ARAH DASAR PENGEMBANGAN OASE
INTIM
DALAM
I. Pengantar
A.
Motivasi
B.
Visi
C. Misi
A.
Agama-agama Lokal.
B.
Hubungan Islam-Kristen.
C.
Ketidakadilan Skruktural yang
Multiwajah.
D.
Krisis Ekologis dan Harkat
Tanah.
E.
Kemajemukan Budaya.
A.
Program
B.
Organisasi
C.
Jaringan
IV. Penutup
I.
Pengantar
OASE INTIM yang
dideklarasikan pada tanggal 7 Februari 2005 lalu sedang dalam pengembangan diri.
Di sini kami akan memperlihatkan pengembangan OASE INTIM untuk lima tahun
pertama. Dalam pengembangan lima tahun pertama ini akan dikemukakan apa
motivasi dasar didirikannya lembaga
ini, visi dan misinya, analisis konteks pergumulan teologis dan hidup
menggereja Indonesia bagian Timur, dan kegiatan pokok apa yang akan dilakukan
oleh OASE INTIM dan bagaimana kegiatan pokok itu dalam bentuk program-program
dilaksanakan secara metodologis. Juga dicatat di sini bagaimana perencanaan
pendapatan dan belanja OASE INTIM
selama lima tahun yang diuraikan ke dalam setiap tahun anggaran. Dengan
mencatat semua hal ini naskah pengembangan ini kiranya dapat menjadi acuan
dasar pengembangan dan pengelolaan OASE INTIM dalam lima tahun ke depan. Arah dasar pengembangan ini merupakan hasil pergumulan bersama delapan orang pendiri aktif dalam dua kali Rapat Kerja OASE INTIM di Jalan Bontaramba No.8, Makassar ( tanggal 21 Februari dan 5 Maret 2005).
Motivasi dasar pembentukan
OASE INTIM – Lembaga Pemberdayaan Praksis Pelayanan dan Kajian Teologi
Kontekstual – ialah panggilan untuk mendukung pengembangan teologi dan
pendidikan teologi yang kontekstual dan kritis-tranformatif dalam kehidupan
gereja-gereja dan pendidikan teologi di Indonesia bagian Timur. Motivasi itu
lahir dari suatu pengamatan bahwa dalam gereja-gereja (termasuk jemaat-jemaat
lokal) dan lembaga-lembaga pendidikan teologi di Indonesia bagian Timur telah
berlangsung pengembangan teologi kontekstual. Gereja-gereja dan lembaga-lembaga
pendidikan teologi di wilayah ini sedang belajar menghubungkan imannya dengan
kenyataan-kenyataan konteks masyarakatnya, seperti konteks sosial-ekonomi,
sosial-kultural, dan sosial-politik. Gereja-gereja sedang mengalami transisi
dari gereja yang hanya ritualistik menjadi komunitas yang terlibat dalam
penanganan masalah-masalah sosial. Lembaga-lembaga pendidikan teologi juga
dalam proses transisi dari pola-pola pembelajaran dan pengembangan kurikulum
yang statis menjadi yang lebih dinamis: dari transfer ke tranformasi
pengetahuan dan kemandirian berpikir; dari kurikulum yang dikonsep secara top-down
ke yang dibangun secara bottom-up atau bertolak dari konteks pergumulan
nyata jemaat dan masyarakat.
Semua itu merupakan
perkembangan sehat yang perlu dukungan dan pemberdayaan. Kata OASE menunjuk
pada mata air di padang gurun, dan nama ini dipilih untuk menekankan peran dan
komitmen lembaga ini untuk selalu memberi penyegaran yang memberdayakan
gereja-gereja dan lembaga-lembaga pendidikan teologi di Indonesia Timur
sehingga mampu menemukan dan menggali air kehidupan dari dalam konteks
dalam perjalanan panjang menjalani panggilan pelayanannya di tengah-tengah
konteks di Indonesia Timur.
B. Visi OASE INTIM:
Bertolak dari motivasi dasar pendirian di atas maka
visi utama OASE
INTIM adalah:
(Dalam
C. Misi OASE INTIM:
Visi di atas
dikonkritkan ke dalam dua misi utama sebagai berikut:
(a)
Mengembangkan
pemikiran-pemikiran teologis yang kontekstual yang bertolak dari pergumulan
nyata jemaat-jemaat dan masyarakat sehingga menghasilkan respons-respons
teologis dialogis-tranformatif!;
(b)
Mengembangkan model-model
pembelajaran yang dialogis, partisipatif, kritis dan kreatif yang mendorong
praksis hidup menggereja yang kontekstual.
Visi dan Misi OASE INTIM di
atas lahir dari konteks pergumulan teologis dan hidup menggereja yang khas
Gereja-gereja dan jemaat-jemaat lokal serta pendidikan teologi di
A.
Agama-agama Lokal.
Agama-agama lokal di
Indonesia bagian Timur masih hidup dan masih kuat pengaruhnya dalam kehidupan
masyarakat, bahkan di dalam Gereja-gereja dan jemaat-jemaat lokal. Selama ini
agama-agama lokal itu selalu dinilai negatif, bahwa agama-agama lokal (dan
agama-agama Timur pada umumnya) hanya dicap sebagai religiositas yang
anti-perubahan.dan hanya melanggengkan status quo, baik secara sosial,
maupun ekonomi dan politik. Penilaian terhadap agama-agama lokal seperti itu
ini tidak lagi memuaskan. Studi-studi post-modernisme dan post-kolonial,
sebagaimana diperlihatkan oleh para antropolog menyadarkan kita bahwa
agama-agama lokal/Timur adalah agama-agama yang memiliki kesadaran religiositas
transformatif. Dengan menekankan pentingnya agama-agama lokal tidak dimaksudkan
untuk menutup mata terhadap potensi penindasan dalam agama-agama lokal. Namun
sikap kritis itu tidak harus membuat kita rabun-teologis terhadap aspek-aspek
liberatifnya. Dalam hal ini tepat apa yang diingatkan oleh Aloysius Pieris
(teolog Katolik asal Sri Lanka) tentang pentingnya menyadari ambigu
(kemenduaan) kesadaran religiositas lokal itu, yaitu: aspek liberatif dan aspek
opresifnya. Kesadaran tentang ambigu ini penting untuk menghindarkan kita dari
bahaya romatisme agama/budaya tradisional di satu pihak dan vandalisme teologis
Kristen di pihak lain.Yang diperlukan ialah suatu proses transformasi dua arah
dalam perjumpaan teologis dengan agama-agama (dan budaya-budaya) lokal yang
mendukung harkat dan martabat manusia dan menciptakan struktur-struktur
kesadaran sosial, ekonomi, dan politik yang menghargai kehidupan.
B.
Hubungan Islam-Kristen.
Kasus kekerasan
horisontal yang terjadi di kalangan umat Kristen dan Islam di Indonesia bagian
Timur (Ambon, Halmahara/Maluku Utara, dan Poso) di akhir tahun 1990-an (1999)
adalah contoh dari kurang harmonisnya hubungan Islam-Kristen. Selama ini kurang
positifnya hubungan Islam-Kristen di Indonesia bagian Timur itu lebih dilihat
dalam kerangka konflik kepentingan ekonomi dan politik serta peran politik
militer dalam keseluruhan konstelasi politik pasca kekuasaan rezim Orde Baru.
Dalam kerangka itu kita perlu juga menunjuk faktor kepentingan ekonomi dan
politik dari para elite ekonomi dan politik lokal di Indonesia bagian Timur.
Boleh jadi hal ini merupakan modus operandi perlawanan terhadap hegemoni
kekuasaan yang bersifat sentralistik. Selain itu, warisan teologis yang saling
melecehkan di kalangan kedua komunitas umat beragama ini jelas merupakan faktor
yang juga berpengaruh. Warisan kesadaran teologis kedua komunitas ini, yang
lahir dari dalam medan-medan perebutan kekuasaan ekonomi dan politik,
bagaimanapun membentuk watak kesadaran teologis yang militan. Gerakan penegakan
syariat Islam di Sulawesi Selatan a.l. terhubung dengan reaksi terhadap
sentralitas kekuasaan nasional, maupun terhadap hegemoni modernitas yang
ditengarai berakar dalam tradisi Kristen. Dalam kaitan itu, untuk mendorong
hubungan dengan fihak Islam yang lebih postif di Indonesia bagian Timur, ada
tiga hal yang perlu dilakukan. Pertama, perlu menulis sejarah lokal
masing-masing komunitas dengan perspektif yang lebih mendukung interaksi yang
positif di antara kedua komunitas itu. Dan kedua, perlu dekonstruksi kesadaran
keberagamaan politis-ideologis yang hanya memperdayakan umatnya dan
merekonstruksi jejak-jejak kesadaran keberagamaan di kedua komunitas yang lebih
memberdayakan umat dan yang mempromosikan kehidupan bersama yang harmonis dalam
kepelbagaian. Dan ketiga, membangun solidaritas antar-iman menghadapi berbagai
bentuk penindasan dan penyakit sosial, termasuk ekses dekadensi moral
kebudayaan modren. Dalam ketiga hal ini dimaksudkan untuk menyadari
karakteristik dan pewartakan Islam dan Kekristenan di Indonesia Timur. Selama
ini banyak peneliti Islam dan Kekristenan di Indonesia belum memberi perhatian
kepada karakteristik dan perwatakan lokal dari kedua komunitas ini. Akibatnya,
selama ini gambaran mengenai komunitas Islam dan Kekristenan di Indonesia
selalu bersifat monolitik. Padahal, Kekristenan dan Islam di Indonesia bagian
Timur memiliki dinamika tersendiri baik dalam berinteraksi dengan
kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik maupun dalam berinteraksi dengan budaya
lokal.
C.
Ketidakadilan Skruktural yang Multiwajah.
Kawasan Indonesia bagian
Timur adalah kawasan yang kaya sumber daya alam, namun terbelakang dalam
pembangunan nasional, dan menderita ketidakadilan struktural multiwajah. Ada
ketidakadilan kemiskinan struktual secara ekonomi, budaya dan politik serta
gender. Para analis ekonomi mencatat bahwa kekuatan ekonomi modern dalam bentuk
praktik ekonomi kapitalisme di Indonesia selama rezim Orde Baru (1970-an s/d
1990-an) telah mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun yang juga terjadi
– demikian kritik para analis itu – adalah kekuatan ekonomi itu
menimbulkan akumulasi modal dan kekayaan dalam tangan sebagian kecil golongan
masyarakat Indonesia yang berada di pusat-pusat kekuasaan, khususnya di
Jakarta. Ketidakadilan struktural dalam bentuk kesenjangan sosial ekonomi ini membuat
ekonomi masyarakat lokal di Indonesia bagian Timur tidak sanggup membiayai
kehidupan mereka yang layak dan manusiawi.
Kondisi ketidakadilan
sosial ekonomi ini semakin diperparah oleh kekuataan-kekuatan politik, baik
pada tingkat nasional maupun lokal, yang lebih sebagai kekuatan-kekuatan yang
menghisap rakyat daripada kekuatan-kekuatan yang memberdayakan rakyat. Selain
itu, marginalisasi kaum perempuan secara sosial ekonomi, politik dan
pendidikan, baik atas alasan jenis kelamin di sebagian kalangan masyarakat
Indonesia yang masih kuat dengan budaya patriarki, maupun atas alasan status
sosial, telah menyebabkan munculnya diskriminasi gender dalam masyarakat
Indonesia bagian Timur masa kini. Kenyataan-kenyataan ketimpangan sosial
seperti ini lama diabaikan lembaga keagamaan, khususnya gereja dan pendidikan
teologi, yang semestinya merupakan lembaga-lembaga transformatif yang dapat
bersinergi dengan kekuatan-kekuatan resisten yang terdapat dalam tradisi
masyarakat-masyarakat lokal.
D.
Krisis Ekologis dan Martabat Tanah.
Salah satu
kegelisahan-teologis lain dalam konteks masyarakat Indonesia bagian Timur ialah
masalah krisis ekologis. Kegelisahann-teologis ini terutama terkait dengan
perusakan lingkungan oleh kegiatan penebangan hutan dan pertambangan akhir-akhir
ini. Tentu saja sumber daya alam disediakan Tuhan agar dimanfaatkan untuk
kesejahteraan manusia. Karena itu usaha perkayuan dan pembukaan pertambangan
dapat menjadi sumber yang signifikan dalam meningkatkan pendapatan asli daerah.
Namun usaha-usaha penggunaan sumber daya alam itu seringkali tidak mengindahkan
prinsip pelestarian lingkungan, dan tidak mendukung peningkatan kesejahteraan
masyarakat lokal. Kita sering mendengar keluhan masyarakat lokal yang meratapi
“rasa sakit bumi” alam di sekitar mereka dan nasib mereka yang
hanya menjadi penonton pengurasan kekayaan alam mereka. Kekayaan alam mereka
hanya memperkaya segelintir orang yang berada di pusat-pusat kekuasaan ekonomi
dan politik. Kita juga perlu memperhatikan bahwa kegiatan eksploitasi sumber
daya alam tidak saja terkait dengan alasan-alasan ketidakadilan ekonomi dalam
menikmati hasil-hasil pertambangan, melainkan juga terkait dengan harkat dan
martabat tanah itu sendiri. Salah satu kelalaian kita, sebagai manusia modern
– yang sangat dipengaruhi oleh logika pencerahan (Aufklärung)
dan humanisme-renesans yang antroposentris – ialah tidak memahami bahwa
bumi dan tanah juga memiliki harkat dan martabat. Dalam hal ini penting
mengembangkan pemikiran-pemikiran etika dan teologi lingkungan yang menghargai
kearifan ekologis tradisional. Aspek lain dari concern teologis-gerejawi
terhadap kemajemukan budaya di Indonesia Timur adalah realitas kebudayaan
tradisional sebagai lahan garapan industri pariwisata. Industri
turisme – yang juga terkait dengan masalah kelestarian lingkungan hidup
(dalam pariwisata alam) – menimbulkan berbagai dampak positif dan
negatif, yang terkait dengan pelayanan gereja dan pengembangan/pendidikan
teologi. Maka pengembangan teologi lingkungan yang
kontekstual di Indonesia bagian Timur terkait pula dengan pendampingan dan
pemberdayaan komunitas asli yang mengalami marginalisasi dalam pembangunan.
E. Kemajemukan Budaya.
Demikianlah maka
karakteristik realitas Indonesia bagian Timur yang dikemukakan di atas tidak
dapat dipisahkan dari kehidupan Gereja dan pendidikan teologi di Indonesia
bagian Timur. Karena itu, realitas itu merupakan konteks yang menantang
kreativitas pergumulan teologis dan arah dasar hidup beriman lembaga-lembaga
pendidikan teologi dan gereja-gereja. Sebagaimana disebutkan di atas,
belakangan ini para pimpinan gereja-gereja dan sekolah-sekolah teologi di
Indonesia bagian Timur (bahkan secara nasional, regional dan mondial) sedang
berusaha menghubungkan kehidupan bergereja dan pendidikan teologi dengan
berbagai realitas itu, namun masih secara sporadis dan pada tahap mencari
bentuk. Pada umumnya banyak warga gereja dan kalangan warga akademik
kampus-kampus teologi masih terasing dari konteks sosialnya dan kadang-kadang
mengalami split-personality (ketepecahan kepribadian) dalam penghayatan
iman dan pengembangan teologinya.
Dengan menyadari dan menjadikan
konteks gumulan teologis itu sebagai bagian integral dari hidup beriman dan
kesadaran berteologi maka gereja-gereja, jemaat-jemaat lokal dan pendidikan
teologi dapat menjadi agen-agen tranformasi (agents of transformation),
baik secara sosial-ekonomi, maupun sosial-budaya, keagamaan dan politik. OASE
INTIM dibentuk dalam rangka partisipasi mengembangkan kehidupan beriman dan
berteologi dari dalam realitas konteks Indonesia bagian Timur itu.
Pengembangan
OASE INTIM dalam lima tahun (2005-2009) dirancang dalam tiga dimensi yang
saling terkait, yaitu pengembangan program, pengembangan organisasi dan
pengembangan jaringan.
1.
Pendekatan Metodologis
Upaya
mengembangkan teologi kontekstual yang berangkat dari konteks pergumulan yang
diuraikan di atas dengan tujuan pemberdayaan praksis pelayanan gereja-gereja di
Indonesia Timur harus tercermin dalam pendekatan metodologis setiap program
OASE INTIM. Sebagai prinsip dasar dapat disebut:
(a) Prinsip bottom-up, yaitu metodologi yang berangkat dari
potensi dan kebutuhan semua peserta / komunitas di mana kegiatan sebagai sebuah
proses penggalian dan belajar bersama secara partisipatif, mulai dari
proses perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi.
(b) Prinsip life-long-learning,
yaitu metodologi yang berdasarkan pada cara belajar orang dewasa yang mencakup
dimensi intelektual, emosional, spiritual dan praktis (pendekatan holistik)
serta mengutamakan pemberdayaan keterampilan berteologi kontekstual
secara praktis.
(a)
Prinsip networking,
yaitu pertama: mengusahakan kesinambungan, kontinuitas dan peningkatan
dalam hal isi dan tujuan program-program, kedua: memperkuat jaringan
dengan semua pihak yang terlibat dalam program, di mana OASE INTIM sebagai
fasilitator tidak menjadi pusat melainkan katalisator dan pembangun
jembatan antara subyek-subyek teologi kontekstual di berbagai tingkat
praksis pelayanan dan pendidikan akademis yang saling memberdayakan.
2.
Jenis Kegiatan
Secara garis
besar, program-program yang direncanakan oleh OASE INTIM dapat dikategorikan
dalam empat jenis, yaitu penelitian, kajian, pelatihan dan penerbitan.
(a) Penelitian teologi
kontekstual yang memberdayakan dan melibatkan secara aktif potensi-potensi lokal.
Titik berat secara metodologis adalah observasi partisipatif, pendekatan induktif
(mengembangkan metode studi kasus - MSK) dan interdisipliner terutama
dengan ilmu-ilmu sosial.
(b) Kajian teologi
kontekstual yang berangkat dari pergumulan aktual dan menekankan aspek exchange
dalam bentuk dialog yang saling memperkaya seperti konsultasi teologi,
workshop, seminar dan diskusi bulanan.
(c) Pelatihan yang berfokus
pada pemberdayakan keterampilan yang dibutuhkan dalam praksis pelayanan.
(d) Penerbitan yang pada
awalnya lebih bersifat insidentil, terkait dengan publikasi hasil program
penelitian, kajian dan pelatihan tertentu yang dianggap layak dan relevan untuk
diterbitkan. Diharapkan bahwa dalam jangka waktu lima tahun OASE INTIM telah
mengembangkan penerbitan secara lebih sistematis, misalnya dalam bentuk jurnal
atau periodacal lain dan penerbit yang tetap (dengan akreditasi ISSN dan ISBN).
3.
Fokus dan Prioritas Substansi Kegiatan
Berangkat
dari analisa konteks berteologi dan menggereja di Indonesia Timur untuk
sementara dapat dirumuskan lima fokus tematis yang saling terkait sebagai
substansi program OASE INTIM sebagai berikut:
(a) Konteks Sosial-Budaya.
Prioritas jangka pendek adalah penelitian tentang interaksi antara
budaya-budaya lokal dengan teologi dan kehidupan gereja, yang langsung
digabungkan dengan pelatihan yang memberdayakan potensi-potensi lokal
dalam menggunakan metode-metode sederhana seperti MSK dalam menganalisa dan
merespon kasus-kasus yang berhubungan dengan interaksi tersebut. Dalam jangka
panjang, penelitian dalam konteks budaya lokal diharapkan dapat diperluas dan
memberi perhatian pada interaksi multikultural di Indonesia Timur serta
disalurkan dalam kegiatan kajian dan publikasi.
(b) Konteks Sosial-Politik.
Prioritas jangka panjang dan jangka pendek adalah merespon perkembangan dan
pergumulan aktual dalam kehidupan sosial-politik di Indonesia Timur, terutama
dalam bentuk kajian. Jika dianggap relevan, hasil kajian akan disalurkan
dalam bentuk publikasi.
(c) Konteks Agama-agama.
Prioritas jangka pendek difokuskan pada kajian perkembangan teologi
agama-agama dan praksis hubungan antar umat agama di Indonesia Timur. Dalam
jangka panjang diharapkan, kajian ini dapat diperdalam melalui penelitian
dan pelatihan serta publikasi.
(d) Keadilan Jender & Teologi
Feminis. Prioritas jangka pendek diletakan pada pelatihan dan kajian sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan
menggali pendekatan-pendekatan berteologi dengan perspektif perempuan. Dalam
jangka panjang diharapkan pelatihan dapat diintensifkan dan didukung
oleh penerbitan yang relevan.
(e) Praksis
Pastoral & Pendidikan. Prioritas jangka pendek maupun jangka panjang
adalah pada proses pemberdayaan melalui pelatihan. Dalam
jangka panjang ini dapat diperdalam oleh penelitian, kajian ataupun penerbitan
jika evaluasi pelatihan memperlihatkan kebutuhan ke arah tersebut.
Dengan menggunakan akronim
"5M" (Man, Machine, Money, Management, Material) dalam
organisasi, pengembangan OASE INTIM direncanakan dalam lima aspek, yaitu sumber
daya manusia (SDM), sarana pendukung, dukungan finansial, menejemen, dan
substansi aktivitas.
1. Sumber Daya Manusia
(SDM).
OASE INTIM mulai dengan para
penggagas dan seorang tenaga sekretariat sebagai pengurus yang disusun dalam
suatu struktur organisasi sebagai tim kerja. Dalam waktu dekat perlu ditetapkan pembagian tugas dan
tanggungjawab masing-masing secara lebih jelas. Selain
itu sejumlah rekan di dalam dan di luar negeri menyatakan kesediaannya untuk
terlibat dalam program-program penelitian, pengkajian atau pelatihan.
Untuk itu, proses rekrutmen dan tingkat-tingkat ikatan
rekan-rekan yang ingin bergabung atau bekerja sama dengan OASE INTIM tersebut
perlu dikembangkan bersama mereka. Diharapkan bahwa untuk
tugas-tugas administratif dan operational, lima tahun mendatang OASE INTIM
telah dapat mengerjakan dua atau tiga staf full-time. Mengingat peranan sumber
daya manusia (SDM) sangatlah penting dalam kesuksesan pengembangan suatu
organisasi, maka dalam waktu dekat ini dipandang mendesak pelatihan capacity-building
bagi staf OASE INTIM yang ada sekarang ini.
2. Sarana Pendukung.
Pada
pertengahan tahun 2005 direncanakan mengadakan suatu kantor sekretariat dengan
kelengkapannya (telepon, fax, komputer, dst), termasuk ruangan pertemuan untuk
20-30 orang, dengan menyewa sebuah rumah di tempat yang cukup strategis. Kalau
perkembangan OASE INTIM, kebutuhan serta dukungan dari luar memungkinkan, bisa
“diimpikan” lima tahun ke depan OASE INTIM dapat merencanakan
sebuah pusat studi dan pelatihan dengan berbagai fasilitas pendukung.
3. Dukungan Finansil.
Sementara
ini pembiayaan administratif OASE INTIM merupakan sumbangan-sumbangan pribadi
para pendiri dan pendukung, yang jumlahnya masih relatif kecil. Program-program
dalam waktu dekat diharapkan dapat membiayai dirinya sendiri dalam rangka kerja
sama dengan mitra lokal maupun mitra/sponsor dari luar. Untuk biaya rutin
(sekretariat, gaji, honorarium) lima tahun ke depan diharapkan dapat meyakinkan
sponsor tetap sebagai sumber yang menjamin kontinuitas pada masa awal. Dukungan
tersebut diharapkan membawa pada sebuah kemandirian dalam arti bahwa lima tahun
ke depan diharapkan biaya rutin dapat sebagian besar didukung oleh pemasukan
program (setiap budget program mengandung kontribusi biaya rutin +/- 10%).
Biaya program diharapkan baik dari sumber sponsor tetap (kemitraan jangka
panjang dalam common concern), sponsor untuk program tertentu (melalui
proposal yang diajukan langsung oleh OASE INTIM atau oleh gereja/institusi
gerejawi kepada mitranya), partisipasi finansiel atau materiel/jasa lain oleh
mitra kerja sama/pihak yang membutuhkan layanan OASE INTIM, serta kontribusi
peserta program. Dalam jangka panjang diharapkan bahwa beberapa program yang
"memberi untung" secara finansial dapat ikut membiayai program lain
dalam kerja sama dengan pihak yang tidak mampu memberi kontribusi finansial.
4. Menejemen/Pengorganisasian.
Gagasan-gagasan
pengembangan teologi kontekstual telah disemaikan dan diperkembangkan sampai
tiba waktunya untuk mendeklarasikan pembentukan OASE INTIM dengan suatu naskah
deklarasi pada 7 Februari 2005. Organisasinya dimulai dengan Pengurus dan
Sekretariat, yang akan diperlengkapi dalam waktu dekat dengan dokumen-dokumen
formal seperti Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta legalisasi
notaris. Evaluasi dan revisi kelembagaan harus dilakukan secara berkala sesuai
dengan perkembangan dan kebutuhan; salah satu pilihan yang akan dipertimbangkan
adalah status formal OASE INTIM sebagai Yayasan sesuai Undang-undang yang
berlaku.
5. Substansi Aktivitas.
Seperti
diuraikan dalam Visi dan Misi di atas, OASE INTIM bergerak dalam gagasan-gagasan
teologi kontekstual, yang terkait dengan penyadaran, pemberdayaan dan perubahan
(concientization, empowerment, and transformation) gereja dan pendidikan
teologi untuk menjadi komunitas beriman dan berteologi yang concern terhadap
masalah-masalah sosial-kemanusiaan.
OASE
INTIM telah lahir dari pergumulan dan komunikasi yang luas dan tidak terbatas
hanya pada para penggagas dan pendiri OASE INTIM. Setelah pendirian, pengenalan
dan sosialisasi telah dilakukan melalui persuaratan dan brosur, sebagai
undangan dan tawaran untuk bekerja sama dengan OASE INTIM dan ajakan untuk ikut
menggumuli dan mengembangkan bersama jaringan dalam visi dan komitmen bersama.
Dalam lima tahun ke depan akan menjadi tugas secara terus-menerus untuk
mengembangkan dan memelihara jaringan tersebut, yang dapat dikategorikan dalam
tiga arah yang saling terkait:
1. Jaringan "mitra yang dilayani".
Sesuai
bidang dan wilayah aktivitasnya, OASE INTIM pertama-tama berelasi dengan
gereja-gereja dan lembaga-lembaga di Indonesia bagian Timur, dan akan
menawarkan kerja sama dalam kegiatan-kegiatan lokal mereka. Titik berat adalah
pada "service" yang ditawarkan OASE INTIM kepada mitra lokal
ini, meskipun pendekatan menuju pada penggalian bersama dan OASE INTIM sebagai
katalisator dalam memberdayakan potensi-potensi lokal.
2. Jaringan "mitra kerja sama".
Jaringan
“mitra kerja sama” adalah jaringan kemitraan baik dari
lembaga-lembaga maupun individu-individu yang – secara insdentil (kerja
sama program) atau secara permanen – terlibat dan bekerja sama secara
langsung dalam program-program OASE INTIM atau dalam program-program bersama.
Titik berat adalah pada kerja sama substansi program yang lahir dari common
concern. Jaringan ini melibatkan baik lembaga-lembaga Kristen di dalam dan
dan di luar struktur gereja secara ekumenis, maupun lembaga-lembaga non-Kristen
yang relevan (misalnya NGO, lembaga pendidikan dengan latar belakang agama lain
dsb.).
3. Jaringan "mitra pendukung".
OASE INTIM berusaha membangun
relasi dengan badan-badan dan perorangan di dalam dan di luar negeri yang
bersedia menjadi mitra pendukung tetap, baik dari segi sumber daya maupun dana.
Kemitraan ekumenis ini – meskipun lebih bersifat "dukungan dari
jauh" – dibangun berdasarkan prinsip “sharing involvement
and common concern” baik secara permanen (dengan memory of
understanding - MOU) maupun secara insidentil (untuk suatu program tertentu
saja).
Demikinlah
arah dasar pengembangan OASE INTIM dalam lima tahun ke depan. Dengan harapan
bahwa melalui arah dasar pengembangan ini OASE INTIM yang dideklarasikan pada
tanggal 7 Februari 2005 itu akan
benar-benar menjadi oase-teologis yang memberi air segar
penyadaran, pemberdayaan dan
pembaharuan (concientization, empowerment, and transformation) sehingga
kekuatan-kekuatan sosial-budaya, agama, ekonomi dan politik itu di Indonesia
Timur dapat menjadi kekuataan yang memberdayakan warga Gereja dan warga
masyarakat serta lingkungan (ekologi) untuk mendukung kehidupan mereka sesuai
dengan harkat dan martabat manusia serta lingkungan sebagai ciptaan Allah
(bdk. Kej.
1-2:1-7).
Makassar/Jakarta, Maret 2005
Direktur,
Pdt. Dr. Julianus Mojau
Peserta Rapat Kerja:
Pdt. Dr. Julianus Mojau (Direktur)
Pdt. Marthen Manggeng, M.Th (Wakil Direktur)
Pdt. Aguswati Rambe-Hildebrandt, M.A (Bendahara)
Sdri. Christine Hutubessy, S.Th (Sekretaris)
Pdt. Dr. Zakaria J. Ngelow (Koordinator Program)
Pdt. Markus Hildebrandt-Rambe, M.Th (Koordinator
Program)
Pdt. Jilles de Klerk, M.Th (Koordinator Program)
Drs. Corrie van der Ven- de Klerk (Koordinator
Program)
Pdt. Yuberlian Padele, M.Th (Koordinator Program)