Sumber: www.oaseonline.org
Pengantar
Setelah beberapa tahun mengajar di bidang pastoral di Fakultas Theologia UKAW dan melakukan pembekalan tentang percakapan pastoral di kalangan majelis jemaat dalam wilayah pelayanan GMIT, maka kami telah menyaring sejumlah aspek praktis yang dianggap bermanfaat bagi mereka yang menerima tugas pelayanan pastoral di jemaat-jemaat kita. Sebagai seorang teolog, saya sebenarnya lebih mengutamakan dasar-dasar teologis yang menjadi tujuan dan landasan dari pelayanan kita. Namun sikap kita dan teknik pelaksanaan yang kita pakai untuk mencapai tujuan yang mulia itu tidak kalah penting. Entah apapun tujuan kita, kalau kendaraan yang kita pakai mengalami kemacetan, kita hanya jemur panas di pinggir jalan sementara menunggu montir.
Oleh karena percakapan adalah "kendaraan" yang paling banyak dipakai dalam pelayanan pastoral, maka dalam bahan yang sederhana ini kami menawarkan suatu pedoman percakapan pastoral sebagai "montir" dalam perjalanan pelayanan kita. Perhatian kita di sini ada pada teknik pelaksanaan. Ini bukan teologi pastoral, melainkan hanya satu alat yang perlu dikendalikan oleh iman kita demi kebaikan sesama yang hendak dilayani.
Definisi Pelayanan Pastoral
Dalam ilmu teologi pastoral ada bermacam-macam rumusan tentang inti pelayanan pastoral, tetapi untuk kepentingan kita di sini kami mengangkat satu definisi yang sudah agak terkenal, yaitu oleh Clebsch & Jaekle (1956):
Pemeliharaan jiwa, atau pelayanan pastoral, terdiri dari tindakan-tindakan pertolongan yang dilakukan atas nama gereja, dan yang menjurus kepada penyembuhan, pendampingan, bimbingan, dan perdamaian orang-orang yang bermasalah, khususnya berhubungan dengan masalah-masalah yang paling pokok dan mendasar dalam kehidupan manusia.
Beberapa hal perlu dicatat tentang definisi di
atas:
Atas nama gereja berarti bahwa tindakan pastoral tidak selalu jatuh
sama dengan apa yang kita buat sebagai orang pribadi, sebagai anggota
masyarakat, anggota keluarga, dan seterusnya.
Dalam pastoral kita mewakili gereja dan menjadi wadah bagi keprihatinan
gereja terhadap manusia. Kalau hal ini
tidak diperhatikan, dari satu segi kita bisa mencampur-baur kepentingan pribadi
dengan pelayanan gerejawi dan karena itu dicurigai oleh jemaat. Dari segi yang lain jemaat bisa mendapat
kesan bahwa kita melayani oleh karena kebaikan hati kita pribadi dan bukan
karena Kristus. Sedangkan tujuan yang
sebenarnya dari semua penggembalaan ialah supaya Allah dipermuliahkan baik
dalam tindakan kita sebagai pelayan maupun dalam kehidupan mereka yang
dilayani.
Hal yang berikut, dalam
definisi ini pastoral secara khusus ditujukan kepada mereka yang bermasalah, bukan saja mereka yang bersalah. Permasalahan yang dimaksud bisa berhubungan dengan suatu krisis
(sakit, duka cita, perkelahian) atau suatu tahap perkembangan yang membawa
perobahan yang mendasar (kebingungan remaja, pernikahan, rasa kehilangan oleh
orang yang baru pensiun, dsb.). Yang
penting di sini bahwa pastoral bukan sekedar alat disiplin gerejawi yang
dikhususkan bagi orang yang melanggar peraturan. Pelayan pastoral bukanlah polisi gerejawi.
Tujuan pastoral secara
konkrit akan bergantung pada situasi warga jemaat masing-masing, tetapi di sini
dirumuskan empat tujuan yang umum:
Penyembuhan: Kata Yunani yang dipakai dalam Perjanjian
Baru untuk keselamatan juga berarti penyembuhan. Dalam P.B. kesejahteraan jasmani tidak begitu dibedakan dengan
kesejahteraan rohani. Dengan demikian
perkunjungan pada orang sakit secara fisik ataupun kepada mereka yang sakit
hati termasuk sebagai tugas utama daripada penggembalaan. Tentu
kita berusaha dan berdoa supaya mereka sembuh/selamat, tetapi di sini ada
dua hal yang perlu diperhatikan.
Yang pertama, walaupun
perhatian kita paling diarahkan kepada iman, namun kita tidak bisa melepaskan
diri dari soal perawatan untuk menentukan bahwa semua sarana dan fasilitas
kesehatan yang tersedia sudah dimanfaatkan.
Dalam hal ini pastoral tidak mungkin dipisahkan dari diakonia.
Yang kedua, tidak semua
orang sakit dapat sembuh. Yang penting, kita
berusaha supaya kalau sembuh atau sakit, iman jemaat tetap bertahan dan
diperkuat (lihat Roma 8.35-39). Doa
yang lebih mengutamakan penyembuhan secara jasmani daripada iman itu sendiri
mengundang banyak jemaat kita untuk melihat doa sebagai semacam perlombaan. Siapa
punya doa yang paling unggul untuk menyembuhkan dapat juara satu. Sebenarnya kalau orang berdoa, lalu yang
sakit sembuh, itu tidak berarti ada karunia yang khusus bagi mereka yang
berdoa. Allah yang menyembuhkan, bukan
doa, entah doa oleh pendeta, penatua, kelompok doa atau dukun.
Pendampingan: Orang yang bermasalah seringkali rasa
seperti dikucilkan, ditinggalkan oleh orang lain. Ada jemaat yang menganggap bahwa mereka yang "bersalah"
atau dikenakan siasat tidak layak menerima pelayanan gereja, termasuk pelayanan
pastoral. Justru sebaliknya! Tugas
seorang gembala adalah untuk mendampingi dan menemani mereka yang seolah-olah
tidak ada teman lagi (band. Lukas
5.29-32, 15.3-7). Itu tidak berarti
bahwa kita mendukung kesalahan-kesalahan mereka, tetapi kita mencari kebaikan
yang masih ada pada mereka dan mendukung itu.
Kata
"pendampingan" dipakai di sini untuk menekankan bahwa kita tidak
tarik dari muka atau mengejar dari belakang, melainkan berjalan di sampingnya
sebagai kawan seperjalanan.
Bimbingan: Bukan saja orang yang sesat perlu dibimbing,
tapi juga mereka yang bingung. Dan
siapa diantara kita tidak bingung pada saat-saat tertentu? Yang penting di sini kita membimbing orang
bukan untuk ikut kemauan kita, tetapi bersama-sama mencari jalan yang tepat
bagi mereka. Percuma orang dibimbing
untuk ikut jalan ke tempat di mana mereka tidak mau atau tidak mampu
pergi! Bimbingan yang dimaksud paling
banyak terwujud dalam memberi informasi atau alternatif-alternatif pada jemaat,
atau membantu menjernihkan kenyataan yang sementara dihadapi.
Perdamaian: Sebagian besar masalah-masalah pastoral
bukan menyangkut diri satu orang saja, tetapi melibatkan beberapa fihak, entah
suami dengan isteri, anak dengan orang tua, keluarga dengan keluarga, atau suku
dengan suku. Seringkali masalah-masalah
seperti ini dalam jemaat-jemaat kita diselesaikan secara adat. Kadangkala juga ada yang beruntung karena
denda yang dikenakan. Mungkin ada
kebaikan juga dalam pendekatan adat ini, tetapi perlu dipertanyakan: Kesaksian macam apa ini, kalau jemaat harus
menyerahkan masalahnya kepada tua-tua adat, apalagi kepala desa, untuk diselesaikan? Apakah perdamaian secara adat membangun
persekutuan dalam jemaat atau hanya memperkuat tokoh-tokoh adat? Potong seekor babi dengan sendiri tidak
mungkin membangun Tubuh Kristus. (Kalau
pendamaian cukup dengan mengorbankan seekor babi, buat apa Yesus mati di kayu
salib?)
Tujuan pastoral di sini
ialah untuk mendamaikan satu dengan yang lain supaya kembali sehati sepikir
dalam persekutuan gereja atas dasar kasih
Kristus. Tidak mungkin kita ambil
sikap "asal tenang saja."
Nabi Yeremiah sudah menegur mereka yang "mengobati luka umatKu
dengan memandangnya ringan, katanya: Damai sejahtera! Damai sejahtera!, tetapi tidak ada damai sejahtera"
(Yer.6.14). Proses perdamaian menuntut
suatu pemahaman bersama yang sampai pada akar permasalahan. Dengan demikian, gembala sebagai pendamai
tidak mungkin menghindari pokok-pokok pertengkaran yang ada dalam jemaat,
melainkan dia harus menghadapinya dengan sabar, teliti, dan bijaksana.
Yang terakhir, kita perlu
mencatat bahwa dalam definisi di atas pelayanan pastoral disebut sebagai pemeliharaan jiwa. Istilah ini sangat kuno dalam gereja dan
mencerminkan suatu pemahaman bahwa seluruh jemaat dipanggil untuk bertumbuh
dalam iman, dan proses pertumbuhan itu menjadi tugas pemeliharaan dari seorang
gembala. Dengan demikian, penggembalaan
atau pastoral sebaiknya dilihat bukan sebagai tindakan-tindakan gembala pada
saat-saat yang tertentu, tetapi sebagai satu aspek atau perspektif yang
mewarnai seluruh pelayanan gereja. Berkhotbah,
melayani sakramen, mengajar KA/KR--semuanya ada unsur penggembalaan.
Beberapa Peringatan tentang
Tugas Pastoral
Belajar menjadi pelayan
pastoral juga berarti belajar untuk menghindari beberapa salah faham terhadap
tugas pastoral yang bisa menghalangi keberhasilan kita. Di sini kita mencatat beberapa sikap yang
kadang-kadang mempersulit pelayanan pastoral di kalangan GMIT. Mungkin bisa ditambah beberapa lagi dari
pengalaman anda sendiri.
Siapakah ingin didombakan? Dalam bahasa gerejawi, kata
domba lazim dipakai untuk seluruh
jemaat, dengan Yesus (diwakili oleh pendeta) sebagai gembalanya. Itu memang benar, tetapi kita jangan lari terlalu jauh dengan khiasan
itu. Dalam kenyataan, seekor domba
termasuk binatang yang paling bodoh dan rawan.
Dan memang dipandang dari segi dosanya dan kelemahannya, manusia begitu
juga--suka berkelahi, suka "makan rumput" yang tidak sehat, gampang
tersesat.
Tetapi dari segi yang lain, manusia itu justru bukan binatang, melainkan diciptakan menurut citra Allah, menurut "gambar dan rupaNya" (lihat Kej.1.26; band. Maz.8). Dalam gereja, manusia justru hendak dimuliahkan dengan menjadi "anggota-anggota keluarga Allah" (Efesus 2.19). Dalam terang Firman itu, kalau kita menganggap diri gembala, lalu mendombakan jemaat, itu bukan saja suatu kesombongan yang meremehkan jemaat, tetapi juga bertentangan dengan kehendak Tuhan bagi gerejaNya.
Mungkin jalan keluar kira-kira begini: dalam penggembalaan kita cukup realistis tentang kelemahan dan kekurangan yang ada pada kita semua, tetapi pada saat yang sama kita selalu mencari citra Allah yang ada pada setiap manusia, betapapun dicemarkan oleh dosanya. Dan walaupun kita tetap berpegang pada khiasan domba/ gembala, kita ingat bahwa hanya ada satu Gembala yang Baik, yaitu Yesus Kristus. Kita yang lain sesama domba. Dan kalau ada satu domba yang bisa membantu domba yang lain menghindari serigala dan mencari rumput yang baik, syukurlah!
Pengembalaan bukan semacam upacara. Seringkali yang dianggap penggembalaan di kalangan GMIT adalah suatu ibadah menjelang Baptisan, Pemberkatan Nikah, atau Peneguhan Sidi yang memuat sedikit nasihat dan petunjuk-petunjuk berhubungan dengan acara yang akan dilaksanakan. Sebenarnya itu sebagian yang kecil sekali dari tugas penggembalaan. Kalau seandainya seorang gembala mengumpulkan dombanya pada pagi hari, mendoakan mereka, menasihati mereka supaya "Awas serigala!", lalu melepaskan mereka begitu saja untuk cari rumput sendiri, apakah itu bisa disebut "penggembalaan"? Tentu tidak. Sama hal dengan kita. Memberkati pasangan nikah, lalu mengabaikan mereka sampai ada berita bahwa mereka ingin cerai baru kita muncul lagi, itu juga bukan penggembalaan.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan di sini. Yang pertama, pastoral bukan saja soal kutip
ayat dan memberi nasihat. Ia lebih
mengutamakan percakapan, komunikasi timbal-balik, keprihatinan kita terhadap
jemaat satu per satu--pendeknya, pastoral adalah sejenis hubungan atau relasi
diantara kita dan jemaat. Relasi itu
bukan berdasarkan jabatan atau tugas, melainkan atas dasar kasih dalam
persekutuan tubuh Kristus.
Yang
kedua, pastoral tidak bersifat sementara, berhubungan dengan acara-acara yang
khusus. Sebagai suatu relasi, pastoral berjalan hari demi
hari sepanjang kita bersama-sama dalam jemaat.
Justru hubungan yang diciptakan melalui pergaulan sehari-hari yang
paling memungkinkan efektifitas dari pastoral kita pada saat timbulnya krisis
atau kasus dalam jemaat. Menunggu
sampai ada masalah baru kita masuk berarti kita sudah terlambat. Pastoral seharusnya dilihat sebagai satu
aspek yang tetap dalam kehidupan berjemaat.
Pastoral tidak sama dengan pemecahan masalah. Banyak pelayan kalau berhadapan dengan jemaat yang bermasalah merasa seperti harus memberikan jalan keluar, kalau tidak dianggap penggembalaan itu gagal. Tetapi bukan semua masalah ada jalan keluar, dan bukan semua jalan keluar sesuai dengan iman Kristen. Nona sudah jadi hamil di luar pernikahan dan tidak ada laki-laki yang mau bertanggung jawab: jalan keluarnya bagaimana? Menggugurkan kandungannya? Memaksa dia untuk nikah dengan orang yang tidak dicintainya? Masalah seperti ini sebenarnya tidak ada jalan keluar, hanya ada jalan melalui pengalaman yang pahit itu kepada suatu kedewasaan iman yang lebih baik. Dan peranan kita adalah menjadi pembimbing dan pendamping di perjalanan itu.
Petunjuk-petunjuk Praktis
Dari semua tindakan dan kegiatan pastoral, bentuk yang paling utama dan yang pada umumnya paling berhasil ialah percakapan. Entah di gedung gereja, dalam rangka perkunjungan rumah tangga, atau di pinggir jalan, hanya melalui suatu percakapan yang terbuka dan terarah dapat kita memahami keadaan jemaat dengan cukup baik untuk membantu mereka. Dan sebaliknya, melalui percakapan juga jemaat dapat mengenal kita dengan cukup baik untuk percaya bahwa kita mampu membantu mereka.
Yang menjadi soal, apakah kita cukup terampil untuk melakukan percakapan yang terbuka dan terarah itu? Petunjuk-petunjuk yang berikut ini tidak memberikan resep yang serba guna, namun mungkin bisa membantu kita untuk meningkatkan efektifitas dari percakapan pastoral kita.
1. Persiapan:
Sebelum kita bertemu dengan anggota jemaat untuk mengadakan percakapan pastoral, perlu kita tahu beberapa hal lebih dahulu:
--Situasi orang yang dikunjungi
--Suasana apa yang sedang
dialaminya
--Hubungannya dengan
gereja selama ini.
Ada baiknya juga kalau kita
mempersiapkan diri dengan berdoa dan membaca bagian-bagian Alkitab yang ada
hubungan dengan permasalahan yang dihadapi, kalau sudah diketahui (bukan untuk
cari nats yang bisa dilemparkan kepada jemaat nanti, tetapi untuk persiapan
diri kita sendiri).
Yang terakhir, kita perlu
memeriksa diri untuk membetulkan sikap yang akan kita bawa ke dalam perjumpaan
dengan jemaat, dan berusaha untuk menghilangkan segala prasangka dan
kecenderungan untuk menghakimi.
2. Penampilan seorang pelayan:
Seringkali berhasil atau tidaknya
sebuah percakapan pastoral ditentukan bukan oleh apa yang diungkapkan gembala
itu, tetapi oleh sikap yang ditampilkan.
Di sini ada tiga hal
yang kunci:
a. Mendengarkan secara aktif dan
empatis. Pada umumnya manusia mau
didengarkan sebelum dia mau mendengar. Berabad-abad
yang lalu ada seorang raja yang mengatakan bahwa "Pendengaran yang baik
mendamaikan hati manusia." Sang
raja berpengalaman bahwa banyak orang datang ke istana dengan permohonan segala
macam. Tidak mungkin semua permohonan
ini dikabulkan, namun raja itu melihat bahwa kalau ia mendengarkan mereka
dengan baik, walaupun permintaannya tidak diterima, mereka akan pulang dengan
puas karena "raja sudah dengar saya." Demikian juga dalam pastoral, seringkali jemaat rasa tertolong
hanya kalau pendeta atau penatua mendengarkan keluhan mereka dengan baik.
Secara aktif berarti bahwa kita tidak hanya duduk santai-santai dan
membiarkan mereka omong, tetapi kita secara aktif membantu mereka untuk
mengungkapkan perasaan mereka melalui pertanyaan-pertanyaan yang tepat dan
tanggapan-tanggapan yang menunjukkan apakah ungkapan mereka sudah kita fahami
atau belum.
Secara empatis berarti bahwa kita turut merasakan apa yang
dirasakan oleh jemaat. Kita hadir
sepenuhnya sebagai pendamping mereka, dan kita "bersukacita dengan orang
yang bersukacita, dan menangis dengan orang yang menangis" (Roma 12.15).
b. Menghargai
dengan tak terbatas. Pada umumnya orang akan lebih terbuka dengan seorang sahabat
daripada kalau dihadapan polisi atau hakim, dan orang juga lebih gampang
menerima teguran seorang teman daripada serangan seorang musuh. Dalam rangka pastoral, kalau jemaat rasa dihakimi oleh kita dia akan
langsung tertutup. Walaupun dia tetap
tunduk dan menjawab "Ya, Bapak... Ya, Ibu", sebenarnya dia hanya
menjawab begitu supaya kita lebih cepat pulang.
Kalau dalam Alkitab kita
disuruh untuk membenci dosa, kita juga diperintahkan untuk mengasihi orang yang
berdosa. Justru bagi merekalah Kristus
rela disalibkan. Mungkin dalam seluruh
Perjanjian Baru tidak ada seorangpun yang bertobat karena dimarahi oleh
Kristus, tetapi banyak bertobat karena dikasihi Kristus. Hal ini berarti bahwa segala usaha untuk
mencegah dan mengoreksi dosa-dosa jemaat harus bertolak dari kasih Kristus
itu.
Secara praktis hal ini
perlu diwujudkan dalam pastoral dengan membuktikan pada jemaat melalui sikap
dan penampilan kita bahwa kita ada maksud yang baik bagi mereka, dan mereka
tidak akan ditolak atau dibenci oleh kita betapapun berat kesalahan mereka. Hanya kalau jemaat sudah yakin akan
penghargaan kita terhadap mereka dapat mereka menerima peneguran dari kita
dengan baik (band. Amsal 27.6: "Seorang kawan memukul dengan maksud
baik"). Memang Yesus pernah
mengatakan kepada seorang wanita yang berzinah, "Pergilah, dan jangan
berbuat dosa lagi", tapi sebelumnya Ia mengatakan, "Akupun tidak
menghukum engkau" (Yoh. 8.11).
c. Keaslian. Yang dimaksudkan
dengan "keaslian" di sini ialah bahwa kita hadir dengan jemaat
sebagai sesama manusia yang juga ada kekurangan dan kelemahan. Kita hadir "apa adanya" dan
memberi diri untuk dikenal oleh jemaat.
Bagaimana mungkin kita mengharapkan jemaat terbuka dengan kita kalau
kita tidak terbuka dengan mereka? Ada
kecenderungan untuk seorang pelayan menyembunyikan diri di belakang toga atau
jabatannya dan tampil sesuai dengan suatu impian tentang pelayan "yang
seharusnya". Hal ini tidak
membantu, karena segala unsur "ketidakaslian" dalam penampilan kita
cepat sekali dirasakan oleh jemaat sebagai semacam kemunafikan. Jemaat membutuhkan kehadiran dan
pendampingan seorang manusia yang sejati, dan bukan semacam malaikat
tiruan. Kita harus berani membuka
topeng, justru supaya pribadi kita yang "asli" dapat dikenal dan daya
layan yang ada pada diri kita dapat dimanfaatkan dalam pastoral.
3. Menanggapi dengan bijaksana.
Ada seorang ahli pastoral yang pernah menggolongkan jenis-jenis tanggapan pastoral yang paling banyak diberikan oleh pelayan-pelayan kepada jemaat sebagai berikut:
--nasihat atau penilaian ("Itu tidak boleh....Sebaiknya begini....")
--tafsiran (bersifat mengajar: "Sebenarnya
keadaan anda begini...")
--penghiburan ("Tuhan akan tolong....")
--dorongan ("Saya yakin anda bisa....")
--pemahaman
("Sekarang saya mengerti...")
Jenis tanggapan yang paling banyak diberikan adalah nasihat (termasuk anjuran berupa "jalan keluar"). Walaupun semuanya disampaikan dengan maksud yang baik, seringkali nasihat tidak berhasil untuk menjawab kebutuhan jemaat. Hal ini mungkin ada tiga penyebab.
Yang pertama, kalau orang minta nasihat, seringkali itu bukan karena mereka tidak tahu mau buat apa, tetapi justru karena mereka sudah ada keinginan yang tertentu, dan mereka mau supaya keinginan itu direstui oleh pelayan. Kalau kita terlalu cepat memberikan nasihat (yang mungkin berbeda dengan harapan mereka), maksud mereka yang sebenarnya disimpan saja supaya jangan kelihatan apa bertentangan dengan pendapat pelayan. Akibatnya, pikiran jemaat tidak sempat diketahui oleh pelayan dan dibicarakan secara terbuka, dan dengan tambahan nasihat dari pelayan jemaat tambah bingung saja. Sebaiknya kalau jemaat minta pendapat kita, kita lebih dulu melemparkan kembali permintaan itu dengan bertanya, "Menurut saudara bagaimana?"
Yang kedua, ada semboyan yang
mengatakan, "Nasihat itu murah."
Maksudnya bahwa siapa saja bisa memberikan nasihat dan nasihat itu tidak
menjadi beban bagi si penasihat, karena bukan dia yang harus
mengerjakannya. Kita bisa suruh seorang
pemabuk supaya jangan minum lagi, tetapi itu tidak membantu dia untuk menahan
diri dari minuman keras. Nasihat hanya bisa diberikan dengan
memperhitungkan kemampuan penerima untuk melakukannya.
Yang ketiga, dan yang
paling prinsipil, adalah bahwa seringkali nasihat diberikan sebelum kita
sungguh-sungguh memahami persoalannya, atau juga karena jemaat belum yakin
bahwa kita sungguh-sungguh mengerti. Semua
nasihat yang tidak berdasarkan pemahaman yang dalam bisa meleset. Dan kalau jemaat tidak meyakini pemahaman
kita, kemungkinan besar mereka tidak akan mengikuti nasihat yang diberikan.
Karena alasan-alasan yang
dikemukakan di atas, dari semua jenis-jenis tanggapan pastoral yang kita
berikan, yang paling utama adalah pemahaman. Secara praktis, kita harus rajin mendengar
dan rajin bertanya sampai kita yakin bahwa kita memang mengerti seluruh
seluk-beluk permasalahan jemaat sebelum kita bisa maju dengan usul-saran
apapun. Yang kedua, kita harus meyakinkan jemaat bahwa kita
mengerti. Itu bisa dibuat secara
tidak langsung dengan sikap mendengar seperti dikatakan di atas, maupun secara
langsung dengan cara pelayan mengulangi apa yang diceritakan kepadanya oleh
jemaat. Sesudah kita menceritakannya
kembali, kita mengecek kebenarannya dengan mereka dengan bertanya,
"Begitu, ya Bapak?" atau "Apa itu yang dimaksudkan oleh
Ibu?" Mungkin mereka akan
memperbaiki tafsiran kita, tetapi sesudah itu kita sama-sama bisa yakin bahwa
percakapan berjalan atas pemahaman yang tepat.
Tentu semua jenis tanggapan atau respons adalah penting pada gilirannya. Tetapi semuanya hanya dapat bermanfaat bagi jemaat apabila mereka sudah yakin bahwa kita memang mengerti keadaan mereka.
4. Tahap-Tahap dalam perkembangan hubungan pastoral.
Percakapan pastoral tidak seperti percakapan-percakapan yang biasa di mana kita omong-omong tentang apa saja, bercerita sedikit, berbisik-bisik sedikit, lalu minta pamet sesudah habis minum teh atau makan sirih pinang. Semuanya ini bisa juga terjadi, tetapi suatu percakapan pastoral akan dibimbing dan diarahkan oleh suatu maksud yang Kristiani, yaitu untuk melayani jemaat ditengah-tengah pergumulan iman mereka sehari-hari.
Dalam rangka mencapai maksud itu kita tidak perlu meraba-raba saja. Ada urutan perkembangan yang tertentu yang secara sadar atau tidak sadar akan diikuti oleh hampir setiap percakapan pastoral yang berhasil. Proses itu dapat digambarkan dalam empat tahap sebagai berikut.
a. Keterlibatan: Pada tahap yang pertama diletakkan dasar untuk hubungan kita dengan jemaat selanjutnya. Dari fihak jemaat, mereka dapat mengenal kita cukup baik untuk menerima pelayanan dari kita, bukan karena jabatan kita saja, tetapi karena mereka yakin bahwa kita ada maksud dan sikap yang bisa membantu mereka. Dari fihak pelayan, kita mulai mengenal mereka dan mendapat gambaran awal tentang situasi yang mereka hadapi dan tentang apa yang mereka harapkan dari kita. Ada tiga aspek pada proses keterlibatan ini:
--Perkenalan awal, yang akan lebih didalami kemudian. Di sini kita memperoleh informasi (kalau belum diketahui) seperti keadaan keluarga, jenis pekerjaan, daerah asal, dst.
--"Pemanasan": Percakapan pastoral tidak bisa langsung kepada hal-hal yang
sangat peka. Sama seperti mesin sepeda
motor biasanya perlu pemanasan sebelum dia berjalan dengan lancar, demikian
juga dengan sebuah percakapan. Tidak
jarang kita sudah makan kue satu piring dan mau bangun untuk minta diri baru
jemaat rasa berani untuk membuka hati. Mereka
perlu waktu yang cukup lama untuk menguji kita, apakah kita orang yang bisa
mendengarkan mereka dengan baik dan mau menghargai mereka.
--Keterbukaan: Kalau jemaat
sudah cukup mengenal kita (dan kita sudah memberi diri untuk dikenal), dan kita
"lulus ujian" pendengaran, baru mereka berani untuk berbicara secara
terbuka. Proses ini bisa terjadi
relatif cepat, kalau kita sudah saling mengenal dengan baik, atau kalau jemaat
sementara menghadapi krisis dan sangat mengharapkan pertolongan. Tetapi bisa juga dengan orang tertentu
keterbukaan mebutuhkan waktu beberapa tahun di mana kita bergaul dengan mereka
dalam jemaat baru mereka akan terbuka. Tidak
ada resep, tapi pastoral yang sebenarnya hanya bisa berjalan kalau keterbukaan
itu sudah tercapai.
b. Eksplorasi (penjelajahan): Kalau keterbukaan sudah tercapai, kita
mulai memperdalam pemahaman kita tentang situasi jemaat dari berbagai
segi. Bersama dengan jemaat kita
berusaha untuk melihat faktor-faktor dalam situasi mereka seperti ekonomi,
kebudayaan, kekeluargaan, peranan fihak ketiga, dll. Proses eksplorasi ini bukan soal tanya-jawab saja, tetapi ada
usaha untuk membantu jemaat sendiri menyelediki situasinya dengan lebih
dalam. Pada tahap ini kita juga
mendengarkan untuk mengenal perasaan-perasaan
mereka terhadap situasi itu dan untuk mengerti mengapa mereka merasa begitu.
Pada tahap ini paling tepat kalau kita melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membantu jemaat mengeluarkan isi hatinya serta memberi tanggapan yang bersifat pemahaman. (Ada baiknya kalau pertanyaan kita dirumuskan supaya tidak bisa dijawab hanya dengan "ya" atau "tidak", supaya inisiatip dalam pembicaraan tidak diambil alih oleh kita--jangan terjadi semacam interogasi!) Pada tahap eksplorasi belum saatnya untuk nasihat.
c. Pemahaman diri: Kalau dalam percakapan pastoral kita sudah dapat gambaran yang menyeluruh tentang situasi jemaat dan tentang sikap dan perasaannya terhadap situasi itu, sebenarnya kita baru berhadapan dengan bahan mentah yang masih perlu digarap. Tujuan daripada penggarapan atau pengajian itu ialah supaya jemaat dapat memahami dirinya ditengah-tengah situasi dan perasaan-perasaan itu dalam terang iman Kristen. Ada empat aspek:
--Makna "bagi saya" ("saya"= orang yang digembalakan, bukan diri pelayan) dalam permasalahan yang dikemukakan. Apa konsekwensinya dalam kehidupan saya, apa artinya dari segi iman saya?
--Masalah "dengan saya". Dalam suatu permasalahan biasanya ada banyak fihak yang terlibat. Ada kecenderungan untuk orang melihat keterlibatannya dalam suatu masalah sebagai korban saja dari kejahatan orang lain, atau sebaliknya (seringkali dengan wanita) untuk melihat diri sebagai penyebab/pemikul beban yang satu-satunya. Tugas gembala di sini adalah untuk membantu mereka membedakan porsi dan tanggung jawab mereka dari porsi dan tanggung jawab orang lain, dan untuk mengakui dan memiliki tanggung jawab itu.
--Perasaan "dalam hati saya". Dalam tahap eksplorasi di atas kita sudah memperhatikan perasaan
jemaat terhadap situasi yang dihadapinya.
Namun belum tentu
jemaat sendiri menyadari dan mengakui perasaan itu. Seringkali wanita susah mengaku bahwa dia sebenarnya marah, dan
laki-laki susah mengaku bahwa dia rasa takut, umpamannya. Tujuan gembala di sini adalah untuk membantu
mereka menyadari dan "memiliki" perasaan mereka yang
sebenarnya--betapapun jelek atau tidak enak--justru supaya perasaan itu bisa
ditangani secara sadar dan jujur.
--Tujuan "bagi saya". Ada pendapat yang agak umum dipegang bahwa
tujuan dari pastoral adalah untuk menemukan "jalan keluar". Hal ini memang baik dan praktis, tapi perlu difahami sedikit lebih
dalam. Ada banyak "jalan
keluar" dari kota Kupang, umpamanya, tapi kita ikut yang mana bergantung
kalau kita mau ke Baun, ke Soe, atau ke Tenau.
Sama hal dalam pastoral, bisa saja kita menganjurkan jalan keluar bagi
jemaat, tetapi kita harus tahu lebih dahulu mereka mau ke mana.
Dalam rangka pemahaman
diri, jemaat diajak untuk mencapai kejelasan mengenai apa yang mereka harapkan
dan inginkan secara realistis dalam situasi yang dihadapi. Dan bagi orang Kristen tujuan itu juga perlu
dibimbing oleh Firman Tuhan. Orang yang
menyadari kehendak diri sendiri lebih mampu untuk dengan jujur membuka diri
kepada kehendak Tuhan, supaya pada akhirnya mereka bisa dengan tulus berdoa
dalam hati, "Jadilah kehendakMu."
d. Tindakan-tindakan. Berbicara itu hanya persiapan untuk bertindak. Kalau suatu percakapan pastoral tidak menghasilkan kemungkinan untuk tindakan yang konkrit, walaupun kecil, bisa saja keadaan jemaat lebih buruk daripada kalau tidak pernah dikunjungi. Bisa saja mereka ambil sikap, "Ya, pelayan coba membantu tapi kami tidak tertolong. Apa boleh buat."
Karena itu perencanaan untuk tindakan-tindakan nyata adalah aspek yang sangat penting dalam suatu percakapan pastoral. Ada tiga langkah yang sederhana:
--Melihat kesempatan, kemampuan, dan sumber-sumber daya yang ada pada diri orang itu sendiri, serta faktor-faktor pendukung yang ada dalam lingkungannya (termasuk keluarga, teman-teman, gereja, dan pemerintah).
--Merencanakan dan menyepakati tindakan-tindakan yang konkrit, sederhana, dan realistis yang akan diambil oleh orang yang digembalakan itu, serta tindak lanjut dari fihak pelayan sendiri. (Contoh yang sederhana: Ada tujuan supaya si Ani hadir di Sekolah Minggu. Perencanaan tindakan: orang tua si Ani sepakat untuk kumpulkan cukup banyak air dan kayu api pada hari Sabtu supaya Ani tidak perlu pikul kayu api atau air pada jam Sekolah Minggu. Pelayan setuju untuk meningkatkan mutu pelajaran melalui pembinaan pada guru-guru.)
--Bertindak.
Tahap-tahap perkembangan pastoral ini tentu lebih gampang diikuti atas kertas daripada ditengah-tengah jemaat. Tentu juga setiap hubungan antar manusia ada keunikan, dan ada juga maju-mundurnya. Namun kalau kita berpedoman secara luwes pada keempat tahap ini, kita tidak perlu kehilangan arah dalam pelayanan pastoral yang dipercayakan kepada kita.
Penutup
Walaupun di atas sudah diberikan tanda awas supaya kita jangan terlalu banyak menasihati jemaat, ternyata tulisan yang singkat ini sudah memberikan banyak sekali nasihat. Adapun nasihat sepotong lagi.
Dalam kehidupan sehari-hari, kalau orang mengalami kesulitan atau kebingungan, apakah dia langsung melapor diri kepada pendeta? Apakah dia terus mencari penatua dari rayonnya? Pada umumnya tidak. Kalau orang ada masalah, biasanya dia akan mencari pertolongan lebih dulu dari keluarganya sendiri atau dari seorang teman. Dengan mereka dia merasa aman untuk membuka hatinya.
Dalam kenyataan itu ada kabar baik bagi kita yang belajar untuk menjadi gembala dalam jemaat. Mungkin saja kita belum begitu ahli dalam ilmu pastoral itu, dan masih banyak hal dalam pedoman ini yang membingungkan. Tetapi kita semua pernah menjadi seorang ayah, seorang ibu, atau seorang teman. Kebapakan, keibuan, atau kesekawanan yang ada pada diri kita sebenarnya menjadi satu dasar yang sangat bermakna dalam pelayanan kita. Sebagai gembala, kita hadir dalam jemaat terutama bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai seorang sahabat dalam Kristus. Kalau kita berpegang kepada kebenaran itu, prinsip-prinsip pastoral yang di atas akan menjadi pelengkap saja pada suatu kekuatan yang sudah ada pada diri kita.
Lampiran 1:
Percakapan pastoral yang berikut ini dapat dikatakan
"macet". Mengapa? Coba menerapkan prinsip-prinsip dari pedoman
ini.
BAPAK
PENDETA YANG "SALEH" DAN BAPAK PENDETA YANG "MARAH"
Pendeta Ayub sudah bekerja
sepuluh tahun lebih di Jemaat Bethesda.
Ia seorang yang sangat rajin dan tidak kenal lelah. Oleh ketekunannya maka jemaat Bethesda pada
akirnya dapat mengatasi beberapa masalah yang khronis dalam jemaat, antara lain
kekurangan dana yang terus menerus dalam anggaran biayanya setiap tahun.
Pada tahun-tahun akhir ini
nampak kesehatan Pendeta Ayub semakin menurun.
Pada suatu hari Pendeta Ayub terserang penyakit jantung dan tekanan
darah tinggi yang cukup parah. Ia harus
berbaring di rumah sakit dan tidak lagi dapat meneruskan pekerjaannya di jemaat
Bethesda.
Pendeta Bildad dari jemaat
Gloria mengunjunginya di rumah sakit. Terjadilah
percakapan sebagai berikut:
Bildad 1.: Bagaimana saudara? Apakah sudah baik?
Ayub 1.: (Diam saja.)
Bildad 2.: Apakah dokter sudah datang di sini? Dan apa katanya? Apakah ia sudah memberikan obat? Memang orang sakit seperti saudara harus banyak sabar.
Ayub 2.: Saya sekarang sudah menjadi orang cacat yang tidak berguna. Mengapa Tuhan tidak memanggil saya saja?
Bildad 3.: Lho,
jangan bicara begitu! Itu dosa! Hidup mati itu kan ditentukan oleh
Tuhan. Kita tidak boleh minta mati
sebelum waktunya. Bagaimana saudara
sekarang bisa mengatakan begitu? Apakah
saudara tidak ingat akan khotbah-khotbah saudara sendiri? Apakah saudara tidak ingat akan
penghiburan-penghiburan yang saudara sendiri berikan pada orang-orang yang
sedang sakit? Saudara bisa
mengatakan hal-hal yang indah kepada orang lain, tetapi bagaimana sekarang
dengan saudara sendiri? Apakah sikap
saudara itu tidak bertentangan dengan kata-kata saudara sendiri?
Ayub 3.: (Diam saja.)
Bildad 4.: Saudara sekarang harus berjanji untuk tidak omong begitu lagi. Orang yang percaya, apalagi seorang pendeta, tidak boleh putus asa dan ingin mati. Sekarang, mari kita berdoa saja kepada Tuhan.
(Pdt. Bildad kemudian berdoa.)
Ayub 4.: (Memalingkan wajahnya ke dinding sambil mengatakan perlahan, "Pendeta gila.")
Percakapan ini telah direkam oleh penatua yang melakukannya. Dia kurang puas dengan hasilnya. Bagaimana analisis dan usul saran anda?
Penatua
dan Suami Isteri B
Pen.1. : Selamat sore. Kami dengar Bapak baru-baru sakit, sampai dibawa ke Rumah Sakit?
Suami 1.: Ya, saya sakit.
Ist. 1. : Ya, suami saya tiba-tiba jatuh sakit, bikin
kaget memang, sebab pagi hari dia masih bekerja, meskipun sudah bilang badan
kurang enak. Pulang sore mau mandi dan pergi ke dokter. Tapi sekarang ongkos dokter mahal dan obat
juga mahal.
Pen.2. : Oh, sore hari dia sakit?
Ist. 2. : Ya, di depan meja ini dia jatuh. Badannya kena kaca lemari ini sampai pecah. Dan langsung pingsan. Saya panggil-panggil tapi dia terus tidak sadar. Kami berdua, anak putri saya dan saya menangis kebingungan sebab di rumah hanya kami berdua.
Pen.3. : Apa terus dibawa ke rumah sakit?
Ist. 3. : Ya, hari itu juga tetangga yang dipanggil anak
saya menganjurkan untuk membawa Bapak ke rumah sakit. Sampai dua jam lebih dia pingsan.
Pen. 4. : Kata dokter kenapa
dia?
Suami 4.: Tekanan darah tinggi.
Ist. 4. : Dia terlalu cape,
dan saya sudah kasi ingat berkali-kali supaya banyak istirahat tapi tidak mau. Dia
bandel. Coba dia mau ikut nasihat saya
barangkali kami tidak sampai susah begini.
Pen. 5. : Ya, semua orang juga punya susah.
Ist. 5. : Eeh, saya susah
betul. Dirumah sakit saya hanya
memikirkan ongkosnya terus. Berapa kami
harus bayar, padahal kami tidak punya uang sama sekali. Untung tetangga baik dan mau kasi pinjam
Rp.100,000, dan Rp.100,000 lagi dari suami punya majikan. Kalau tidak tentu suami saya belum boleh
pulang dari rumah sakit.
Pen. 6. : Ya, saya bisa
membayangkan bagaimana kesusahan yang Bapak-Ibu rasakan, tapi untung bahwa
Tuhan memberi jalan keluar.
Ist. 6. : Ya, saya terus berdoa kepada Tuhan, tapi mengapa kita diberi
kesusahan ini?
Pen. 7. : Kita tidak tahu
mengapa Tuhan memberi kesusahan, tapi sebagai orang percaya kita tahu Tuhan ada
maksud yang baik. Jangan lupa terus
berdoa kepadaNya.
Suami 7.: Ya, saya berdoa terus.
Ist. 7. : Ya, saya terus minta-minta kepada Tuhan, tapi aduh, masih susah terus.