so far not yet seen any students from abroad coming to the STT GKI to study here for a few semesters.

 

But even within Indonesia we have this kind of exchange, for example the S2 program together with Salatiga including Indonesian guest docents coming for a few weeks to teach at our seminary or Papuan docents going to Jakarta or Yogyakarta to teach there.

 

There is much Theological Education in Partnership.

 

I wonder if Theological Education would at all be possible without any form of partnership. In the first parishes there was a vivid discussion among the leaders and members and even struggle about theological issues among the different congregations. In the book of Acts we find the first church conferences on crucial theological issues. The Apostle Paul communicated by letters with the parishes he had founded.

 

“… Just as our dear brother Paul also wrote you with the wisdom that God gave him. He writes the same way in all his letters, speaking in them of those matters.

His letters contain some things that are hard to understand, which ignorant and unstable people distort, as they do to other Scriptures, to their own destruction.”

2 Peter 3:15.16

 

There needs to be theological exchange in mutual respect and wisdom, including the danger of misunderstanding, but always in the hope that we only together are able to catch the light beams of the one light which means the gospel of Jesus Christ.

After this short introduction I would like to show the background of “Theological Education in Partnership” in three steps:

 

I.                   The past period of mission

II.                The present period of partnership

III.             The future period of ecumenism

 

I.                   The past period of mission

 

When the first missionaries Ottow and Geissler came 1855 from Germany to Papua there was no thought about “Partnership”. They came to bring the gospel of Jesus Christ. They didn’t see the fruits of their efforts themselves. But they went on in hope. Later on, after the first Papuans had been baptized, parishes came up and finally in 1956 the independent Protestant Church of Papua arose. But within these 100 years between 1855 and 1956 it was usually European Christians telling the Papuan Christians what to do. There was no sense of partnership, rather teaching and preaching.

The Europeans were the subjects, the Papuans the objects.

 

The self understanding of the missionaries (“zending”) was to come from a Christian European background to a Pagan Papua background. Usually they were not interested in religion, anthropology and culture – all they wanted was to bring the gospel. At that time they couldn’t see yet that together with the gospel they brought the European context and culture of that time. Later on this became a big problem and remains a problem until present times. It is nowadays discussed as the problem of “Gospel and Culture”.

 

The situation of 1855 actually still exists in remote areas of Papua. There are still tribes which have not yet heard the gospel or only heard about it by rumors. When our students and vicars go there, they meet almost the same difficulties as Ottow and Geissler. The difference is: They have studied missiology and should be able, to understand the problem of “Gospel and Culture”.

 

With this knowledge, they can meet these people in mutual respect, honor their “Budaya and Adat” and translate the Gospel into their context as partners, as it is expressed in 2 Corinthians 1:24: “Not that we lord it over your faith, but we work with you for your joy …”

 

 

II.                The present period of partnership

 

After the Second World War ended in may 1945 the World Council of Churches was founded 1948 in Amsterdam. During war time many missionaries became prisoners or had to leave their evangelistic work. Most of them thought the “young” parishes would die and go back to their old beliefs.

But the opposite happened.

The churches in Indonesia grew and Indonesian people took over. They started their own Bible Society, their own Ecumenical Council, their own theological seminaries and even their own contextual theology. It was a big shock for them that such a catastrophe as the Second World War came from the so called “Christian Europe” to the so called “Pagan Indonesia” – but Indonesia already wasn’t completely “pagan” anymore. There were already parishes, pastors and the beginning of independent church structures. The western values were still dominant and are in a certain sense until today. But the self understanding of Indonesian Christianity was not as being objects any more but of becoming subjects of their own (church) history.

 

In the International Missionary Council’s fourth Mission Conference of 1947 in Whitby/ Canada it became obvious that there are no longer “old” and “young” churches, but that the old European and the young Asian churches should accept each other as “Partners in obedience” and work together for to spread the Gospel all over the world. There is no longer a different Church status between old and young churches. The young churches are real churches in the full sense of the word and have the same rights and duties as the old churches. At the same time there grew the insight that there are no longer any Pagan mission fields and Christian home countries. The whole world became a mission field including Europe and in the whole world you could find Christian parishes including the so called Third World.

 

Nowadays we have the somehow strange phenomena that the rich churches from Europe and the US are not aware of their own context but very strongly interested in the Papuan Context whereas the rather poor Papuan Church and Society is much more aware of its own context but longing to adapt to a so called Western Standard as quickly as possible and therefore doesn’t seem to be interested in the own context anymore, if not for tourists or special occasions.

To give an example: Young and very gifted theologians from different countries in the so called Third World were invited to present bible studies out of their mutual context at a ecumenical conference. The result was very disappointing, because all of them had done their postgraduate studies in the US or in Europe and used the same methods and books without any reference to their respective contexts of their home countries.

 

How can we profit at its best of western theological standards and at the same time be fully aware of our respective contexts? How can our contextual theology in Papua give a significant contribution to the Christian theology in our world today?

I am convinced that each context has its own uniqueness and is rich enough and worthy to be shared with churches in other cultures.

 

So far, our churches live officially in partnership but the partners are not

respecting each other in a proper way. There is still economic, cultural and even

theological arrogance among western people towards the Indonesian churches.

On the other hand I see financial and even academic corruption in Indonesia.

III.             The future period of ecumenism

 

We are glad to see that there is not only partnership with kerk en actie, VEM Vereinte Evangelische Mission Wuppertal/ Germany, the Basel Mission 21 in Switzerland, SIL or other churches in Australia, the USA or the Philippines, but also a clear membership of the GKI-TP in officially structured ecumenical bodies such as the WCC World Council of Churches, the CCA Christian Council in Asia, the PGI Indonesian Council of churches and the rather new foundation of the PGGP Papuan Council of churches. The GKI plays even a leading role in the all religions uniting program “Papua – Land of Peace”.

 

So far I see ecumenical efforts among our church leaders in Papua, but the

ecumenical efforts on the parish level are rather poor or don’t even exist.

There is still much confusion about what is a different religion, another church or a sect.

 

If we had local and regional Ecumenical Councils all over Papua the knowledge of each other among the Christian churches could grow on a grass root level and give the seed for fruitful cooperation – instead of “sheep stealing” and blaming each other for not walking in the Light of God.

 

Our STT consists only of GKI students and there is no official contact to the

many other Theological Seminaries such as the Roman-Catholic STFT next

door, the Baptist Theological Seminary, STT Walter Post or GIDI. It would be

interesting enough to have regular meetings or theological courses together.

 

When the STT Jakarta was founded in 1934 as the “Hogere Theologische School” (HTS) it became a center of young theologians from almost all over Indonesia out of very different church backgrounds. While studying together many of them became lifelong friends and these friendships in respective theological understanding played an important role in the Ecumenical Movement in Indonesia.

 

What is the contribution of the STT GKI to Ecumenical Learning?

To what level the parishes and church districts can be involved in

Ecumenical Learning?

Which role can the partnership relations among church districts in Papua and

overseas play for our Theological Education?

 

Theological Education in partnership has just started and is to be developed in crucial issues such as HIV/AIDS, Human Rights and Development but also in traditional dogmatic questions such as the search for unity of the churches

(Una Sancta) and the possibility to celebrate Holy Communion together among the different churches.

 

Theological Education in Partnership is not just something additional to Theological studies but it is basic and condition for new insights on old convictions. If we stay alone on our “Theological Islands” we will starve.

 

We need to take the effort of leaving for a while our favorite theological thoughts, favorite bible verses and culture – to win it again in a much deeper and understanding way.

 

If we are not ready to see ourselves in the mirror of a different culture our self awareness will remain incomplete and we will have difficulties to translate the gospel into a time of new challenges.

 

God may grant us the courage to ask, the power to quit prejudges and the wisdom to welcome new insights on the Gospel of our LORD Jesus Christ.

 

 

Sentani/ Jayapura

23rd of September 2006

 

Rev.Wolfgang Marquardt

UEM United Evangelical Mission Wupertal/ Germany

 

 

 

 

Gefragt, was er mit zehn Millionen Dollar machen würde, sagte Steiner erst kürzlich: "Ein Drittel würde ich für den Austausch zwischen Leuten spenden, die nichts miteinander anfangen können - nur so können wir neue Wahrnehmungen schaffen und wirklich etwas verändern.”

Achim Steiner, Nachfolger von Klaus Toepfer als UN-Chef fuer Umwelt in Nairobi/Kenia, Tagesschau vom 22.09.2006