Konseling Pemberdayaan Para Korban Kekerasan Sosial

Oleh

Pdt. Yustince S-Ternate

 

A.     Pendahuluan

Apapun alasannya dan bagaimanapun respon masyarakat, kekerasan sosial telah menimbulkan penderitaan dan mengundang masalah-masalah baru baik dari korban, pelaku kekerasan, keluarga para pihak korban dan masyarakat secara keseluruhan.  Ada luka yang jika dibiarkan seolah-olah mongering dan sembuh, tetapi bila tersentuh tak sengaja akan mudah terkorek dan terbuka kembali.  Luka itu kemudian menyimpan nanah menimbulkan rasa sakit dan dendam. Hal ini diakibatkan karena kekerasan sosial terjadi dipicu oleh manusia sendiri sehingga syarat dengan makna psikologis berupa kemarahan, kebencian dan dendam.  Sehingga dari sudut psikososial, dampak kekerasan sosial dapat menetap menjadi luka-luka kejiwaan yang membutuhkan perhatian dan proses yang lama di dalam penyembuhannya. Luka yang tidak ditangani dengan baik dan terus tertekan dalam waktu yang lama, dapat memunculkan masalah yang lebih besar/kompleks dan dimanifestasikan dalam bentuk tindakan-tindakan kasar dan kejam pada kelompok lain, dijadikan pembenaran untuk menyingkirkan atau memusnahkan yang lain. Bahkan menjadi luka warisan karena kedukaan yang dialami terus  tersimpan dan diturunkan secara turun temurun antar generasi (inberited grief), entahkah untuk sekedar dikenang atau karena ada unsur mendenam. 

Kekerasan sosial telah menghancurkan tatanan kehidupan masyarakat secara menyeluruh.  Sumber penghidupan hancur, situasi serba tidak menentu, kemiskinan, mengubah perilaku dan gaya hidup para korban, juga membawa perubahan-perubahan lainnya. Individu dan komunitas mengalami trauma dan tekanan hidup secara bertubi-tubi bahkan telah membuat kelompok masyarakat terisolasi satu dengan yang lainnya

B.  Kekerasan Sosial dan Dampaknya

1. Mengenal Locus Krisis dari Kekerasan Sosial

Kekerasan sosial merupakan salah satu bentuk dari krisis-krisis psikososial. Menurut Caplan, krisis dalam pengertian psikososial adalah “suatu keadaan kebingungan emosional dari seorang individu/suatu unit sosial, disebabkan oleh peristiwa-peristiwa yang menghambat mekanisme pembelaan/pemeliharaan equilibrium psikologi yang ada”.  Sedangkan Webster menyebut krisis sebagai suatu “masa yang gawat/kritis sekali” dan “suatu titik balik dalam sesuatu”.  Istilah ini sering digunakan untuk suatu reaksi dari dalam diri seseorang terhadap suatu bahaya dari luar.  Biasanya meliputi hilangnya kemampuan untuk mengatasi masalah selama sementara waktu, dengan perkiraan bahwa gangguan fungsi emosi dapat kembali seperti semula, sehingga jika seseorang dapat mengatasi ancaman itu secara efektif, maka ia dapat kembali berfungsi seperti keadaan sebelum krisis. Bagi Mesach Krisetya, “krisis adalah setiap peristiwa atau serangkaian keadaan yang mengancam suatu kesejahteraan pribadi dan menganggu kehidupan rutin tiap harinya ; membuat orang stress karena merubah kehidupan individu secara mendadak, sering implikasinya berkepanjangan.” Krisis dapat dibagi ke dalam tiga jenis yaitu :

1.                           Krisis yang tidak disengaja atau “SITUASIONAL”. Krisis ini terjadi terutama saat ada ancaman yang datang tiba-tiba, kejadian yang sangat mengganggu atau datangnya suatu musibah secara tak terduga. Seperti : kematian orang yang dicintai secara mendadak, pegalaman perkosaan, gangguan sosial berupa perang, kerusuhan, bencana alam dll.

2.                           Krisis ‘DEVELOPMENTAL’.  Yaitu krisis yang terjadi seiring dengan perkembangan normal seseorang dalam kehidupannya.  Waktu seseorang mau bersekolah, akil balik remaja ke pemuda, masuk ke perguruan tinggi, menyesuaikan diri dengan pernikahan dan perannya sebagai orangtua, menghadapi pensiun dll.

3.                           Krisis ‘EKSISTENSIAL’,  mempunyai pengertian tumpang tindih dengan pengertian kedua krisis di atas. Ada saatnya dalam hidup dimana kita diperhadapkan dengan kenyataan yang mengganggu, terutama tentang diri kita sendiri :  saya seorang yang gagal, saya tidak akan pernah sukses, saya sendirian, saya tidak mempunyai sesuatu untuk dipercayai, hidupku tidak mempunyai tujuan dll. Kesadaran-kesadaran seperti ini dan kenyataan-kenyataan lain yang serupa, memerlukan waktu yang cukup lama dan usaha dari kita untuk dapat menerimanya.  Kesadaran-kesadaran itu adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam presepsi diri dimana individu dapat menyangkalnya untuk sementara waktu namun pada suatu saat individu juga harus menghadapinya secara realistis jika ingin tetap meneruskan hidup dan memenuhi tuntutan-tuntutannya.  

Dengan demikian jelas bahwa krisis para korban kekerasan sosial, termasuk pada kelompok krisis situasional, karena pengalaman yang dialami merupakan pengalaman yang sangat mengancam/tidak menyenangkan dan terjadinya secara tidak diduga. Secara umum krisis dapat merupakan suatu masalah yang terlalu besar atau hebat ; Krisis dapat juga merupakan masalah yang tidak serius bagi kebanyakan orang, tetapi untuk orang-orang tertentu mempunyai arti khusus sehingga menjadi masalah yang hebat sekali baginya. Dalam situasi yang tidak dapat ditanggulangi krisis menjadi suatu beban yang dapat menjadikan orang tidak berdaya dan jika terus dibiarkan maka dapat menimbulkan dampak yang buruk.

2. Dampak Kekerasan Sosial

Hasil penelitian penulis di lapangan menunjukkan bahwa kekerasan sosial telah menimbulkan dampak buruk mencakup aspek psikologis, sosial teologis maupun fisik pada masyarakat yang mengalaminya. Seperti kemarahan terhadap lingkungan yang telah menghancurkan masa depan hidup sang korban,   menimbulkan kebencian, kepahitan yang dalam, juga depresi. Menjadi sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, baik dalam keluarga, pekerjaan, gereja, maupun lingkungan sosial lainnya.  Memiliki Konsep yang keliru tentang pribadi Allah sehingga dapat menghambat pertumbuhan rohani dan kedewasaan iman dan peka terhadap perkataan/nasihat-nasihat rohani atau sikap orang lain.  Mengalami gangguan kejiwaan yang dapat menggejala secara badani sebagai gangguan tubuh, dimana reaksi fisik terhadap perasaan gelisah biasanya berbentuk gangguan pencernaan, sakit kepala, gatal-gatal pada kulit,  sakit pinggang dll.

Dengan demikian jelas bahwa para korban kekerasan sosial mengalami suatu beban hidup yang sangat berat, dan karenanya perlu diberdayakan atau dalam bahasa pastoralnya “dipulihkan” agar  memilki kembali  kehidupan  yang normal baik secara psikis, fisik, sosial, maupun teologi. Persoalannya adalah bagaimanakah konseling pemberdayaan para korban itu dilakukan? Agar mencapai maksud sebagaimana diharapkan.

C. Teknik-Teknik Dasar Dalam Proses Konseling.

Pada kenyataannya, tugas dan tanggung jawab konselor tidaklah ringan. Konselor sebagai suatu proses bantuan, sangatlah menantang bagi seorang konselor, karena konseling sendiri merupakan proses yang kompleks. Konseling melibatkan dua pribadi (konselor dan klien) yang unik, dan berbeda dalam banyak hal. Konselor perlu menyadari bahwa, menghadapi individu yang sedang bermasalah perlu berbekal pemahaman tentang human behavior dan human beings. Selanjutnya dalam Suatu proses konseling, konselor perlu memahami dengan baik citra diri atau kualitas dirinya, karena hal ini akan mempengaruhi efektifitas suatu proses konseling. Sebagai manusia biasa konselor tidak lepas dari masalah, karenanya konselor harus peka terhadap dirinya, bahwa secara pribadi ia pernah, sedang atau akan bermasalah. Untuk itulah mutlak bagi seorang konselor untuk memahami beberapa teknik dasar dalam melaksanakan konseling. Beberapa pertanyaan mendasar perlu direnungkan : Apakah motivasi saya untuk menjadi konselor? Apakah potensi yang saya miliki menunjang untuk menjadi konselor? Adakah kendala-kendala dalam diri saya? Konselor perlu memahami secara utuh tentang siapa dirinya? Sudahkah saya menerima kekurangan dan kelebihan diri apa adanya? Sulit bagi seorang konselor untuk dapat menerima dan memahami orang lain apa adanya, tanpa terlebih dahulu menerima dan memahami dirinya sendiri. Hal ini merupakan modal dasar mengingat, konseling merupakan proses yang kompleks dan melibatkan dua orang pribadi yang berbeda dalam latar belakang, kebutuhan, pengalaman, nilai-nilai dan pandangan hidup.

Selain hal tersebut di atas, konselor pun diharapkan untuk mengembangkan:

1. Rapport : Hubungan baik yang perlu diciptakan oleh konselor dalam keseluruhan proses konseling, baik pada awal, pertengahan dan akhir konseling. Dalam menjalin rapport konselor perlu menjelaskan tujuan dan rambu- rambu konseling yang perlu disepakati bersama dengan klien. Konselor perlu memahami harapan klien dalam konseling dan sebaliknya klien juga perlu memahami harapan konselornya. 2. Empati: Konselor menciptakan kebersamaan dengan klien, berjalan bersama- sama, mengikutinya, mengarahkan dan membimbingnya, dalam menghadapi masalahnya. Konselor juga bersifat hangat, terbuka, bersahabat, peduli dan jujur, serta obyektif dalam memandang permasalahan klien, Konselor mencoba untuk berpikir dan merasakan segala sesuatunya bersama-sama dengan klien. 3. Unconditional Positive Regard – Acceptance: Konselor menerima dan menghargai klien secara apa adanya, tanpa syarat, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang klien miliki, konselor bebas dari sikap menghakimi. Memiliki pandangan positif tentang klien bukan berarti bahwa konselor setuju dan menerima begitu saja nilai-nilai den pandangan hidup klien. Tetapi yang utama adalah kemampuan konselor menerima klien apa adanya, menghargainya sebagai pribadi, tidak menghakimi perilakunya, dan juga tidak mencoba mempengaruhi klien dengan pandangan dan nilai-nilai hidup konselor. Biarkan klien bebas untuk bereksplorasi dengan perasaan dan pikirannya tanpa rasa takut disensor atau dikritik oleh konselor. Kondisi kondusif yang tercipta akan merupakan kesempatan baik bagi klien dalam mengembangkan personal awareness. 4. Congruence : Konselor dalam hal ini harus bisa menjadi dirinya sendiri seutuhnya. Konselor perlu memiliki harmoni dalam keseluruhan aspek hidupnya, Menyadari keterbatasan diri, tidak berpura-pura dalam bersikap dan tidak mencoba menutupi kenyataan tentang siapa dirinya. Bersikaplah jujur terhadap diri sendiri den klien, dan perlu adanya konsistensi antara kata dan perbuatan.

Kepada konselor diharapkan pula dapat memiliki sense of humor, self dicipline, self responsibility, positive self concept. Memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang karakteristik perkembangan manusia. Berpikir dan bersikap kreatif. Bersikap aktif dalam mengembangkan komunikasi baik yang bersifat verbal maupun non verbal. Secara verbal melalui penguasaan respon- respon konselor menyangkut : problem reflection of feelings, reflection of content, summary dan ability potential. Secara non verbal melalui bodi language, eye contact, facial expression. Terkait dengan kualitas diri tersebut di atas, ada beberapa hal yang perlu dihindari oleh konselor yaitu : Memberi nasehat, banyak bicara, terlalu membuka diri, memandang rendah klien, bersikap defensif, memprioritaskan kebutuhan dan nilai pribadinya. Memandang rendah diri sendiri karena pengaruh usia, pengetahuan dan pengalaman. Memiliki harapan yang berlebihan terhadap klien, inkonsisten dan subyektif, jangan memecahkan masalah secara langsung tetapi beri alternatif pilihan bagi klien.

D. Konseling Pemberdayaan Korban Kekerasan Sosial

Pemberdayaan atau memberdayakan artinya sungguh-sungguh menyediakan penguatan, tidak menciptakan ketergantungan, tetapi justru mengembangkan kemandirian dan kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri.  Sehubungan dengan hal ini maka dalam rangka konseling, konselor harus memperhatikan cara-cara local dalam upaya penyembuhan diri konseling.  Dengan memperhatikan adat istiadat, bahasa, budaya dan kebiasaan masyarakat setempat.  Agar maksud pertolongan yang mau disampaikan benar-benar dapat diterima dan bukannya menimbulkan salah pengertian.  Melalui teknik-teknik dasar konseling, selanjutnya konselor dapat mengembangkan konseling pemberdayaan para korban dengan metode ABCD, yaitu :

1.      Konselor harus dapat menciptakan suatu hubungan yang penuh percaya dan penuh perhatian.

2.      Tanggap terhadap masalah yang dihadapi konseli dan memadatkan problem/masalah konseli menjadi pokok-pokok utama.

3.      Menantang konseli untuk dapat mngambil tindakan konstruktif terhadap suatu pokok dari masalahnya yang dianggap sangat mendasar.

4.      Kembangkanlah suatu rencana aksi pertumbuhan. (selengkapnya tentang metode ABCD, lihat Howard Clinebell dalam Tipe-Tipe Dasar Pendampingan Dan Konseling Pastoral,  Jogjakarta : Kanisius, 2002, hlm 269).

Melalui metode ini diharapkan konselor dapat memahami masalah yang dihadapi konseli dan merencanakan tindakan pertolongan yang dapat diberikan dengan senantiasa memperhatikan agar konseli tidak terus bergantung pada konselor melainkan dapat mandiri. Sehubungan dengan itu, konseling pemberdayaan tidak dapat dilakukan lepas dari lapisan-lapisan masyarakat yang lain, mengingat masalah yang dihadapi koseling sangat kompleks.  Sehingga penting bagi konselor untuk membangun kerja sama atau meminta intervensi dari lapisan masyarakat yang ada seperti :

§         Dengan bagian medis untuk penanganan kesehatan atau yang terkait dengan masalah gangguan secara fisik.

§         Tokoh-tokoh agama (para pendeta dan ulama), untuk penanganan masalah-masalah spritual atau kehilangan arti hidup dari para korban.

§         Kelompok profesional (psikolog, psikiater dan pekerja sosial lainnya), untuk penanganan kasus-kasus sulit/khusus, pelaksanaan pelatihan-pelatihan pada pelatih (TOT) dll.

§         Pemerintah, untuk penyediaan sarana dan prasarana atau bantuan lain sesuai kebutuhan.

§         LSM, sebagai pintu masuk untuk menjembatani pengembangan hubungan dengan pihak-pihak penting dalam masyarakat.

§         Tokoh-tokoh masyarakat bahkan kaum awam untuk terbangunnya kapasitas local dan bertumbuhnya gerakan masyarakat akar rumput.

Kerjasama dengan berbagai pihak/lapisan masyarakat sebagaimana telah disebutkan, merupakan hal yang sangat penting karena semua pihak memiliki potensi dan perannya sendiri dalam upaya pemberdayaan para korban.  Dengannya diharapkan para korban kekerasan sosial dapat menerima realita hidupnya dan mandiri.

E. PENUTUP

Konseling sebagai proses yang kompleks dan penuh tantangan melibatkan dua pribadi secara utuh. Keterbukaan dan kehangatan dari kedua belah pihak, serta motivasi untuk rela membimbing dan dibimbing, berubah dan diubah akan merupakan kunci keberhasilan dari proses konseling. Ingat, sebagai pribadi dengan segala karakteristiknya klien berhak menentukan sendiri apa yang terbaik bagi dirinya berbekal arahan dan bimbingan dari konselor.

Selamat melayani GBU.

 

Sumber

 

Howard Clinebell, Tipe-Tipe Dasar Pendampingan Dan Konseling.Pastoral,  Jogjakarta : Kanisius, 2002.

Gary R.Collings, Christian Counseling: a Comprehennsive Guide, Dallas: Word Publishing, 1988.

H.Norman Wraight, Konseling Krisis, Malang: Gandum Mas, 1985.

Mesach Krisetya, Diktat Konseling Krisis, Salatiga : Fakultas Teologi UKSW,2002.

Kristy Poerwandari, Pemulihan Psikososial Berbasis Komunitas, Refleksi Untuk Konteks Indonesia, Jakarta : Kontras & Yayasan Pulih,2003.

- http://beritajkt.penabur.org Email: beritajkt@bpkpenabur.or.id